Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Travelling, Saatnya Bonding dan Memperluas Wawasan anak

MY STORY  |  OTHERS  |  TODDLER  |  27 Oct '19


"The best education you will ever get is travelling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences" -Mark Paterson-

Suatu hari saya pernah mendengar dari seorang ibu, "Kalau anak-anak di bawah umur 3 tahun diajak travelling nanti dia mana ingat pernah kemana."

Saya rasa, saya kurang setuju dengan pernyataan tersebut. Mungkin si ibu memiliki pertimbangan sendiri sehingga sampai berpendapat seperti itu. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengunjungi sebuah negara dengan mengajak seorang toddler dan keadaan saya sedang hamil 4 bulan kala itu. Saat sebelum berangkat, orang-orang terdekat meragukan apakah saya bisa. Tapi saya tidak khawatir, suami dan anak pertama saya lah yang meyakinkan saya.

Negara tujuan kami adalah Jepang, yang mana menempuh lama penerbangan dari Denpasar (Ngurah Rai International Airport, Badung) ke Narita adalah sekitar 7 jam. Sebenarnya saya akan mengikuti konferensi ilmiah dan paper saya dan teman lolos untuk dipresentasikan di Osaka. Sekalian saja saya ajak suami dan anak untuk liburan keluarga, karena kami memang dari dulu ingin pergi ke Jepang. Jadilah ini seperti menyelam sambil minum air ya. 

Awal perencanaan travelling saya belum hamil, namun bulan September saya ternyata positif hamil. Tambah dilema kan berangkat atau tidak ya, ditambah saat itu terjadi bencana alam di Osaka, tempat kami akan tinggal. Saya kemudian berkonsultasi dengan dokter kandungan, dan beliau ternyata mengijinkan saya pergi karena fisik dan keadaan kandungan saya sangat baik. Saya sebelumnya sempat membaca beberapa artikel bahwa usia minimum untuk bepergian dengan pesawat adalah 4 bulan. Namun dokter mengatakan itu tergantung dari fisik si ibu. Tentunya saya dengan ibu-ibu yang lainnya bisa berbeda keadaannya. Ijin dari dokter sudah diperoleh, berarti tinggal melengkapi hal-hal yang berhubungan dengan administrasi.

Dari awal persiapan, kami melakukannya dengan mandiri. Selama kami di Jepang tidak menggunakan tour guide, hanya bermodal google maps :). Pengurusan visa juga kami lakukan tanpa perantara, dan pengurusan visa ini paling tidak memakan waktu 2 minggu. Prosesnya tidak ribet ternyata, yang penting dokumen-dokumen sudah memenuhi persyaratan konsulat. Untuk penginapan, kami mencari lewat AirBnB dan memilih model apartement. Transportasi di Jepang sangat lumayan menguras kantong, sehingga kami membeli JR Pass untuk bepergian (harga JR Pass tahun 2018 sekitar 3 jutaan, saya membelinya di JTB, Bali).

Packing adalah hal yang paling penting dalam travelling. Bagaimana menyiasati agar semua barang bisa ringkas dibawa, dibarengi dengan teknik melipat baju ala-ala Marie Kondo tentunya. Apalagi saat saya dan keluarga pergi adalah menjelang musim dingin (kami pergi bulan November), jadi pakaian yang dibawa menyesuaikan dengan musim. Sebagai tips, saya menggunakan plastik yang bisa dipress untuk menghemat ruang dan saya hanya membawa 2 koper (1 besar dan 1 medium) dan tas gendong untuk keperluan si kakak. Pastikan gunakan koper yang tahan banting ya ibu-ibu.

Kebutuhan kakak yang kala itu berusia 16 bulan adalah yang paling utama kami pikirkan. Stok popok dan susunya harus cukup selama 8 hari dan baju-baju hangat yang cukup agar tidak kedinginan. Meskipun kami sempat kehabisan stok, untuk susu dan popok karena saya dan suami agak salah perhitungan. Untuk ibu-ibu yang akan travelling, perhitungkan baik-baik ya karena harga susu dan popok itu sangat lumayan harganya. Sedikit cerita, akhirnya kami beli susu formula yang bentuknya padat (Mereknya Meiji) dan popok (Omutsu) merek Genki yang kehabisannya pas tengah malam di Tokyo yang dimana tidak semua Lawson dan Family Mart menjual popok. 

Travelling ke Jepang ini merupakan negara ke 2 yang kami kunjungi (sebelumnya sudah mencoba travelling ke Singapore dan sukses). Kali ini memang sedikit berbeda karena bersama calon anggota keluarga baru. Apalagi kakaknya saat itu sedang lengket-lengketnya bersama saya. Jadi bukan sesekali dia ingin digendong. Adanya kesempatan ini sangat saya dan suami manfaatkan untuk lebih dekat dengan anak, mengenalkannya dengan hal-hal yang baru, dan melatihnya untuk percaya diri.

Bagi saya dan suami, tidak masalah mengajak anak travelling ke negara lain. Ada yang bilang nanti anaknya lupa kalau dia pernah jalan-jalan ke sana. Tapi saya dan suami berkomitmen bahwa jika kita terus bercerita saat kita travelling ke suatu negara atau pulau lain di Indonesia dan dengan melihat foto-foto serta video saat bepergian maka cerita-cerita itu akan diingat oleh anak. Kita lah yang membantunya untuk mengingat. Saya dan suami tidak pernah meremehkan kemampuan anak dengan mengatakan "ah, dia masih kecil tau apa" itu benar-benar kami coret dari cara mendidik anak kami. Kami menyetarakan diri dengan anak kami, walaupun kami sebagai orang tua yang hidup lebih dahulu, tapi kami berusaha untuk menjadikan anak kami sebagai partner, ya bagaimana bicara dengan suami atau dengan teman anda, namun ini versi bahasa yang lebih sederhana dan diperkaya dengan kata-kata yang positif.

Lalu, apa dampaknya? Ya mungkin tidak instan terlihat. Bagi saya melatih anak itu tidak dari dia lahir, tetapi dari dalam kandungan. Bisa jadi anak saya anteng selama perjalanan naik pesawat dan selama berada di sana karena saya juga terbiasa aktif saat hamil dan bertemu dengan banyak orang. Jadi, selama hamil tetap berkegiatanlah ibu-ibu yang penting tidak terlalu di force ya.

Sedikit demi sedikit apa yang kami lakukan terlihat sekarang. Anak saya semakin lancar bicara, ia sudah mulai bisa bercerita tentang apa saja yang ia lihat di sekitarnya dan berani berinteraksi dengan kawan seumurannya atau yang lebih tua darinya. Sampai saat ini kami pun masih memutarkan video dan menampilkan foto-foto saat kami travelling. Mudah-mudahan dengan cara ini, semua yang pernah ia lihat saat travelling terpatri di memorinya. 

Saya dan suami memang punya angan-angan mengunjungi banyak negara dengan keluarga kecil kami. Tujuannya adalah memperluas wawasan tentang manusia, kebiasaannya dan budaya, serta tempat-tempat yang bersejarah. Adanya hal-hal positif di setiap negara yang kami kunjungi dan akan kami kunjungi, kami jadikan sebagai tabungan serta referensi untuk mendidik anak-anak kami. Saya yakin, selain memperluas wawasan, anak juga bisa belajar bahasa selain bahasa ibu yang di mana itu akan sangat bermanfaat untuk masa depannya dan tentunya menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri.

Saya yakin, keberhasilan generasi setelah kita (di mana anak-anak saya tergolong generasi alpha) tergantung bagaimana didikan orang tuanya. Karena semua berakar dari keluarga, jika fondasi keluarga kuat, maka anak-anak kita pun punya iman yang kuat, berkarakter dan memiliki prinsip untuk menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Jadi ibu-ibu dan ayah sekalian, ajaklah anak-anak kita untuk travelling yang memang khusus untuk acara keluarga. Memang ribet dan lelah, tetapi inilah cara untuk menguji diri kita sendiri dan sebagai orang tua.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

140 Nanda Munidewi

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Pengalamanku Membawa 2 Balita Naik Pesawat Tanpa Khawatir Tentang Kenyamanannya

Ada beberapa tips yang saya terapkan ketika membawa anak naik pesawat

Tips Mengajak Anak Potong Rambut ala Mamagi

Moms, gimana sih caranya supaya anak mau dipotong rambutnya tanpa menangis dan gerak-gerak?

Playdate - Sosialisasi Ibu dan Anak

Playdate merupakan kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman yang juga mempunyai anak yang hampir seumuran.

Liburan Jadi Tidak Menyenangkan Karena si Kecil Mabuk Perjalanan?

Setiap liburan tiba, biasanya kita berusaha untuk meluangkan waktu sejenak untuk quality time dengan keluarga.

Review Tempat Wisata: The Ranch Cisarua Bogor

Butuh referensi tempat liburan? Mungkin tempat ini bisa jadi pilihan Moms dan keluarga untuk menikmati hari libur.

Tips Staycation Bersama Balita

Mengajak balita berlibur memang bukan hal yang mudah. Pertama dalam hal penentuan tempat berlibur.

Persiapan Ulang Tahun Pertama

Merayakan ulang tahun anak meski baru setahun, walaupun kata orang anak belum ngerti apa-apa tapi saya tetep merayakan

Pojok Bermain Versi Mom Risny untuk Zila

Banyak manfaat yang saya rasakan setelah membuatkan ruangan khusus untuk si Kecil main

Pergi Liburan Ke Kampung Halaman? Kenapa Tidak!

Siapa yang di akhir tahun pergi liburan? Siapa yang sejak punya anak rasanya jadi males pergi-pergi Moms?

Tips agar Batita Betah Diajak Nonton Konser

Menonton drama musikal tentu akan menjadi pengalaman yang seru sekaligus menyenangkan bagi anak.

Tips Mengajak Anak Liburan di Tempat Bermain Anak

Kita sebagai orang tua tentunya merasa sangat bahagia melihat tawa anak kita saat sedang bermain.

Mudahnya Bikin Paspor Anak!

Dulu kalau denger perpanjang atau bikin paspor pasti bawaannya uda males duluan ya Moms!

Yuk Wisata Edukasi di Ocean Dream Samudera!

Kalau biasanya kita suka hangout ke mall, sekarang setelah ada Sofia yang dicari adalah tempat wisata ramah anak.

Ide Hemat dan Sederhana Syukuran Ulang Tahun si Kecil

Sebagai orang tua, saya dan suami ingin membuat si Kecil merasakan kesan yang berbeda pada hari ulang tahunnya.

Tips Memilih Hotel yang "Kids-Friendly"

Hayo.. siapa disini moms yang suka travelling ngajak anak? Salah satunya saya sendiri.

Pertama Kali Terbang Berdua dengan si Kecil

Mau bepergian dengan si Kecil menggunakan pesawat untuk pertama kalinya? Yuk ikuti tips berikut agar perjalanan nyaman

Anak Suka Membenturkan Kepala Ketika Marah

Saat ini, Zabran sedang memasuki usia tantrum. Hampir setiap saat dia marah ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Family Time di Hutan, Why Not?

Jika Moms sudah bosan membawa si Kecil jalan-jalan ke playground di mall, mungkin bisa mencari cara baru.

Tips Happy Terbang Bersama Toddler

Bepergian bersama toddler kadang juga merepotkan ya Moms. Kita akan menemui banyak kejutan di perjalanan.

Rambut Anakku Kutuan!

Sangat tidak menyangka anak sulung saya, ketika berumur 3 tahun 8 bulan rambutnya bisa kutuan!