Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Tips Hadapi Perbedaan Karakter pada Anak

MY STORY  |  PARENTING  |  16 Apr '19


Memiliki anak lebih dari satu pasti akan mulai merasakan ada perbedaan karakter di antara keduanya. Masing-masing terlahir membawa sifat alaminya sendiri. Karakter ini disebut templet oleh salah seorang psikolog anak yang saya kenal.

Templet kakak dan adik yang berbeda membuat perlakuan yang kita berikan pun seharusnya berbeda pula dong ya. Tidak bisa disamakan. Bersifat adil bukan berarti memperlakukan kakak dan adik secara sama. Tetapi memperlakukan mereka sesuai kebutuhan dan sesuai dengan diri mereka masing-masing. Begitulah yang saya rangkum dari belajar soal konsep tentang anak bersama pakarnya.

Hal paling mendasar yang sering saya amati dari anak-anak untuk saat ini adalah

Anak benefit

Si kakak yang memiliki templet benefit (untung), lebih cenderung menginginkan sesuatu yang menguntungkan bagi dia. Bisa sangat termotivasi jika diberi pujian. Memberikan pilihan ke anak benefit ini, menurut saya dulu sedikit susah. Karena khawatir terlalu banyak mengiming-imingi anaknya dan khawatir over dalam memberi pujian. Jadi, akhirnya belajarlah untuk memberikan pilihan pada anak benefit ini.

Tips dan triknya untuk anak benefit. Dalam memberikan teknik memilih pada anaknya, selalu kasih pilihan mana yang lebih menguntungkan bagi anaknya. Bisa memberikan pilihan yang sama-sama merugikan dia sebenarnya, tapi pasti anaknya pasti akan memilih yang paling menguntungkan di antara pilihan yang tidak menguntungkan tadi. Syarat untuk bisa melakukan ini, anaknya harus sudah kelar belajar kecewa ya.

Contoh:

"Kakak kalo mau ikut ke mall, habiskan dulu makanannya." atau "Kakak harus menghabiskan dulu makanannya, jika mau ke mall."

Jika jalan ke mall adalah benefit yang dirasakan anaknya, dia akan berusaha untuk menghabiskan makanannya. Pernah gak anaknya gak memilih sama sekali? Ya, pernah dong ya. Yang berarti, trik saya kalah telak dari anaknya jika bukan hal itu yang menguntungkan bagi anaknya. 

Anak benefit, anaknya maunya lebih banyak untung dan cenderung memilih yang paling menguntungkan bagi dirinya. Misal, anaknya gak mau makan. Tapi menginginkan sesuatu yang dia senangi, jalan-jalan misalkan. Kita bisa kasi tawaran yang menguntungkan bagi dia. “Kakak mau ikut jalan-jalan?" Lalu anaknya mengangguk, "Kalo mau ikut jalan-jalan, habiskan dulu makanannya."

Mau gak mau kalo mau ikut, makanannya harus habis. Kalau si anak merasa dia mendapatkan keuntungan pasti dia akan melakukan, yaitu menghabiskan makanan. Tetapi jika dia merasa sedang tidak butuh jalan-jalan. Dia tetap tidak merasa untung mendapatkan itu hanya dengan menghabiskan makanan. Jadi harus cari pilihan lain.

Anak risiko

Sebisa mungkin menjabarkan risiko yang akan dia dapatkan dalam tawarannya. Sebenernya saya baru mulai paham sedikit-sedikit dengan templet risiko ini setelah mengenal adik (anak ke-2). Apapun yang saya tawarkan, blass gak mempan sama anaknya. Bedaa banget wataknya dengan kakak. Cara pendekatannya, dan segala macam hal yang dahulunya bisa diterapkan ke kakak, tapi tidak berlaku ke adik.

Risiko, itu yang perlu dijabarkan ke anaknya. Dan risiko yang kita berikan pun yang logis dan masuk dalam pikirannya. Misalkan, dengan kasus yang sama seperti kakak. Jika Moms tahu banget adik suka menonton. Moms mencoba untuk memberikan tawaran ke anaknya dengan kalimat. “Jika adik gak ngabisin makanannya, adik gak boleh nonton," atau "Adik gak boleh ikut pergi jalan ke mall (risiko kalo makanan gak abis)”. 

Ini di awal-awal butuh ekstra tenaga dan pendirian yang super kuat ke anaknya. Harus tega di awal. Butuh bener-bener berpikir keras apa ya kira-kira risiko yang bisa Moms jabarkan ke anaknya dan anaknya gak mau ngambil risiko itu. Karena anak risiko bisa saja menilai risiko yang kita berikan sanggup dia hadapi. Anaknya punya pendirian yang cukup kuat.

Jika risiko yang kita tawarkan tetap mau dia ambil dan dijabanin. Ya, Moms kalah telak. Kena skak sama anaknya sendiri. Seperti contoh di atas, anak pada awal-awal akan kekeuh gak mau menghabiskan makanan. Karena dia merasa sehat-sehat aja kok. Gak laper kok. Gak habis makanan dia tetap oke kok. Dan sebagainya. (ini nih kadang salah orangtuanya, saya maksudnya hehehe. Anaknya gak laper, jadi dia menilai tindakan orantuanya yang aneh yaitu maksa makan).

Hingga akhirnya dia merasa kelaparan dan gak siap sama lapar karena ngerasa risikonya perut ya laper (baru dia rasakan risikonya kalau gak makan ya lapar). Anaknya akan habiskan tanpa dikasih tau atau tanpa diajakin juga.

Jadi, anak risiko lebih tricky banget dan sedikit logis ngadepinnya. Kalau belum kepentok ya anaknya lanjut. Kalau belum ngerasain jatoh, anaknya tetep bersikeras manjat jendela, lemari, pintu dan sebagainya. Mau seberbusa apapun jika gak pas kalimat tawarannya. Ya lewat, begitulah anak risiko. Ngeri-ngeri sedap dan mesti keras berpikir ngasih pilihannya.

Pernah suatu kali pas adik caper ambil barang dan lempar-lempar (fase melempar). Sampai akhirnya kakinya sendiri kena barang yang dia lempar. Baru bisa disampaikan kalau dia lempar akan seperti ini dan itu. Baru agak sadar. Tapi itu gak bertahan beberapa lama. Karena kalau dia anggap gak terlalu berisiko ya tetap dia ambil kembali cara yang dia pikir oke tersebut  buat belajar (karena templet risiko adik ini diperkuat dengan tipe belajar adik yang kinestetik atau melakukan, ya jadilah anaknya dari bayi kalau mau mempelajari sesuatu yaitu dia kudu melakukan dulu, kalau gak gitu ya gak belajar bagi mereka). Hmm... masih terus banyak belajar sama karaker yang satu ini.

By the way, sebenernya saya juga termasuk orang risiko bukan orang benefit. Sadar ya, kalau apapun tawaran menguntungkan menurut orang yang dikasih ke saya dari jaman kecil dulu. Kalau saya mikirnya ga butuh dan ga penting ya saya akan bakalan tetap sama dengan pendirian sendiri. Berani ngambil risiko dan gak selalu nyari untung. Nyari keuntungan tiap-tiap orang pasti ada ya. Tapi templet risiko ini gak sekedar fokus pada hal itu saja.

Saya yang termasuk dalam templet risiko saja masih meraba-raba dan sedikit bingung ngadepin orang risiko. Semacam dikasih ujian buat ngaca sama diri sendiri hehe. Di saat anak benefit milih baju di lemari bersikeras pake baju A. Saya cari cara buat tawarin pake baju B.

Kasih aja tawaran yang bikin dia ngerasa untung pasti deh mau nurutin. Jadi terkesan memang sedikit jadi mengiming-imingi tetapi bukan ya. Kalau anak risiko, sampe berlumut mikirin tawaran buat ganti baju yang B misalkan. Susah minta ampun, baru setelah dia merasa gak nyaman atau gatel atau yang gak dia senangi dengan baju itu baru dia mau ganti.

Misalkan anaknya gak suka basah. Bajunya basah dia merasa gak nyaman dan mau ganti baju. Tapi, kalau anaknya nyaman saja dengan baju basah. Risiko apapun itu mau masuk angin atau apa. Dia jabanin dulu sampai ngerasa gak nyaman. Berasa gigit jari dan berbuih gak tuh ngadepin anak risiko ini?

Sekian dulu sharing soal templet anak ya. Menuliskan ini untuk belajar dan mengingat lagi untuk bisa menghadapi dunia anak di rumah masing-masing. See you di artikel selanjutnya Moms. Happy Parenting!

Semoga bermanfaat.

By: Mesa lindari

Copyright by Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1525 Mesa lindari

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Uang Sekolah Makin Mahal, Gimana Cara Mempersiapkannya?

Memberikan pendidikan terbaik bagi si Kecil merupakan salah satu kewajiban utama Moms & Dads.

It’s Okay to Not Be Okay

Dalam mengasuh anak, tentu Moms mengharapkan si Kecil tumbuh menjadi pribadi dengan kondisi fisik

Tips Praktis Memompa ASI di Kantor

Hai Moms, Meskipun pandemi virus corona belum berakhir, tapi banyak dari kita yang sudah

Tips Menghindari Toxic Parenting

Hai Moms, Siapa disini yang minggu lalu nonton Babyo Channel Ngobrol Bareng Babyo dengan topik

Ketika Dads Sibuk dengan Hobinya

Setiap hari Jumat, sekarang Babyo Connect memiliki "Apa Kata Moms?" yang akan membahas topik yang terasa tabu Moms bahas, atau uneg-uneg yang [...]

Anak Umur 2 Tahun Belum Bisa Ngomong, Wajarkah?

“Anaknya 2 tahun? Sudah bisa ngomong belum? Oh, speech delay? Sama donk seperti anak saya. Gpp nanti usia 3 tahun juga bisa sendiri.”

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebagai Working Mom

Menjadi seorang working Mom tentunya memiliki tantangan tersendiri. Yuk simak tips dari Mom Inayah berikut ini.

Hal yg Bisa Dilakukan untuk Mengisi Kegiatan si Kecil di Rumah Selama Pandemi

Moms, yuk simak aktvitas yang bisa dilakukan di rumah bersama si Kecil berikut ini.

Fiersa is Turning One

Merayakan ulang tahun pertama pastinya adalah moment yang tidak bisa dilewatkan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Caraku Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Rumah tangga yang harmonis pasti sudah menjadi dambaan pasutri. Simak tips berikut ini yuk Moms and Dads!

Caraku Mengatur Keuangan Keluarga di Kondisi Pandemi

Di tengah-tengah pandemi ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak keluarga yang terdampak secara ekonomi. Simak tips berhemat berikut ini yuk!

Punya Anak Perempuan Lebih Boros?

Hayo siapa yang punya anak perempuan dan merasa boros karena beli barang-barang lucu atau baju untuk Si Kecil? Sebenarnya boros tidaknya [...]

Cerita Sibling Goals di Usia Berdekatan

Bagaimana ya caranya agar kakak adik rukun? Yuk, simak cerita berikut ini.

Mengajarkan Kemandirian Sejak Dini Penting Gak Sih Moms?

Mengajarkan si Kecil untuk mandiri sedari dini memiliki banyak manfaat loh Moms. Yuk, simak berikut ini.

Ide Kreatif Bermain Saat Mati Lampu

Mati lampu memang menjadi kondisi yang kurang nyaman. Namun, Moms bisa memanfaatkan kondisi ini untuk barmain dengan si Kecil.

Suamiku Ayah ASI! Yuk Tanamkan Positif Mind!

Hai para istri, yuk belajar cara merayu suami agar mau untuk menjadi ayah ASI berikut ini!

Pengalaman Lebaran Pertama Tanpa Keluarga

Meskipun jauh dari sanak saudara, Lebaran sudah seharusnya menjadi momen yang dirayakan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Setahun Bersama Babyologist

Moms, yuk simak pengalaman Mom Dinar setahun bersama Babyo berikut ini.

Menjadi Istri dan Teman Bagi Suami di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 ini sangat berdampak pada ekonomi keluarga. Yuk belajar jadi Istri yang baik dan teman bagi suami kita.

Semakin Harmonis Di Masa Pandemi

Moms and Dads, yuk simak tips untuk semakin harmonis selama masa pandemi ini.