Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Speech Therapy ala Mom Febby (Part 2)

MY STORY  |  PARENTING  |  11 Oct '18

Kali ini saya akan menyambung cerita sebelumnya mengenai speech therapy (baca: Speech Therapy ala Mom Febby (Part 1)). Sebenarnya, fokus awal saya adalah soal Emily yang tidak bisa naik tekstur.

Saat itu, terapisnya menyuruh untuk melakukan speech teraphy dan terapi sensorik. Sempat bingung juga, apa hubungannya? Karena kemampuan bicara Emily bukan fokus utama, yang saya mau adalah dia bisa menelan makanan rumahan, bukan makanan yang diblender.

Karena selama ini Emily masih makan makanan bertekstur cair, jadi otot rahang dia tidak dilatih untuk mengunyah. Ini penyebab kemampuan bicara dia lebih tertinggal dibanding Clinton, kakaknya. Jadi, speech therapy bertujuan untuk menguatkan otot wajah, rahang dan lidahnya.

Selain untuk melatih bicara, speech therapy juga bermanfaat untuk menelan. Waktu masih pendidikan di Rumah Sakit, saya sering melihat pasien stroke yang diterapi wicara. Saat berbicara tidak jelas (pelo), dan menelan pun mereka tidak bisa. Setelah diterapi berkali-kali, lumayan ada kemajuan, bicaranya jadi lebih jelas dan jadi bisa menelan.

Bagaimana Cara Massage-nya?

Moms hanya perlu memijat bagian pipi, dagu dan di bagian antara hidung dan bibir atas. Lakukan massage ini selama beberapa kali. Saya sering massage dia saat sedang tidur, dan tidak sampai membuat dia bangun. Selain itu, sikat gigi juga disarankan untuk melatih saraf-saraf di mulutnya, juga untuk mengenal tekstur kasar. Awalnya Emily juga sering jijik dengan sikat gigi, tapi sekarang sudah lumayan, ia mau menyikat gigi sendiri. Diharapkan dengan speech therapy ini, dia jadi bisa lebih luwes bicaranya dan lebih tidak sensitif.

Terapis juga menyarankan untuk bermain dengan dacron, jadi saya berikan dacron dan meminta Emily memasukkannya ke botol. Jadi, terapi untuk hipersensitifnya tidak hanya berpusat di mulut saja, tapi bisa dari anggota badannya.

Buat Moms yang ingin tahu anaknya sensitif atau tidak, bisa dicoba dengan meletakkan anak di atas rumput. Kalau dia langsung menarik kakinya atau terlihat seperti ketakutan, boleh sering-sering dilatih sensoriknya agar tidak sensitif lagi.

Untuk sekarang, bagaimana cara Emily makan? Masih diblender dan dimasukkan ke dalam dot atau memakai cup feeder. Awalnya saya berpikir hanya Emily yang mengalami hal ini. Tapi ternyata setelah sharing di Instagram Story terkait hal ini, banyak sekali hal serupa yang dialami oleh para Moms lainnya. Bahkan ada yang sampai usia sekolah masih belum bisa makan tekstur kasar, kalau dipaksa justru semua dimuntahkan.

Semoga bermanfaat. 

By: Febby haryono

411 Febby haryono Send Message to Writer

Related Stories