Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Review Buku Jatuh Hati pada Montessori - Vidya Dwina Paramita

GROWTH & DEVELOPMENT  |  MY STORY  |  PARENTING  |  REVIEWS  |  14 Feb '19

Montessori. Berkenalan dengan istilah Montessori baru seumur jagung. Kenalannya lewat the source of ibu-ibu muda masa kini, Instagram. Awalnya saya bingung, banyak yang share bikin dan main ini itu sama anak dan mengatakan bahwa itu Montessori. Ada juga yang jual berbagai mainan kayu Montessori. Tapi saya sendiri belum paham betul apa itu Montessori, bagaimana pola asuh dengan Montessori. Akhirnya, saya memutuskan untuk cari tahu dari buku. Kenapa buku? Simply agar saya tidak pusing dengan berbagai sumber dan bisa lebih fokus. Kenapa saya mulai dari buku ini? Karena saya tahu mbak Vidya dari salah satu akun sekolah Montessori yang saya follow di Instagram, Rumah Krucil. Beliau merupakan Montessorian yang menjabat sebagai Direktur Akademis di sekolah tersebut. Begitu tahu beliau menulis buku, bukunya langsung jadi incaran saya. Jika ada yang tertarik dengan buku ini, silakan bisa cek review saya berikut.

Resume

Judul: Jatuh Hati pada Montessori – Seni Mengasuh Anak Usia Dini
Penulis: Vidya Dwina Paramita, seorang Montessorian dan praktisi pendidikan anak usia dini.
Penerbit: B first (PT Bentang Pustaka)
Distributor: Mizan Media Utama
Tahun Terbit: September 2017
Cetakan: Keempat, Maret 2018
Jumlah Halaman: viii + 216 halaman
Harga: Rp49.000 (Gramedia)

Buku ini terdiri dari 11 bab:

  1. Pada Mulanya
  2. Apa atau Siapakah Montessori?
  3. Pentingnya 6 Tahun Pertama Kehidupan
  4. Penemuan-penemuan Penting Dr. Maria Montessori di Cassa de Bambini
  5. Filosofi Montessori
  6. Pentingnya Pengajaran dalam Lima Area Montessori
  7. Peran Seorang Guru Montessori
  8. Metode Montessori Membantu Saya Berinteraksi Positif dengan Anak
  9. Tip Memilih Sekolah untuk Anak Usia Dini
  10. Tentang Resah Berpisah
  11. Pada Akhirnya

Bab 5 Filosofi Montessori adalah bab yang paling besar. Setelah saya membaca bab ini, saya baru menyadari ternyata banyak sekali yang saya belum tahu. Pada bab ini membahas:

  • Pentingnya menghormati anak. Bahwa cara merespons anak adalah salah satu indikasi apakah kita sudah menghormati dan menghargai anak sebagai individu.
  • Pentingnya memahami konsep "bebas terbatas" dan follow the child, yang kadang suka salah kaprah.
  • Pentingnya tidak membandingkan tumbuh kembang anak dengan anak lain.
  • Hubungan antara self-correction dan suka menyontek.
  • Pentingnya kolaborasi, bukan kompetisi. Bahwa anak hingga usia 6 tahun butuh eksplorasi dan anak butuh percaya orang-orang yang ada di sekitarnya mendukung kebutuhan tersebut.
  • Berbagai poin lain yang bikin saya "melek".

Kemudian, dari berbagai filosofi yang dijabarkan, dikaitkan juga dengan berbagai kegiatan di kelima area Montessori yang penuh makna dan saling berkaitan. Selain itu, sebagai seorang praktisi pendidikan anak usia dini, mbak Vidya juga menuliskan mengenai peran guru Montessori dan apa yang bisa menjadi pertimbangan kita dalam memilih sekolah anak usia dini.

Review

Saya suka banget buku ini. Mbak Vidya mengupas Montessori secara jelas dan dengan bahasa yang ringan dan tajam. Cocok untuk orang yang awam dengan Montessori. Mbak Vidya berhasil memberikan gambaran utuh dan menjelaskan kenapa Montessori menjadi sangat masuk akal.

Yang saya suka dari buku ini:

  • Bahasanya tidak bertele-tele, terstruktur dan mengalir.
  • Tiap kalimat penting sudah ter-highlight. Jadi kalau mau re-read bisa lebih cepat menemukan poin-poin utamanya.
  • Tidak condong sebelah. Maksudnya, meskipun mbak Vidya adalah seorang praktisi, pengajar, dan pengelola sekolah usia dini, tapi beliau secara implisit mengatakan bahwa baik bersekolah ataupun tidak adalah pilihan orang tua sebagai pendamping tumbuh kembang anak, yang beliau yakini sama-sama baik. Yang penting tujuannya adalah memfasilitasi kebutuhan anak pada periode awal kehidupannya.

Manfaat Buku Ini

  • Memberikan gambaran umum tentang Montessori.
  • Memberikan saya gambaran tentang sekolah usia dini, terutama tentang what to expect from Montessori school.
  • Sebagai mind-opener dan menambah wawasan bagi orang tua dalam memahami periode tumbuh kembang anak demi mengoptimalkan potensinya.
  • Membantu saya memahami aksi anak dan memberikan respons yang sesuai. Bukan berarti saya langsung berubah menjadi malaikat bersayap putih yang tersenyum sepanjang hari. Tapi setidaknya saya bisa lebih santai menghadapi aksi anak yang lucu nan menegangkan. Ini penting lho! Agar kewarasan ibu tetap terjaga.
  • Memberikan saya ide dalam menerapkan filosofi Montessori pada kegiatan-kegiatan kecil di rumah.

Akhir Kata

Karena buku ini, akhirnya saya mampir ke Rumah Krucil dan coba kelas di sana. Dan terasa sekali penerapan Montessori.

Ada satu momen ketika anak saya, 20 bulan, berusaha mengambil gong yang sedang dimainkan seorang kakak. Sakha, walaupun sudah diajarkan kalimat sederhana "boleh pinjam?" Tapi mungkin karena saking girangnya dia pergi ke sekolah waktu itu, jadi ingin pegang-pegang semua. Ingin observasi. Jadi ia tidak mengatakan kalimat "boleh pinjam?" itu kepada sang kakak.

Kemudian, saya dengar sang kakak bilang begini pada anak saya, "Maaf tapi hari ini aku sedang tidak mau berbagi" (di sini saja saya sudah merasa amaze, seorang anak usia 3-4 tahun bisa melakukan penolakan dan disampaikan dengan baik). Diikuti dengan adegan anak saya memukul gong sambil senyum-senyum.

Melihat itu, kemudian ibu guru memanfaatkan momen tersebut untuk pembelajaran bagi kakak dan anak saya. Beliau bertanya lagi pada sang kakak, "adik boleh pinjam?" Sang kakak kembali menjawab bahwa ia hari ini sedang tidak mau berbagi. Bu guru kemudian memberikan solusi "kalau begitu, boleh adik pukul gong sampai 10?" Sang kakak mengiyakan (di sini saya amaze lagi, sang kakak percaya bahwa ada solusi dalam suatu masalah dan mau berbesar hati dalam kondisi yang tidak mengenakkan). Kemudian semua berhitung hingga 10 dan anak saya tentu dengan semangat memukul gong tadi diiringi hitungan 1 sampai 10.

Ajaibnya, anak saya berhenti memukul ketika hitungan 10. Antara kebetulan atau memang anak kecil sebetulnya mengerti apa yang kita sampaikan. Tapi seketika itu saya percaya bahwa kita perlu istikamah dalam menjalani pengasuhan yang baik untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

"Melalui anak-anak, kita selalu punya harapan." – Vidya Dwina Paramita.

 

Semoga bermanfaat.

By: Wulan Apriliyanti

Copyright by Babyologist

2011 Wulan Apriliyanti

Comments

Related Stories