Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Q&A Seputar ADHD, Autism, dan Down Syndrome

OTHERS  |  PARENTING  |  13 Feb '18

Di bulan Januari lalu, Babyologist mengangkat issue mengenai ADHD, Autisme dan juga Down Syndrome yang belakangan tidak asing lagi bagi banyak orang tua di Indonesia. Kami bertanya kepada Priscilla Vikananda yang merupakan seorang Behaviour Technician dan Early Childhood Specialist di Chrysallis Pediatric Development Facility. Berikut adalah rangkuman dari perbicangan kami, semoga dapat membantu.

1. Apa bedanya ADHD, Autism dan Down syndrome?

Secara umum, ADHD dan Autism Spectrum Disorder dapat dikategorikan sebagai neurodevelopmental conditions. Hal ini berarti seorang individu yang mempunyai ADHD ataupun Autism Spectrum Disorder mempunyai cara kerja otak yang sedikit berbeda. Lain halnya dengan Down Syndrome, yang merupakan genetic disorder dimana ada kelainan kromosom pada individu tersebut. Symptoms atau ciri-ciri ADHD dan Autism Spectrum Disorder memang seringkali terlihat mirip sehingga banyak orang mengalami kesulitan untuk dapat membedakannya. Namun beberapa ciri-ciri utama untuk dapat membedakan ADHD dan Autism Spectrum Disorder adalah sebagai berikut:

ADHD:

  • Sering terdistraksi, mempunyai kesulitan dalam mengikuti instruksi
  • Lebih mudah tantrum atau marah karena frustrasi atau ketidakmampuan untuk mengontrol impuls
  • Mengalami gangguan dalam organization skill dan menyelesaikan tugas
  • Mengalami kesulitan dalam berinteraksi secara sosial
  • Sulit menunggu giliran
  • Mempunyai kebutuhan gerak yang tinggi
  • Cenderung disruptif dan sulit membaca tanda-tanda non-verbal

ASD:

  • Menghindari kontak mata atau kontak fisik (bahkan dengan anggota keluarga terdekat)
  • Seringkali mengalami keterlambatan dalam bicara (atau tidak bicara sama sekali) atau sering mengulangi kata-kata yang sama berulang-ulang
  • Lebih mudah mengalami meltdown karena masalah dalam sensory processing, gelisah, atau kesulitan dalam berkomunikasi 
  • Gerakan badan yang berlebihan untuk menenangkan diri (contoh: bergoyang-goyang, tepuk tangan, menutup telinga, dll)
  • Lebih sulit untuk bersosialisasi
  • Mempunyai ketertarikan yang berlebihan, bahkan cenderung obsesif terhadap sesuatu (contoh: binatang, kereta, tiang listrik, dll)
  • Mempunyai kesulitan untuk mengerti perasaan orang lain dan juga mengungkapkan perasaan sendiri
  • Mempunyai reaksi yang kuat (seringkali cenderung negatif) terhadap suara, bau, rasa, maupun masalah sensory tertentu.

2. Mengapa ADHD, Autism dan Down syndrome bisa terjadi?

Belum ada yang dapat mengatakan secara pasti mengapa ADHD dan Autism Spectrum Disorder dapat terjadi. Secara umum, ADHD, ASD dan Down syndrome terjadi karena adanya kelainan genetik. Namun, tiap kasus mempunyai resiko genetik dan faktor lingkungan yang kompleks, yang akhirnya mempengaruhi perkembangan otak pada usia dini. Beberapa resiko faktor yang dapat berkontribusi dalam terjadinya ADHD & ASD termasuk: usia orangtua saat pembuahan, penyakit yang terjadi dalam kehamilan, kelahiran prematur, konsumsi rokok dan obat-obatan saat kehamilan dan paparan kimia saat kehamilan. Perlu diperjelas bahwa faktor-faktor diatas tidak menyebabkan ADHD & ASD, tetapi dengan faktor resiko genetik yang ada pada anak-anak tertentu, hal tersebut dapat meningkatkan resiko ASD & ADHD.

3. Betulkah makanan yang dikonsumsi ibu hamil selama kehamilan dapat menyebabkan kelainan tersebut? 

Seperti yang disebutkan diatas, kualitas kehamilan dapat meningkatkan resiko Autism dan juga ADHD. Walaupun faktor resiko tidak menyebabkan kelainan genetik, sangatlah penting untuk menjaga kualitas kehamilan terutama mencegah exposure terhadap chemical tertentu seperti pestisida dan obat-obat tertentu. Sebagai tindakan pencegahan, ibu hamil dapat menjaga kualitas kehamilan dengan beberapa cara sebagai berikut:

  • Hindari konsumsi obat-obatan selama masa kehamilan. Jika perlu, konsumsi obat hanya dengan konsultasi dokter.
  • Hindari rokok dan alkohol karena kedua hal tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak baik untuk janin. 
  • Konsumsi produk segar, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan organik yang belum diproses dan kurangi makanan siap saji. Sebelum mengkonsumsi sayur/buah cucilah terlebih dahulu tuntuk mengurangi kemungkinan kontaminasi pestisida atau microbial.
  • Batasi konsumsi ikan-ikan yang mempunyai kandungan merkuri dan timah yang tinggi.

4. Apakah ADHD, Autism dan Down syndrome hereditary?

Riset yang dilakukan sampai saat ini memang membuktikan adanya bukti inherited gene variations pada individual dengan kelainan genetics. Tetapi dengan kasus-kasus yang ada, experts belum dapat mengatakan bahwa kelainan ini disebabkan 100% dari genetik. Namun, kombinasi dari faktor-faktor lingkungan dan inherited gens ini lah yang mendukung terjadinya kondisi kelainan pada anak-anak.

5. Tindakan apa yang dapat orang tua lakukan untuk membantu anak mengatasi ADHD, Austism, dan Down Syndrome?

Ada beberapa hal yang orang tua bisa lakukan:

  1. Educate yourself. Di Indonesia, masih banyak stigma dan informasi-informasi yang keliru mengenai kondisi genetik ini. Cari informasi dan berkonsultasi dengan professionals yang bergerak di bidang ini seperti Dokter Anak maupun Psikolog.
  2. Tentukan tindakan intervensi apa yang paling cocok dilakukan untuk membantu anak anda. Ada banyak jenis intervensi yang dapat dilakukan, namun orang tua lah yang paling mengenal anaknya, pilihlah jenis intervensi yang paling cocok dan baik untuk perkembangan anak anda.
  3. Mulailah sedini mungkin. Intervensi yang dilakukan sejak usia dini akan berdampak sangat positif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus.

6. Sebagai orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menjadi orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus tentunya adalah tantangan yang besar. Apalagi di Indonesia, dimana fasilitas-fasilitas yang mendukung masih cenderung kurang dan terbatas. Akan tetapi, ada beberapa hal yang orang tua dapat lakukan untuk tidak hanya mendukung anak, tapi juga membantu mereka menghadapi tantangan menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Pertama-tama, acknowledge your feelings. It's okay untuk merasa kaget, menolak dan bahkan merasa marah. Tetapi, cobalah untuk mengatasi perasaan tersebut dengan mencari support system dan cari informasi-informasi yang berkualitas dan dapat mendukung anak anda. Jika perlu, ada beberapa psikolog yang dapat membantu orang tua untuk menghadapi tahap awal setelah diagnosa dilakukan. Terakhir, take care of yourself. When you help yourself, you will be able to help your child overcome their own limitations.

7. Di Indonesia, apakah ada fasilitas yang mendukung pertumbuhan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus? Are they easily accessible?

Untuk saat ini, mulai ada banyak fasilitas-fasilitas yang mendukung pertumbuhan anak berkebutuhan khusus. Ada beberapa pusat terapi, konseling, dan juga sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Di Indonesia, awareness terhadap issue inipun sudah lumayan bertambah. Akan tetapi, tidak semua fasilitas ini accessible dan sulit untuk menemukan program yang benar-benar berkualitas. Oleh sebab itu, disarankan kepada orang tua untuk berkonsultasi kepada professional dibidang ini seperti Dokter Anak, Klinik tumbuh kembang anak dan bahkan Psikolog untuk dapat memberikan saran tentang fasilitas yang dibutuhkan dan yang paling sesuai dengan kondisi anak.

By: Babyologist Editor

BACA JUGA: Tips Agar Anak Cepat Tertidur Pada Malam Hari

10300 Babyologist Editor Send Message to Writer

Related Stories