Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Preeklamsia Menghantar Saya pada Proses Kelahiran Sesar

MY STORY  |  PREGNANCY  |  16 Dec '18

Diberikan kepercayaan untuk hamil adalah hal terindah bagi saya. Meski ini bukan pertama kalinya. Ini kehamilan ketiga saya untuk anak kedua (kehamilan pertama keguguran dan kehamilan kedua lahir hidup). Harapan saya ingin seperti kelahiran putra pertama saya, melalui proses normal. Namun, kenyataan berkata lain, pre-eklamsia mengharuskan saya untuk melakukan persalinan dengan cara operasi sesar.

Ceritanya dimulai sejak kehamilan saya memasuki usia 30 minggu. Seperti biasanya, saya dan suami melakukan kunjungan ke SPOG untuk melihat perkembangan sang buah hati. Ternyata hasil tensi saya tinggi (130/110), dokter menyarankan saya untuk cek protein urine dan hasilnya negatif. Puji Tuhan.

Tapi pada usia kehamilan 34 minggu, saya mengalami sakit kepala migrain dan kaki bengkak. Suami membawa saya ke rumah sakit untuk periksa, tensi saya 160/120 dan protein urine negatif. Tetapi saya diharuskan dirawat inap untuk menurunkan tensinya dan mencegah kejang akibat tensi tinggi. Puji Tuhan 2 hari 1 malam saya dirawat, diperbolehkan pulang dan dapat melanjutkan proses kehamilan hingga HPL tiba.

Masuk usia kehamilan 36 minggu saya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami kontraksi, pinggang saya sakit, perut mulas seperti ingin melahirkan. Di perjalanan pun saya beberapa kali muntah. Saat tiba di rumah sakit, tensi saya 200/120. Para suster kaget melihat hasilnya, kok saya masih kuat padahal tensi sangat tinggi. Tapi hasil pemeriksaan belum menunjukkan adanya kontraksi dan pembukaan jalan lahir. Hasil CTG pun bagus, frekuensi detak jantung janin normal dan gerakannya aktif.

Saya diberikan obat penurun tensi dan infus anti kejang. Tensi saya tidak turun-turun, selalu di atas 170/120. Dokter pun bilang saya harus segera mendapatkan tindakan sesar agar saya dan bayi selamat. Saya bilang ke suami untuk tidak dioperasi dan mohon untuk menunggu tensi turun. Kurang lebih 17 jam saya dirawat namun tidak ada perkembangan baik, saya minta ke suami untuk pindah ke rumah sakit lain agar mendapatkan second opinion (dapat meneruskan kehamilan atau tidak SC).

Di rumah sakit ini, tensi saya justru naik dari pemeriksaan terakhir di rumah sakit sebelumnya. Dan hasil test pada protein urine saya sudah di angka 2 (terus naik hingga akhirnya di angka 4). Namun saya tidak langsung mendapatkan tindakan operasi, saya ditempatkan di ruang observasi.

Memang sudah jalan dari Tuhan, kali ini saya harus melahirkan secara sesar. Saya disuruh untuk berpuasa karena keesokannya akan dijadwalkan operasi pada pukul 9 pagi. Sedih, kecewa dan takut menyelimuti perasaan saya kala itu. Puji Tuhan, suami saya selalu memberikan kekuatan untuk saya. “Sebentar lagi ketemu ade, jangan nangis” kata suami saya.

Tidak pernah saya membayangkan akan melahirkan secara sesar, karena sebelumnya saya dapat melahirkan secara normal dan tidak ada riwayat darah tinggi (dari keluargapun tidak ada). Dan sampai saat ini pun saya tidak tahu penyebabnya hingga saya dinyatakan pre-eklamsia.

Saya terlalu takut untuk masuk ke ruang operasi, takut setelah melahirkan tidak dapat merawat luka sesar, takut proses penyembuhannya lama, dan lain sebagainya.

Tapi inilah jalan Tuhan untuk saya dapat melihat putra kedua saya. Melihat Rushel saat ini tumbuh dan berkembang dengan sehat membuat saya melupakan semua trauma kehamilan dan persalinan kali ini, meski kadang masih nyeri pada bekas luka operasi sesar.

Semoga bermanfaat.

By: Agatha Revindra widori

Copyright by Babyologist

341 Agatha Revindra widori

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Usia Anak Pertama Baru 6 Bulan, Sudah Hamil Lagi?

Yuk Moms simak cerita Mom Irna yang hamil lagi ketika anak pertamanya masih berusia 6 bulan.

Bangkit dari Kehamilan Kosong, Hamil Tapi Tidak Ada Janin di Rahim

Meski sempat mengalami kehamilan kosong, Mom Lisa akhirnya bisa hamil kembali dengan cara ini.

Morning Sickness Sepanjang Kehamilan, Amankah?

Normalkah jika mengalami morning sicknness hingga menjelang persalinan?

Tak Takut Saat Persalinan Normal

Agar tidak takut menjalani persalinan normal, yuk coba ikuti tips dari Mom Belina ini, Moms!

Kekhawatiran Persalinan Dengan Riwayat Mata Minus

Mom-to-be dengan riwayat mata minus rentan untuk melahirkan secara normal. Sebetulnya hal apa yang dikhawatirkan oleh para medis? Mari simak [...]

Bolehkah Menggendong Anak Balita Saat Hamil?

Bolehkah menggendong anak yang masih balita ketika kita sedang hamil? Yuk simak cerita dan tips dari Mom Mariesta berikut ini.