Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Penyebab dan Cara Menangani Tantrum

PARENTING  |  20 Oct '17

Pertama kali dengar kata "tantrum", saya sangat tidak familiar. Jujur, baru denger kata itu pas udah jadi Mommy. Habis itu yah browsing lah cari tau, apaan sih itu. Sharing ini saya rangkum dari berbagai artikel yang saya baca.

Tantrum atau temper tantrum adalah suatu kondisi ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan dalam beberapa kasus, kekerasan. Tantrum sebenarnya adalah kejadian yang normal dialami oleh balita, umumnya dialami oleh anak-anak usia 1-4 tahun, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak dengan usia di atas itu, atau bahkan pada bayi. Kendati menyeramkan, tantrum pada anak merupakan salah satu cara belajar anak untuk berkomunikasi secara efektif dengan orangtua dan lingkungannya.  Namun orangtua tetap perlu tau bagaimana cara mengatasi tantrum karena jika dibiarkan terus-menerus maka dikhawatirkan akan meningkat menjadi tindakan tantrum yang membahayakan diri anak sendiri maupun orang sekitarnya.

Sebelumnya, kita perlu tau dulu apa saja yang menyebabkan anak menjadi tantrum. Beberapa penyebab tantrum antara lain :

  1. Terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka
  2. Ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja
  3. Perasaan tertekan yang dialami oleh anak sehingga melepaskan stress yang dialaminya, contohnya ketika seorang anak kelelahan karena perjalanan yang panjang dan jauh atau karena kelaparan.
  4. Pola asuh orangtua dimana anak terlalu dimanjakan namun tiba-tiba keinginannya ditolak

Orangtua yang anaknya sudah pernah mengalami tantrum, bisa melakukan pencegahan sebelum hal itu terjadi lagi. Caranya antara lain :

  1. Jelas dan konsisten
    Buatlah kesepakatan sederhana dan jelaskan pada anak mengenai hal itu. Orangtua harus konsisten dan anak perlu tahu konsekuensi yang akan ia hadapi apabila aturan tersebut tidak dilaksanakan. Orangtua secara konsisten menjalankan rutinitas sehingga anak mengerti apa yang dapat dan tidak dapat ia lakukan.
  2. Mengantisipasi atau plan ahead
    Orangtua harus mengenal situasi yang akan membuat anak tantrum.  Dengan begitu orang tua dapat mencegah dan mempersiapkan kebutuhan anak sebelumnya. Misalnya : menyiapkan makanan dan mainan anak di mobil untuk menghadapi jalanan macet dan bosan.
  3. Empati : Mendengar dan Menerima Perasaan Anak
    Memahami perasaan anak berarti orang tua mau mendengarkan dan tidak mengambil keputusan sepihak untuk anak. Orangtua hendaknya lebih banyak mendengarkan ketimbang menjejali anak dengan berbagai pertanyaan. 
  4. Beri Pilihan
    Beri anak kesempatan untuk membuat keputusan
. Membiarkan anak memutuskan pilihannya sendiri melatih kemampuannya dalam membuat keputusan dan memiliki kontrol atas dirinya. Pastikan bahwa beberapa pilihan anak tersebut memang dapat kita terima sebelum diberikan padanya.
  5. Tenang dan Kelola Emosi Kita
    Kelola emosi kita dan respon emosi kita dengan baik. Rasa bersalah, khawatir akan anggapan orang lain adalah emosi-emosi yang perlu kita kelola agar tindakan kita tidak semata untuk menguntukan diri kita tapi tidak kondusif untuk anak. Pahamilah bahwa kita perlu mendidik anak kita untuk kebaikannya kelak dan bukan dengan berpura-pura menjadi orangtua yang sempurna di depan orang lain.
  6. Memiliki ekspektasi atau harapan yang masuk akal
    Hindari memberikan anak target atau ekspektasi di luar kemampuannya.  Orangtua wajib mengenal dan memahami kemampuan dan karakter anak. Misalnya : apabila anak mengalami hambatan dalam bahasa, maka orang tua perlu berusaha lebih untuk memahami kebutuhan dan mengenal emosi anak sehingga ia dapat mengekspresikan perasaannya.

Lalu, bagaimana cara mengatasi jika anak telanjur tantrum? Dikutip dari Children's Hospital of Philadelphia, berikut ini adalah petunjuk yang paling tepat dan bermanfaat tentang cara mengatasi temper tantrum:

  1. Tetap tenang
    Terus lakukan kegiatan kita. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama.
  2. Jangan memukul anakLebih baik mendekapnya dalam pelukan sampai ia tenang.
  3. Temukan alasan kemarahan anak sehingga kita dapat memberikan penjelasan yang sebenarnya
    Mencari tahu apa yang membuatnya seperti itu adalah hal utama yang harus kita lakukan untuk membantu meredakan tantrumnya. Berbicaralah pada mereka tentang apa yang mereka rasakan. Tunjukkan padanya bahwa kita mencintai mereka, tapi tidak perilaku mereka. Anak-anak dapat berperilaku buruk karena mereka membutuhkan perhatian yang lebih. Untuk itu, kita harus menunjukkan padanya bahwa kita mencintai mereka dengan memuji perilakunya yang baik dan memberi mereka banyak dekapan ketika mereka tidak berperilaku buruk. Dan katakan pada mereka bahwa kita tidak suka dengan perilakunya yang buruk.
  4. Jangan menyerah pada kemarahan anak
    Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  5. Jangan membujuk anak dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannyaAnak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  6. Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain.
  7. Singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya dari anak pada saat ia sedang marah.
  8. Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai.
  9. Tetap jaga komunikasi terbuka dengan anak.

Selain itu, yang perlu diperhatikan juga pada saat anak tantrum adalah :

  1. Komunikasi antar orangtua
    Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai “pahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai “musuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
  2. Beri pengertian pada orang sekitar, terutama kakek dan nenek
    Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek, biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada orangtua, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum.

Kesimpulannya, temper tantrum bukanlah suatu penyakit berbahaya, namun jika orang tua membiarkannya berlarut-larut dan tidak pernah memberikan solusi yang benar kepada anak maka perkembangan emosional anak dapat terganggu. 

Sampai hari ini pun saya masih terus belajar tentang berbagai hal yang berhubungan dengan perkembangan anak, terutama karena Gavin telah memasuki usia 1 tahun, termasuk hal mengenai tantrum ini. Apalagi belakangan ini Gavin sering sekali marah-marah tanpa alasan yang jelas semoga ga sampai tantrum yah, makanya saya mau terus belajar dan membekali diri juga supaya bisa membimbing Gavin dengan lebih baik lagi. Next postingan akan saya share tentang cara pencegahan tantrum pada bayi yah karena pencegahannya agak sedikit berbeda kalau dibandingkan dengan balita. Semoga bermanfaat.

By: Valent Cindy 

1149 Valent Cindy

Comments

Related Stories