Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Pentingnya Anak Merasa Kecewa

MY STORY  |  PARENTING  |  19 Apr '19


Setiap orang pasti pernah kecewa. Tapi tidak semua orang mampu mengatasi rasa kecewa dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif. Hal ini yang ingin saya ajarkan pada anak saya. Semenjak saya menjadi orangtua, saya selalu mengingatkan pada diri saya adalah kebahagiaan anak bukan kewajiban saya untuk saya berikan cuma-cuma. Jika dia ingin bahagia, dia harus mendapatkannya. Dia harus menjalani prosesnya, mengalami seluk beluknya, sehingga ia dapat meraih kebahagiaannya sendiri, termasuk di dalamnya adalah bagaimana mengatasi rasa kecewa.

Rasa kecewa datang tidak hanya dari orangtua, tetapi setiap orang yang dia temui berpotensi memberikan rasa kecewa baginya. Oleh sebab itu, saya merasa sangat penting untuk mengajarkan anak bagaimana untuk memahami dan mengatasi rasa kecewanya. Berikut adalah beberapa prinsip dasar yang saya pelajari dan saya coba terapkan dalam perjalanan tumbuh kembang anak saya.

Prinsip dasar dalam mendidik anak

  1. Orangtua harus mampu mengatasi rasa kecewanya sendiri
    Konsep ini sesederhana konsep "Bagaimana orangtua mengajari anak makan dengan sendok, kalau mereka tidak tahu apa itu sendok dan bagaimana menggunakannya sendiri?". Sebelum mengajari anak untuk menguasai diri, orangtua harus bisa melakukannya terlebih dahulu dan memperlihatkan kepada anak bagaimana cara mengatasi rasa kekecewaan.
    Manfaatkan kecerdasan anak dalam meniru orang dewasa. Tunjukkan bahwa Anda kecewa, dan Anda bisa mengatasinya, sembari memperlihatkan dan menceritakan cara-caranya, dalam bahasa dan gerak-gerik yang mudah dipahami anak. Beritahukan anak bahwa kekecewaan itu sesuatu yang normal dan biasa, tidak perlu berkembang menjadi situasi yang dramatis, tetapi juga bukan situasi yang patut diremehkan.

  2. Memberi penjelasan yang jelas apa yang benar dan apa yang salah
    Terkadang, kekecewaan anak hadir karena alasan sederhana, dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dan harapkan. Maka, Anda dapat mencoba untuk menjelaskan dalam setiap kondisi, apakah ini boleh dan apakah ini tidak boleh. Sesuatu yang tidak boleh, harus selalu dikatakan tidak boleh secara konsisten, yaitu tidak berubah-ubah dalam setiap kondisi. Konsistensi itu mampu mengubah rasa kecewa menjadi pemahaman. Anak akan belajar apa yang tidak boleh maka tidak boleh, untuk kebaikannya sendiri.

  3. Memberi tahu dengan jelas, apa yang bukan miliknya, tidak boleh dia ambil secara sepihak, dan apa yang menjadi miliknya, berhak ia bela secara sepihak
    Proses bermain memberikan banyak stimulasi, rangsangan dan menghadirkan hubungan sosialisasi yang baik untuk anak. Walaupun dalam bermain, anak bisa menangis karena berebut mainan, terluka karena ada yang memukul dan mencakar, tetapi anak belajar banyak.
    Dalam contoh kasus, misalnya anak ingin memainkan mainan orang lain, Anda dapat mengingatkan, "Tanya dulu sama temannya, kamu boleh pinjam tidak? Kalau tidak boleh, kamu mainkan mainan yang lain." Jika anak itu memberikan mainannya, maka ia harus mengucapkan terima kasih.
    Di sisi lain, ketika ada anak lain yang mencoba merebut mainan anak, Anda dapat bertanya kepada dia, "Apakah dia boleh pinjam mainanmu?" Jika anak terlihat tidak mau memberikan, maka Anda dapat mengatakan "Nggak apa-apa kamu mau main. Bilang sama temanmu, 'saya masih mau main. Nanti saja ya kita gantian."Temanmu akan belajar mengerti." Tujuannya adalah untuk mengajarkan dia memahami rasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi di lain pihak juga menjelaskan pentingnya keadilan, dan ia memiliki hak utuh untuk membela dan melindungi apa yang ia anggap penting.

  4. Mengungkapkan rasa kecewa
    Ketika anak merasa kecewa, dorong dia untuk berbicara dan mengungkapkan. Apa yang membuat kamu kecewa? Jelaskan ceritanya. Ketika ia bercerita, tidak hanya Anda yang menilai ceritanya, tetapi anak juga akan mendengar kembali kejadian (dengan versinya sendiri) dan ikut belajar menilai cerita tersebut. Di mana dalam proses ini dia belajar memahami penyebab dari kekecewaannya.
    Apa yang ia harapkan dari kejadian ini? Jika kejadian ini adalah kejadian yang dapat ditolerir atau terjadi karena kesalahan orang lain, maka orangtua dapat meminta orang yang bersangkutan untuk meminta maaf. Dengan meminta orang yang bersangkutan meminta maaf, maka Anda memberikan pesan kepada anak, bahwa Anda siap membela jika dia benar.
    Di sisi lain jika kejadian ini terjadi karena kesalahan atau kelalaian anak, maka orangtua dapat menjelaskan kepada anak bagaimana seharusnya ia bersikap, dan Anda mendukungnya untuk memperbaiki situasi tersebut. Dari proses ini, akan terjadi hubungan komunikasi dua arah yang sangat baik antara anak dan orangtua, serta terbangun hubungan kepercayaan yang positif. Anak tidak merasa dihakimi atau diabaikan, tetapi ditanggapi dan didukung dalam proses pembelajarannya.

Pengalaman saya mengajarkan anak merasakan kecewa

Ketika anak saya berumur 1 tahun, saya masih menganggap anak saya adalah bayi yang tidak mengerti apa-apa kecuali makan dan tidur. Ada satu momen di mana saya masih ingat sekali. Malam itu, saya dan papanya berencana keluar rumah sebentar, bertepatan ketika ia sudah mengantuk dan siap ditidurkan pengasuhnya. Karena dia menangis melihat saya dan papanya sibuk bersiap-siap, saya bilang kepadanya, "Tidur ya, papa mama nggak kemana-mana, cuma di depan aja." Nyatanya, kami keluar rumah.

Tak lama setelah kami kembali, dia sudah tertidur. Kurang lebih 2-3 jam kemudian di saat ia meminta susu, tidak seperti biasanya dia terbangun dan ketika melihat saya, bibirnya berkerut dan dia menangis. Bukan tangisan lapar, bukan tangisan sakit, tetapi tangisan kecewa. Dari mana saya tahu? Ketika saya menggendongnya, dia memukul dada saya sambil tersedu-sedu. Saya dan papanya sama-sama bingung.

Dia menangis terus menerus, hampir 30 menit. Akhirnya saya katakan seperti ini kepadanya, "Maaf ya Nak, tadi Papa dan Mama bohong ya. Sebenarnya kita nggak mau bohong, cuma kamu kelihatan sedih sekali waktu liat Papa dan Mama siap-siap mau pergi. Papa sama Mama nggak tega lihatnya. Tapi bagaimanapun juga, Papa sama Mama, salah. Kita seharusnya nggak bohong. Kamu pasti kecewa ya, karena Papa dan Mama bohong, katanya cuma di depan, tapi ternyata keluar rumah. Kalau Mama jadi kamu, Mama juga pasti kecewa dan sedih. Maaf ya, Mama dan Papa bener-bener minta maaf, dan janji lain kali akan bicara yang sebenarnya, kalaupun kamu masih nangis, setidaknya kamu tidak dibohongi.

Sekarang, kamu sudah bisa maafin Mama dan Papa?" Suami saya hanya tertawa mendengar perkataan saya, masa iya anak umur 1 tahun bisa mengerti ucapan saya seperti itu? Kenyataannya, selama saya berbicara, dia menatap mata saya. Ketika saya sudah selesai berbicara, dia memeluk saya, tiba-tiba mencium pipi saya, dan menyenderkan kepalanya ke pundak saya lalu tertidur. Saya dan suami sama-sama seperti tidak habis pikir.

Momen ini benar-benar menyadarkan saya, bahwa saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan kepada anak saya. Jika anak kecewa karena saya, maka saya wajib untuk meminta maaf dan memperbaiki situasinya, sehingga ia juga dapat melihat bahwa saya berusaha memperbaiki situasi, dan jika suatu saat dia berada di situasi seperti ini, dia juga berani dan tidak menunda dalam mengambil sikap.

Jadi, kecewa itu tidak selamanya menjadi hal negatif, Moms. Tidak hanya kita mengajari anak, tapi ada kalanya kita juga belajar dari anak. Ketika anak bisa belajar menghadapi dan mengatasi rasa kecewanya, dia akan belajar untuk tidak menyerah atas dirinya sendiri dan juga atas orang lain.

Semoga bermanfaat.

By: Missy Melita

Copyright by Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

2006 Missy Melita

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Uang Sekolah Makin Mahal, Gimana Cara Mempersiapkannya?

Memberikan pendidikan terbaik bagi si Kecil merupakan salah satu kewajiban utama Moms & Dads.

It’s Okay to Not Be Okay

Dalam mengasuh anak, tentu Moms mengharapkan si Kecil tumbuh menjadi pribadi dengan kondisi fisik

Tips Praktis Memompa ASI di Kantor

Hai Moms, Meskipun pandemi virus corona belum berakhir, tapi banyak dari kita yang sudah

Tips Menghindari Toxic Parenting

Hai Moms, Siapa disini yang minggu lalu nonton Babyo Channel Ngobrol Bareng Babyo dengan topik

Ketika Dads Sibuk dengan Hobinya

Setiap hari Jumat, sekarang Babyo Connect memiliki "Apa Kata Moms?" yang akan membahas topik yang terasa tabu Moms bahas, atau uneg-uneg yang [...]

Anak Umur 2 Tahun Belum Bisa Ngomong, Wajarkah?

“Anaknya 2 tahun? Sudah bisa ngomong belum? Oh, speech delay? Sama donk seperti anak saya. Gpp nanti usia 3 tahun juga bisa sendiri.”

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebagai Working Mom

Menjadi seorang working Mom tentunya memiliki tantangan tersendiri. Yuk simak tips dari Mom Inayah berikut ini.

Hal yg Bisa Dilakukan untuk Mengisi Kegiatan si Kecil di Rumah Selama Pandemi

Moms, yuk simak aktvitas yang bisa dilakukan di rumah bersama si Kecil berikut ini.

Fiersa is Turning One

Merayakan ulang tahun pertama pastinya adalah moment yang tidak bisa dilewatkan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Caraku Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Rumah tangga yang harmonis pasti sudah menjadi dambaan pasutri. Simak tips berikut ini yuk Moms and Dads!

Caraku Mengatur Keuangan Keluarga di Kondisi Pandemi

Di tengah-tengah pandemi ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak keluarga yang terdampak secara ekonomi. Simak tips berhemat berikut ini yuk!

Punya Anak Perempuan Lebih Boros?

Hayo siapa yang punya anak perempuan dan merasa boros karena beli barang-barang lucu atau baju untuk Si Kecil? Sebenarnya boros tidaknya [...]

Cerita Sibling Goals di Usia Berdekatan

Bagaimana ya caranya agar kakak adik rukun? Yuk, simak cerita berikut ini.

Mengajarkan Kemandirian Sejak Dini Penting Gak Sih Moms?

Mengajarkan si Kecil untuk mandiri sedari dini memiliki banyak manfaat loh Moms. Yuk, simak berikut ini.

Ide Kreatif Bermain Saat Mati Lampu

Mati lampu memang menjadi kondisi yang kurang nyaman. Namun, Moms bisa memanfaatkan kondisi ini untuk barmain dengan si Kecil.

Suamiku Ayah ASI! Yuk Tanamkan Positif Mind!

Hai para istri, yuk belajar cara merayu suami agar mau untuk menjadi ayah ASI berikut ini!

Pengalaman Lebaran Pertama Tanpa Keluarga

Meskipun jauh dari sanak saudara, Lebaran sudah seharusnya menjadi momen yang dirayakan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Setahun Bersama Babyologist

Moms, yuk simak pengalaman Mom Dinar setahun bersama Babyo berikut ini.

Menjadi Istri dan Teman Bagi Suami di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 ini sangat berdampak pada ekonomi keluarga. Yuk belajar jadi Istri yang baik dan teman bagi suami kita.

Semakin Harmonis Di Masa Pandemi

Moms and Dads, yuk simak tips untuk semakin harmonis selama masa pandemi ini.