Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Pengaruh Suhu Makanan terhadap Kesehatan

BRANDS  |  FEEDING  |  HEALTH TIPS  |  24 Oct '18

Setiap Mom tentu ingin memberikan makanan dengan nutrisi lengkap bagi anaknya. Oleh karena itu ketika memasuki MPASI dan selama masa pertumbuhan, banyak orangtua mulai mempelajari beragam resep dan cara memasak ragam menu MPASI. Namun tak cukup sampai di sana saja, makanan yang baru saja dimasak tetap harus dipantau karena kualitasnya bisa saja berubah bahkan menjadi beracun. Hal ini disebabkan oleh perubahan suhu makanan.

Nyatanya, cara memasak makanan sama pentingnya dengan kapan makanan tersebut akan dimakan. Masakan yang masih mentah atau kurang matang, dapat menyebabkan food poisoning/foodborne illness (keracunan makanan). Dampak yang serupa bisa juga terjadi jika makanan dibiarkan berada di suhu ruangan dalam jangka waktu lama.

The U. S. Department of Agriculture (USDA) menyebutkan bahwa meninggalkan makanan pada suhu ruang dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan bakteri berkembang biak dengan sangat cepat sehingga dapat menyebabkan penyakit. Bakteri terdapat di mana-mana, dan mereka dapat tumbuh dengan cepat bila memperoleh cukup nutrisi, kelembapan, waktu, dan suhu yang sesuai.

Untuk mencegah makanan menjadi rusak/basi, maka setelah dimasak Mom harus memastikan makanan tidak berada terlalu lama dalam “danger zone”. Bakteri dapat bertumbuh sangat cepat pada suhu 5°C - 60°C (41°F - 140°F), bahkan mereka mampu berlipat ganda setiap 20 menit, rentang suhu inilah yang disebut juga dengan istilah “danger zone”. Itulah mengapa makanan sebaiknya dimakan segera setelah dimasak. Aturan ini berlaku terutama pada makan yang mudah basi/perishable foods.

Namun, karena suhu “aman” untuk setiap makanan berbeda-beda, maka masing-masing harus disajikan secara khusus. Makanan panas harus dikonsumsi selagi panas dan makanan dingin harus dimakan saat masih dingin. Hal yang sama berlaku ketika Mom akan membawa bekal atau ingin menyiapkan MPASI ketika ingin traveling. Makanan seperti sayur dan buah segar, serta ragam olahan susu sebaiknya disimpan pada suhu dingin. Sedangkan, makanan seperti sup dan yang berkuah harus disimpan pada tempat tahan panas. Terdapat pula makanan yang tahan pada suhu ruang dengan cara penyimpanan yang lebih mudah, seperti roti, kacang dan buah kering (dried fruit).

“Keep the hot foods hot and the cold foods cold.”

Sederhananya, Mom hanya perlu mengingat aturan berikut ini ketika akan membawa makanan untuk si Kecil: “keep the hot foods hot and the cold foods cold.” Suhu yang tinggi akan membunuh bakteri pada makanan dan suhu yang rendah akan memperlambat pertumbuhan bakteri. Hal ini juga akan membuat cita rasa makanan tidak berubah dan tetap fresh. Julie Albrecht, spesialis food safety di The University's Institute of Agriculture and Natural Resources, merekomendasikan penggunaan insulated lunch box untuk menghindari terjadinya keracunan makanan. Menggunakan kotak makan dengan fitur air/vacuum insulated akan membuat makanan tidak mengalami perubahan suhu dan terhindar dari danger zone.

Apabila Mom membawa makanan dengan suhu yang berbeda sekaligus (panas dan dingin dalam satu kotak makan yang sama), maka akan terjadi perubahan suhu drastis pada makanan, sehingga membuat makanan menjadi lebih cepat rusak. Hal ini dikarenakan makanan tidak mampu menahan suhu normalnya sehingga akan lebih mudah mencapai danger zone. Apalagi jika makanan tersebut dicampur dan tidak dipisahkan pada tempat yang berinsulasi. Itulah mengapa lunch box perlu memiliki fitur air/vacuum insulated. 

“Mempersiapkan makanan agar tetap aman ketika dikonsumsi sama pentingnya dengan menyediakan bekal makan sehat untuk si Kecil.”

Albrecht juga menyarankan untuk mengemas makanan dalam tempat makan selagi masih panas. Mom juga dapat terlebih dahulu memanaskan (preheat) termos dengan mengisinya menggunakan air mendidih. Setelah didiamkan beberapa menit, air dapat dibuang dan wadah yang panas dapat diisi dengan makanan. Dengan begitu, suhu makanan bisa tetap konsisten dalam jangka waktu lama. Sedangkan hidangan yang bersuhu dingin seperti jus, susu, maupun yogurt dapat dibekukan terlebih dahulu sebelum dibawa pergi.

Mempersiapkan makanan agar tetap aman ketika dikonsumsi sama pentingnya dengan menyediakan bekal makan sehat untuk si Kecil. Anak-anak, khususnya yang berusia di bawah 5 tahun sangat berisiko terserang food poisoning/keracunan makanan, karena sistem imunnya yang masih lemah. Untuk itu Mom wajib memastikan makanan yang akan dimakan oleh si Kecil masih tetap segar.

 

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor.

Reference 1 Reference 2 Reference 3 Reference 4 Reference 5 Reference 6 Reference 7

650 OmieBox Indonesia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Rahasia di Balik Tubuh yang Bebas Penyakit

Anak yang sehat dan bebas penyakit tentu menjadi dambaan bagi setiap orang tua.

Probiotik Terbaik bagi Kesehatan Si Kecil

Probiotik seperti apa yang baik bagi kesehatan tubuh si Kecil? Jangan sampai salah pilih ya Moms!

Nutrisi Pendukung Generasi Platinum

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya dapat menjadi bagian dari Generasi Platinum, namun bagaimanakah caranya?

Makanan yang Terbukti Mencerdaskan Anak

Kecerdasan seorang anak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah asupan nutrisi yang lengkap dan simbang.

Pentingnya Nutrisi Makro dan Mikro untuk Kecerdasan Otak

Otak Si Kecil memerlukan nutrisi yang lengkap dan seimbang, contohnya seperti zat gizi makro dan mikro.

Cegah Infeksi Pernapasan dan Pencernaan dengan Laktoferin

Tubuh si Kecil rentan terserang infeksi pencernaan dan pernapasan, mari kita simak bagaimana cara mencegahnya.

Ingin Si Kecil Tetap Sehat dan Cerdas? Ikuti Langkah Berikut!

Si Kecil yang rentan terserang penyakit membutuhkan asupan nutrisi khusus agar bisa tetap sehat dan bertumbuh secara optimal.

Manfaat Alfa-laktalbumin untuk Si Kecil

Alfa-laktalbumin merupakan protein utama dalam ASI yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan tubuh Si Kecil.