Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Pengalamanku saat si Kecil Demam

HEALTH TIPS  |  MY STORY  |  15 Mar '19

Tidak ada satu pun orang tua yang tidak panik saat anaknya demam. Begitu juga saya, meski banyak yang menyarankan untuk tetap tenang, tetap saja hati terasa kalut. 

Akhir tahun lalu saya juga mengalami kejadian ini untuk pertama kalinya dan semoga tidak pernah terjadi lagi. Saya ingat betul hari itu hari Sabtu. Si kecil bangun dalam keadaan sehat. Pagi-pagi mandi seperti biasa, dan makan pun lahap seperti biasa. Sekitar jam 11 siang, ia tetap aktif bermain hanya saja saya merasakan kok tubuhnya demam. Saat saya ukur, suhu tubuhnya 38.2 °C. Tanpa pikir panjang lagi, saya berikan Paracetamol Drop sesuai dosis dan juga saya pakaikan Bye Bye Fever untuk menurunkan panasnya.

Berangsur panasnya turun, tapi sekitar jam 1 siang suhu tubuhnya kembali naik menjadi 40 derajat lebih, saat itu saya tidak mau melihat termometer saat menunjukan angka 40, langsung saya bawa dia ke puskesmas. Jarak dari rumah ke puskesmas memang cukup jauh menggunakan kendaraan. Di perjalanan saya susui anak saya, ia pun terlihat mengantuk. Saya sendiri pada waktu itu hanya merasa panik, dan terus berdoa; si Kecil tertidur sambil menyusu.

Sampai di puskesmas, ia langsung ditangani dokter. Saat dicek, suhu tubuhnya sekitar 39 derajat dan dokter memberikan paracetamol yang dimasukan lewat dubur. Dokter menyarankan jika 3 hari belum pulih, si Kecil harus cek darah. Lemas, kalut dan rasa takut bercampur jadi satu karena ia nggak pernah sakit seperti ini. Kalau demam pun tidak setinggi ini. Dokter meresepkan obat penurun panas dan obat batuk (saat itu anak saya ada batuk juga). Dosis penurun panasnya per 4 jam sekali.

Sampai di rumah saya buatkan bubur lalu berikan paracetamol. Demamnya pelan-pelan turun. Menjelang sore, panas naik lagi. Berikan lagi paracetamol hingga akhirnya semalaman ia bisa tidur dengan nyenyak meskipun harus terus dikompres. Pagi harinya ia bangun dan siap untuk makan pagi. Hanya saja saya merasa kok sepertinya anak saya gemetaran, pikiran saya langsung kacau. Karena saya awam, saya berpikir: "Apakah kejang? atau memang dia kurang energi? atau salah obat?" Semua asumsi menjadi satu di kepala dan hal ini membuat saya semakin stres dan panik.

Selesai makan dan minum obat tiba-tiba si Kecil muntah. Obatnya pun keluar bercampur lendir. Nggak mau menunggu sampai 3 hari baru balik ke dokter, saya memilih untuk membawa ia ke dokter anak yang lain. Dari situ setelah diperiksa, dokter memberikan obat baru. Obat penurun panas (Sanmol), obat batuk dan antibiotik sirup (harus dengan resep dokter). Dokter bilang gemetar tersebut karena suhu badan si Kecil panas. Untuk sementara tidak perlu dikhawatirkan. Singkat cerita, sepulang dari dokter si kecil minum obat baru ia bisa tidur pulas hingga 2-3 jam. Dan waktu itu ia berkeringat hingga saya harus ganti bajunya 3 kali. Demamnya sudah turun perlahan, nafsu makannya pun pelan-pelan normal lagi pada hari ke 6. Selama hari ke 2 sampai 4, demamnya masih naik turun tapi tidak tinggi seperti kemarin.

Beberapa hal yang saya dapat dari dokter dan pengalaman saya pribadi adalah:

  • Tetap tenang, meskipun sulit. Tetap hibur si anak sehingga ia tidak terlalu rewel.
  • Pertolongan pertama tentunya obat penurun panas. Berikan sesuai dosis.
  • Periksa suhu tubuh si anak secara berkala.
  • Kompres air hangat, bukan air dingin. Kompres di dahi dan lipatan tubuh seperti ketiak dan lipatan paha.
  • Atur suhu ruangan agar sejuk dan tidak terlalu panas atau dingin.
  • Berikan cairan yang banyak. Air putih (jika sudah boleh) atau ASI/Sufor.
  • Jika si anak tidak mau makan, bisa diganti dengan bubur atau buah-buahan segar.
  • Pakaian si anak harus adem, tidak berlapis dan tidak bertumpuk-tumpuk.
  • Berdasarkan pengalaman saya, anak saya terinfeksi virus dari pernapasannya karena disertai batuk juga. Jaga kebersihan ruangan, bantal dan guling, jika ada boneka, singkirkan boneka untuk sementara waktu sampai anak sembuh. 
  • Rutin ganti seprai, sarung bantal dan guling juga boneka.
  • Cara tradisional adalah dengan menggunakan daun jarak. Hangatkan daun jarak di atas kompor, setelah hangat olesi daun dengan minyak telon lalu tempelkan di perut dan punggungnya.
  • Yang terakhir, jangan pernah menunggu sampai 3 hari jika si anak menunjukan gejala lain seperti muntah, gemetar, lemas, nafsu makan hilang dan tidak mau minum susu.

Semoga pengalaman saya bisa membantu para Moms untuk menghadapi anak demam. Salam sayang untuk si Kecil dan sehat selalu.

Semoga bermanfaat.

By: Vynditan Azalea

Copyright by Babyologist

143 Vynditan Azalea

Comments

Related Stories