Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Penerapan Kata Jangan yang Berlebihan: Dapat Meredam Kepercayaan Diri Anak

MY STORY  |  PARENTING  |  TODDLER  |  21 Sep '19


Memasuki usia anak yang semakin serba ingin tahu tentu gampang-gampang susah ya Moms, apalagi ketika si anak mulai melakukan hal-hal yang kita anggap tidak baik. Terkadang kita sebagai Orang Tua dibuat kesulitan untuk memilih kata yang tepat untuk melarangnya. Sering kali kata Jangan dan Tidak menjadi hal yang paling sering dilontarkan, padahal tahukah Moms bahwa efek dari kata jangan yang diucapkan terus menerus dapat meredam kepercayaan diri si anak?

Memang berkata jangan merupakan hal yang paling mudah untuk membuat anak disiplin, tapi apakah hal ini dapat berjalan efektif?

Penerapan kata jangan dapat memberikan dampak buruk bagi sang anak. Pengalaman negatif yang akan anak terima semasa kanak-kanaknya akan dia bawa sampai dewasa. Hal tersebut yang akan terekam di otaknya dengan jelas karena anak di bawah 7 tahun merupakan masa emas, di mana 90% perkembangan otaknya sedang tumbuh secara pesat.

Sebenarnya kita dapat mengganti kata Jangan dengan alternatif kata-kata lain yang dapat lebih dimengerti si anak. Misal saat dia memegang listrik, kita dapat berhenti berkata "Jangan mainan listrik" dengan kata "Sini dek, mama saja yang colok listriknya. Adek duduk di sana saja nanti kesetrum, sakit loh kalau kesetrum."

Dengan cara mengubah kata jangan dengan kata bersifat ajakan atau dengan penjelasan yang lebih detail dan jelas akan bahaya tertentu:

Jangan lari-lari,
Jalannya pelan-pelan saja ya.
Jangan memukul,
Pegang dengan lembut ya sayang, nanti sakit.
Jangan teriak,
Pelankan suaranya ya.
Jangan dibuang,
Disimpan di tempatnya ya dek.
Jangan loncat-loncat,
Coba duduk yang manis sayang.
Jangan rebutan,
Ayo mainnya sama-sama ya.
Jangan diemut,
Makannya dikunyah ya.

Berikan afirmasi positif setiap saat kepada si anak agar anak menjadi orang yang percaya diri. Seperti misal saat anak sedang belajar berjalan, berikan semangat kepada anak dengan kata-kata "Ayo adek bisa, bangun sayang, ayo semangat."

Tentu tidak mudah untuk menerapkan hal tersebut di kehidupan sehari-hari, namun jika kita tidak memulai untuk mencoba, bagaimana bisa hal ini dapat diteruskan dan menjadi kebiasaan. Karena pembentukan sikap seseorang merupakan tanaman sikapnya saat masa kanak-kanak.

Namun apabila keadaan dalam hal yang gawat atau darurat, kata jangan dapat tetap digunakan tentunya dengan memberikan alasannya juga ya Moms. Misal jangan main pisau, nanti kamu terluka. Jangan lari-lari nyebrang jalannya, nanti kamu tertabrak mobil, sini jalan sama Mama. Jadi anak pun juga bisa membedakan mana hal yang benar-benar berbahaya untuknya dan mana yang tidak, tanpa melulu mendengar ucapan jangan.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

2472 Risya Nur Amalia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Terrible Two or Terrific Two, Yang Mana Yang Cocok untuk si Kecil?

Si Kecil sering tantrum? Tenang Moms, you're not alone. Yuk simak cerita berikut ini.

Tips & Tricks Potty Training Ala Mama Alby

Moms sedang mempersiapkan si Kecil untuk potty training? Simak tips dan trik berikut ini ya.

Proses Menyapih si Kecil Serta Berbagai Persiapannya Part 2

Yuk simak lanjutan cerita Mom Risya berikut ini tentang proses menyapih.

Kapan Sebaiknya Mengajak Si Kecil Gowes?

Mengajak anak gowes, sebaiknya dimulai sejak usia berapa? Kami pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin untuk memenuhi kualifikasi tersebut.

Yuk, Moms, Cegah Stunting Sejak Si Kecil dalam Kandungan!

Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang harus diatasi sejak dini. Simak penyebab, dampak, dan cara mengatasi stunting pada anak berikut ini.

Belajar Mengenal Angka dengan Tempelan Kulkas

Saya sedang mengajari Stacy untuk mengenal bentuk angka-angka. Namun, saya ingin mengajarinya sambil bermain sehingga Stacy senang dan [...]

Mari Menjalani Fase Teribble Two dengan Bahagia

Keputusan menjadi orang tua dibutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan bukan perkara yang mudah.

Bagaimana agar si Kakak Tidak Cemburu pada Adiknya

Pertanyaan ini sering muncul di hati saya sejak saya mengandung anak ke 2. Moms and Dads juga mengalami yang sama? Yuk simak berikut ini.

Role Model Terbaik Adalah Ayahku

Proses mengandung, melahirkan dan membesarkan buah hati tidak hanya menjadi tugas ibu lho Moms!

Menghadapi Tantrum Anak Usia 14 Bulan

Tantrum, sebuah momok yang sudah tidak asing di telinga orang tua.

Tips agar Anak Tidak Menjadi Pelaku Bullying

Beberapa saat yang lalu warganet dikejutkan dengan kabar meninggalnya artis K-Pop yang bunuh diri karena depresi

Tips Memilih Tontonan Anak

Peran kita sebagai orangtua dalam memberikan hiburan pada si Kecil sangat penting loh Moms

Meningkatkan Bonding antara Ayah dan si Kecil saat LDM

Long Distance Marriage adalah sebuah istilah yang dibuat untuk pasutri yang menjalani pernikahan jarak jauh.

Mengatasi Rasa Cemburu Kakak Terhadap Adik Barunya

Saya ingin sharing tentang pengalaman menjadi Mom of two, karena tanggal 2 November lalu saya melahirkan anak kedua.

Disiplin saat Masih Balita, Pentingkah?

Saat menjadi ibu, naluri & pemikiran saya berkembang, naluri melindungi, menyayangi dsb yang menyangkut anak saya.

Tips Mengajarkan Kakak Menyayangi Adiknya Sejak di Dalam Perut

Walau Daud masih kecil banget & belom ngerti apa itu adik, aku berusaha banget untuk kasih tau dia dari sekarang

Berbagai Aktivitas Agar si Kecil Betah di Dalam Pesawat

Aktivitas berikut ini bisa moms coba agar si Kecil betah di dalam pesawat lho

Punya Dua Balita, Moms Harus Siap Jadi 'Super Mom'

Saya memiliki 2 balita dengan jarak yang cukup dekat, saya jaga & besarkan sendiri tanpa bantuan nanny atau orang tua.

Saat si Kecil Bertanya: Kenapa Bunda Bisa Hamil?

Moms, pasti pernah ya berada dalam momen seperti itu. Atau si Kecil bertanya, aku lahir dari mana sih Bunda?

Orangtua Selalu Membandingkan Anak, Ini Dampak Negatifnya!

Pernahkah di antara kita sebagai orang tua membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau antar saudaranya?