Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

My Special Pregnancy Story: Total Bedrest 3 Bulan Akibat Debu

MY STORY  |  PREGNANCY  |  28 Apr '19


Kehamilan pertama saya berjalan cukup istimewa. Berawal dari mudik dengan mobil saat Lebaran 2017 lalu saat kehamilan saya berusia 13 weeks, perjalanan dari Semarang menuju Boyolali (sebuah kota kecil di Jawa Tengah; tempat nenek saya tinggal) yang biasanya hanya memakan waktu 1 jam menjadi 5 jam. Karena tingginya jumlah kendaraan yang ingin saling mendahului, suami saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk memosisikan mobil di lajur kiri agar bisa sejenak beristirahat di SPBU. Setelah 5 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di rumah nenek. Perut sudah tidak karuan rasanya, lalu saya gunakan waktu untuk tidur dan istirahat merebahkan tubuh.

Jam 2 pagi saya terbangun karena merasa basah. Ternyata (maaf) underwear saya sudah basah penuh dengan darah dan cairan bening cukup banyak, namun tidak berbau seperti urine. Segera saya dilarikan ke RSUD terdekat. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam, beruntung ternyata tidak ada stolsel (jaringan tubuh) yang keluar, artinya janin di dalam rahim saya baik-baik saja.

Satu minggu bedrest di rumah sakit, perdarahan saya berkurang. Sepulangnya ke Semarang, perdarahan muncul lagi. Singkat cerita, 5 Obgyn yang merawat saya tidak menemukan penyebab kasus saya — janin berkembang baik, namun perdarahan terus terjadi (bahkan selama total bedrest saya disarankan menggunakan adult pampers melihat jumlah darah yang banyak). Karena ini adalah hal yang cukup jarang ditemui. Segala aktivitas saya lakukan di tempat tidur. Hari-hari saya lewati dengan membaca buku, tetap berkomunikasi dengan janin, menonton berbagai tayangan, bahkan mandi, makan, BAK, dan BAB pun di tempat tidur. Hingga usia kehamilan saya 23 weeks, saya sudah mengalami kontraksi dini lebih dari 10 x dan Obgyn terakhir yang menangani saya sudah menyatakan bahwa kemungkinan besar bayi saya tidak akan selamat.

Saya dan suami tidak putus asa. Setelah keluar-masuk 3 RS dengan ditangani 5 Obgyn yang berbeda, salah satu ayah teman saya yang juga berprofesi sebagai Obgyn merekomendasikan untuk menemui Obgyn sub spesialis fetomaternal. Sebuah istilah yang masih sangat asing di telinga saya saat itu. 19 September 2017, hari Rabu, saya mantap bertemu dengan Obgyn fetomaternal ini. Segera setelah sampai di RS di mana beliau praktik, dalam waktu 1 jam setelah check up lengkap, saya dinyatakan mengalami infeksi pada plasenta.

Infus anti kontraksi yang diberikan selama 3 bulan ini dihentikan, diganti dengan infus berisi antibiotik untuk memulihkan kondisi plasenta saya. Ternyata penyebab saya kontraksi dini selama ini adalah karena plasenta saya yang tidak baik, sehingga bayi saya di dalam rahim tidak betah dan ingin lahir lebih cepat. Saat itu, Obgyn feto berkata, bahwa saya seharusnya menemuinya lebih cepat, karena beliau khawatir kondisi plasenta saya sudah terinfeksi parah. Tapi kami tetap optimis sambil terus memohon pada Allah. 

Setelah 1 ampul antibiotik habis, alhamdulillah kontraksi sudah tidak muncul. Kondisi janin hingga hari Jumat malam baik. Hingga akhirnya, 45 menit setelah Obgyn feto visit ke ruang rawat inap, saya merasa pangkal paha saya sakit sekali. Seperti ditusuk-tusuk hingga saat saya ingin BAK di atas kasur dengan bantuan perawat, saya tidak kuat mengangkat tubuh. 

Akhirnya diputuskan untuk BAK di atas underpad dengan posisi miring ke samping kiri dan berpegangan pada pembatas kasur rumah sakit. Setelah BAK, saya merasa ada cairan hangat yang keluar tanpa kontrol, saya spontan berkata pada suami dan orang tua saya yang kebetulan sedang menjenguk, bahwa sepertinya itu adalah air ketuban. 

Benar saja, berbarengan dengan cairan hangat yang rasanya justru membuat pangkal paha saya terasa nyaman, saya merasa bayi saya ikut meluncur lahir. Spontan saya berkata "Allahu akbar, anakku lahir!" Dalam keadaan sangat panik karena tidak ada tenaga kesehatan di ruang rawat inap saya, bayi saya langsung saya jepit di antara kedua paha agar posisinya aman.

Ayah dan suami saya bergegas memanggil perawat dan seketika saya sudah dipindahkan ke ruang bersalin. Bayi saya ditangani oleh dokter spesialis anak dan saya ditangani Obgyn. Sayangnya, karena usia 23 weeks masih belum capable untuk hidup di luar rahim, dan alat-alat di NICU di Indonesia belum ada yang mampu men-support kelahiran prematur di bawah 28 weeks, anak pertama saya hanya bertahan 7 jam sebelum akhirnya ia kembali ke dekapan Sang Pencipta.

Plasenta saya tidak dikuret karena ternyata kondisinya sudah sangat mengenaskan. Warnanya sudah menghitam, terpotong-potong, dan tidak lagi segar. Satu minggu setelah hasil laboratorium terhadap plasenta saya selesai, penyebab infeksi adalah karena terpapar debu. Iya, betul. Debu yang biasa ada di sekitar kita Moms. Ternyata saat saya perdarahan pertama kali, ketuban saya rembes sehingga banyak cairan bening yang pada saat itu dikatakan tenaga kesehatan setempat hanya merupakan cairan (maaf) vagina. Karena ketuban rembes, kondisi di dalam rahim sudah tidak steril, debu dengan mudah masuk, lalu karena dibiarkan terlalu lama dan tidak segera ditangani, akhirnya menempel di plasenta dan menggerogoti kesehatan plasenta sehingga menyebabkan bayi saya tidak betah berada di dalam rahim. Sebab sumber oksigen serta nutrisi berasal dari plasenta, bukan? 

Bagi beberapa orang mungkin berada pada posisi ini sangat menyakitkan. Begitu pun bagi saya dan suami. Namun saya tetap bersyukur karena diberi kemudahan melahirkan anak pertama saya dengan mudah, tanpa perlu dikuret, dan masa pemulihan yang sangat cepat. Kini, saya dan suami sudah ikhlas menjalani hidup dan menerima bahwa ini adalah yang terbaik dari Allah. Semoga pengalaman istimewa kami bisa menjadi pembelajaran untuk Moms yang lain sehingga selalu diberikan kesehatan pada kehamilannya dan untuk yang sedang menanti kehadiran sang buah hati, diberikan kemudahan. Percaya, Tuhan pasti memberikan yang terbaik.

 

Semoga bermanfaat.

By: Dita Anindia via Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

505 Dita Anindia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Ini Cara Cegah Anemia pada Ibu Hamil Menurut Kemenkes

Bagaimana cara pencegahan anemia pada ibu hamil?

Begini Efeknya Kalau Menunda KB

Moms ada yang berencana KB tapi terus tertunda? Wajib simak cerita yang satu ini!

Jangan Sepelekan Pemeriksaan USG Saat Kehamilan, Ini Alasannya!

USG di masa kehamilan itu penting loh Moms! Yuk, simak ulasan berikut ini.

Ceritaku Hamil Kembar dan Mengalami Preeklampsia

Dibalik kelucuan memiliki bayi kembar, ternyata ada hal-hal yang perlu diwaspadai, salah satunya preeklampsia.

Cerita Kehamilan dan Melahirkan Mom Devita

Moms, yuk simak cerita kehamilan dan melahirkan Mom Devita berikut ini.

Cerita Promilku di Usia 35 Tahun

Moms sedang merencanakan program hamil? Simak yang satu ini yuk!

Aku Ngidam Belut, Amankah Di Konsumsi Saat Hamil?

Amankah ibu hamil mengonsumsi belut? Baca yang berikut ini.

Pengalaman Kuretase di Usia Kehamilan 11 Minggu

Salah satu resiko yang dapat terjadi pada Ibu hamil adalah keguguran. Setelah itu biasanya Mom akan dianjurkan untuk kuretase.

Pengalaman Program Hamil dengan Memiliki Myoma di Rahim

Di awal pernikahan aku dan suami sudah berencana ingin segera memiliki momongan. Karena kami sudah berpacaran 4 tahun, jadi rasanya sudah cukup [...]

7 Langkah Persiapan Persalinan Penuh Cinta

Ternyata perkara melahirkan bukan terjadi begitu saja. Tanpa persiapan, maka tak jarang kenangan buruk yang akan tersimpan dalam waktu yang [...]

Ceritaku Hampir Khilaf Saat Hamil

Siapa Moms yang pernah merasa galau ketika tahu hamil? You're not alone. Baca cerita ini yuk.

Proses Persalinan Anak Kedua Lebih Cepat, Benarkah?

Kata orang melahirkan anak kedua akan jauh lebih mudah dan lebih cepat dari anak pertama. Benarkah demikian?

Tips Jarak Kehamilan Antara Kakak dan Adik

Berapa jarak kehamilan yang ideal? Setiap orang pasti punya alasannya masing-masing ya. Berikut ini cerita dari Mom Ngel Zhuang.

7 Hal Penting yang Harus Dipersiapkan Sebelum Persalinan

Memasuki trimester ketiga, ibu hamil biasanya akan merasakan dag dig dug antara bahagia karena akan segera bertemu dengan sang buah hati dan [...]

Hindari Perkataan Negatif Terhadap Ibu Hamil

Yuk hindari mom-shaming dan bersama-sama memberikan dukungan terhadap para orang tua lainnya. Simak cerita berikut ini ya.

Tips Mengatasi Perut Gatal Saat Hamil

Ibu hamil sering mengalami gatal-gatal di kulit karena berbagai hal. Apa pun penyebabnya, berikut ini beberapat tips mengatasi perut gatal saat hamil.

Perbedaan USG 2D, 3D dan 4D

Bagi Moms yang tengah hamil tentunya USG sudah tidak asing lagi, ya. Seiring perkembangan zaman USG untuk memeriksa kondisi janin pun semakin [...]

5 Tanda Awal Kehamilan yang Dapat Dideteksi Tanpa Testpack

Apakah Moms mengalami telat haid? Atau merasa eneg mual ingin muntah setiap pagi dan bertanya-tanya jangan-jangan Moms sedang hamil? Jika memang [...]

Couvade Syndrome: Suami Ngidam saat Istri Hamil Ternyata Bukan Mitos

Salah satu hal yang sering dianggap tidak masuk akal adalah suami yang ikut ngidam saat Moms hamil. Di dunia medis, hal ini disebut sebagai [...]

3 Manfaat Jeruk Lemon bagi Kehamilan

Ibu hamil disarankan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya termasuk vitamin C. Oleh karena itu, jeruk lemon juga baik untuk kesehatan ibu hamil.