Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Mengatasi Tantrum pada Anak

GROWTH & DEVELOPMENT  |  MY STORY  |  PARENTING  |  TODDLER  |  27 May '19


Pada anak yang menginjak usia 2-4 tahun, biasanya tantrum sering terjadi. Tantrum itu apa sih? Simpelnya tantrum itu protes atau kemarahan anak yang biasa dia tunjukkan dengan keadaan seperti berteriak, nangis, berguling di lantai atau memukul. Ini terjadi saat si anak mengingini sesuatu, namun tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik ataupun keinginannya tidak dituruti oleh orang tuanya.

Tantrum memang paling sering dialami oleh anak yang masih berusia dini, dikarenakan si anak masih belum mampu menyampaikan keinginannya secara baik. Biasanya tantrum ini akan hilang seiring pertumbuhan usia si anak karena kemampuan berkomunikasinya juga akan semakin baik dan kemampuan mengendalikan emosinya juga akan berkembang.

Sebagian besar orang tua akan mengikuti kemauan anaknya saat ia tantrum. Saya sangat mengerti dan pernah beberapa kali merasakan hal yang sama, terutama di saat anak kita tantrum di tempat-tempat umum. Namun percayalah Moms, ini malah akan membuat si anak menjadikan tantrum sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Jadi, kita sebagai orang tua harus mempelajari seberapa lama si anak mampu menahan emosi mereka dan lakukan beberapa tips berikut:

1. Kenali lama waktu emosi si anak.

Saya yakin sebagai ibu kita memiliki insting dan kemampuan untuk mengenali anak kita. Biasanya kita sudah dapat mengerti kapan si anak mulai marah dan akan memulai tantrumnya. Usahakan memulai negosiasi dengan si anak sebelum tantrumnya mulai, karena selain mencegah tantrum, negosiasi sebelum ia mulai menjerit atau berguling akan lebih mudah dilakukan.

2. Jika sudah terlanjur ngamuk, tetap tenang & abaikan.

Walaupun kita sedang berada di mall atau pasar yang ramai dan anak kita sedang berguling di lantai, tetap tenang Moms. Prinsip utama yang sangat penting diingat ialah abaikan tantrumnya. Maksud saya bukan membiarkan anak dan tidak peduli ya Moms, tapi lihat keadaan sekitar, selagi proses tantrumnya di lingkungan yang aman dan tidak akan melukai dia, abaikan saja. Biarkan ia tenang dan selesai dengan amarahnya. Karena membujuk atau memarahi anak di saat seperti ini tidak ada gunanya, malah akan memperburuk keadaan, trust me.

Tanamkan di pikiran kita kalau ini hanya usahanya untuk mengekspresikan keinginan dan perasaannya. Kalau beberapa anak yang minta dipeluk / gendong, peluk saja hingga ia tenang. Setelah berhenti, saatnya menanamkan dan mengajarkan bahwa tantrumnya sama sekali tidak berpengaruh dengan keputusan kita dalam menuruti keinginannya, dan ada cara yang lebih baik seperti bicara yang baik dengan kita.

"Nangis aja dulu, gak apa-apa, selesai nangis kita pulang dan tetap ga mama beliin karena itu ga berguna untuk kamu." Saya sering sekali mengatakan ini. Dan sekarang anak saya tahu, kalau nangis dan berguling-guling sama sekali tidak ampuh dan tidak ada gunanya, dan dia lebih suka bernegosiasi dengan berbagai alasan untuk mendapatkan keinginannya sekarang.

3. Perlu waktu, latihan dan konsistensi.

Lakukan hal di atas setiap kali dia tantrum. Konsisten adalah kuncinya Moms, lakukan sampai ia mengerti bahwa tantrum bukanlah hal yang benar dan sama sekali tidak ada gunanya. Ia harus belajar mengembangkan cara berkomunikasinya.

Yang paling susah ialah saat tantrum terjadi, ada pihak ketiga yang juga ikut andil di situ, seperti orang tua kita atau pengasuh. Terkadang kita sudah kukuh membiarkan, namun ada neneknya yang tidak tega dan akhirnya menuruti keinginannya membuat semua usaha kita sia-sia. Jadi, coba ajak orang tua kita untuk sepakat bersama menghadapi tantrum si anak, agar si anak juga mendapatkan perlakuan yang konsisten dari orang tua dan orang-orang terdekat mereka, sehingga mereka lebih cepat mengerti dan terbentuk mindset yang benar pada anak, bahwa tantrum bukanlah cara yang benar dalam mengekspresikan keinginan mereka.

4. Jangan kasar, memukul atau memarahinya di depan umum

Anak-anak juga punya perasaan Moms, sekecil apa pun usianya. Sewaktu dia kecil, mungkin dia tidak paham, tapi kata-kata kasar atau pun emosi yang kita luapkan dengan memarahinya terekam di alam bawah sadar mereka, dan seiring waktu ini akan mempengaruhi pertumbuhan karakter dan mental anak. Belum lagi anak yang berusia  di atas 3 tahun biasa sudah memiliki rasa malu di depan umum.

Bagi kita yang melihat anak lain yang tantrum, mari tunjukkan senyum simpati pada orang tuanya agar mereka disemangati dalam menghadapi anak mereka. Saya tau ini tidak mudah, tapi ini sudah saya lakukan dan berhasil Moms. Saya yakin kita semua bisa!

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1592 Christine Natalia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Pentingnya Menanamkan Nilai Mendalam Sebuah Profesi

Saya baru menyadari bahwa betapa pentingnya mengajarkan nilai lebih mendalam bagi sebuah profesi.

Pentingnya Memantau Perkembangan Anak

Ternyata perkembangan anak yang tinggal di kampung jauh lebih bagus daripada perkembangan anak kota lho Moms.

Apakah Setiap Anak akan Mengalami Masa Terrible Two?

Awal mendengar kata terrible two, saya berusaha mencari dahulu apa sih sebenarnya terrible two itu.

Pentingnya Mempertahankan Hak si Kecil saat Bermain

Anak-anak sangat senang ketika bermain. Tidak jarang, rasanya mainan tetangga terlihat "lebih indah",

Bagaimana Menghadapi si Kecil yang Super Aktif?

Menurut Moms, bagaimana rasanya memiliki si Kecil yang super aktif? Apa saja suka dukanya?

Tips Menghilangkan Trauma Anak yang Terjatuh saat Belajar Berjalan 

Hai Moms, menjelang usia anak setahun biasanya sudah mulai ada tanda-tanda anak kita berani berdiri sendiri.

Bantu Bunda Menjemur Baju Yuk, Nak!

Kemarin Faruq mencoba membantu bunda untuk menjemur baju, aktivitas ini mungkin terdengar tak biasa.

Pentingnya Pengenalan Profesi pada si Kecil

Mengenalkan berbagai profesi pada si kecil tentu bermanfaat ya moms.

Buku Jiwaku dan Anakku

Sejak di dalam kandungan, aku suka membacakan Felicia buku di sela-sela kegiatanku setelah selesai mengajar.

Anakku Hiperaktif Banget...

Moms punya kendala yang sama gak? Jujur saya sebagai orang tua yang mengurus mereka sendirian kewalahan hadapinya.

Kenapa si Kecil Senang Mencorat-Coret Seisi Rumah?

Si Kecil suka corat coret tembok? Yuk terapkan tips berikut ini untuk mensiasatinya

Seberapa Penting Pendidikan Anak di Bawah Umur?

Di masa golden age, alangkah baiknya jika anak dibiarkan tumbuh dan berkembang bersama ibunya di rumah.

Respon Terhadap Anak Kidal

Hai Moms, pernah tidak memperhatikan tangan anak kita, mana yang lebih aktif? Kanan atau kiri?

Mengenalkan si Kecil dengan Dunia Hewan di Taman Safari

Mengenalkan si Kecil dengan dunia luar sedari kecil ternyata baik untuk membantu tumbuh kembangnya ya Moms.

Anak Kecanduan Nonton TV? Ini Solusinya!

Menurut artikel yang pernah aku baca, dalam sehari anak di atas 2 tahun boleh nonton TV tidak lebih dari 30 menit.

Jangan Tumpuk Bukunya, Tapi Cintai dan Maknai Isinya

Sejak kecil anak saya memang sudah dikenalkan pada buku, dari mulai usianya 3 bulan sampai sekarang 21 bulan.

Apa Itu Fase Terrible Two? Kenalan Yuk Moms

Menjelang usianya 2 tahun abram mendadak lebih suka berteriak, menangis, dan sering tantrum?

Screen Time: Yes or No?

Setelah Shanum masuk usia 2 tahun, saya bolehin nonton TV. Tapi tetep saya batasin dari segi waktu & tontonan.

Manfaat Playdate bagi Moms & si Kecil

Bagi saya pribadi, playdate bukan sekedar kumpul-kumpul, apalagi yang beneran cuma kumpul terus pada diem

Usia 18 Bulan, Anakku Sudah Bisa Berhitung 1-10 dalam 3 Bahasa! Apa Tipsnya?

Anak usia 18 bulan sudah harus belajar 1-2 patah kata, setidaknya sudah mengerti lebih dari 20 kosakata.