Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Mencari Sekolah untuk Anak

MY STORY  |  OTHERS  |  01 May '19

Sekolah yang bagus itu, seperti apa?

“Kita tidak bisa mengubah sistem pendidikan kita, yang bisa kita lakukan sebagai orangtua adalah memberikan rasa cinta sebanyak-banyaknya kepada anak kita untuk bisa menghadapi sistem tersebut”

“Anak yang dibesarkan dengan penuh cinta oleh orangtuanya akan dapat lebih menghadapi stres saat menghadapi pelajaran sekolahnya”

Itu beberapa kalimat bagus yang saya ambil dari drama korea Sky Castle. Ada yang belum nonton? Keren loh ini drama from beginning to the end. Drama ini menceritakan bagaimana persaingan para orangtua kalangan elit untuk menjadikan anak mereka berprestasi dengan tujuan bisa masuk jurusan favorit di universitas bergengsi. Para orangtua berlomba-lomba mengikutkan anak-anak dalam berbagai les pelajaran tambahan. Bahkan mencarikan tutor khusus agar anak-anak mereka bisa fokus belajar dan mendapatkan nilai yang tinggi, bahkan dengan cara ilegal sekalipun.

Tidak menutup mata bahwa di sini pun nilai masih menjadi prioritas utama dalam berbagai bidang. Anak dengan nilai mata pelajaran tinggi maka akan disebut sebagai anak pintar.

Apakah itu salah? Wong pintar kok disalahkan. Tentu tidak, namun sebaiknya kita pun bisa membuka mata dengan jenis kepintaran yang lain.

Manusia diciptakan dengan bakatnya masing-masing, ibarat ikan dan monyet disuruh lomba berenang ya pasti ikan pemenangnya, begitupun sebaliknya jika mereka disuruh lomba memanjat sudah pasti monyet pemenangnya.

Jaman sekarang semua sudah berkembang pesat, saingan semakin berat, manusia semakin banyak. PR besar bagi kita sebagai orangtua bagaimana menyiapkan mereka, anak-anak kita, menghadapi dunia yang sesungguhnya, karena tidak selamanya kita akan terus mendampingi mereka. Suatu saat mereka harus bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Menjadi orangtua dari anak yang akan mulai bersekolah membuat saya rajin mencari-cari info tentang sekolah pada jaman sekarang. Jaman saya kecil dan tinggal di sebuah desa di pedalaman sumatera, sekolah di sana tidak terlalu banyak pilihan. Boro-boro sekolah favorit, ada sekolah saja sudah untung. Lain halnya ketika kami sekarang tinggal di kota besar sekitaran Jabodetabek, di mana segala sesuatunya berjalan dengan ritme yang begitu cepat. Demikian juga sekolah, banyak ragam dan jenisnya mulai dari negeri, swasta, islamic, internasional dan lain lain.

Dengan kondisi jaman sekarang, di mana pengaruh negatif dan tingginya tingkat kriminalitas, maraknya media sosial yang tak terbatas maka banyak orangtua yang berusaha memasukkan anak mereka ke sekolah yang baik untuk pendidikan akademis maupun membantu pembentukan karakter. Tentunya sekolah tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas masa depan anak. Namun kontribusi dan sinergi antara sekolah dan orangtua sangat diperlukan.

Jadi, sekolah yang bagus itu seperti apa? Entahlah, ini mah saya menulis berdasarkan sudut pandang saya saja ya Moms.

Mencari sekolah anak itu ternyata gampang-gampang susah, karena memutuskan bahwa anak-anak harus masuk sekolah dan tidak homeschooling maka kami berpatokan pada akreditasi sekolah berdasarkan Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi).

Beberapa hal yang kami pertimbangkan dalam memilih sekolah

  • Kesiapan mental anak
    Dari yang saya baca, anak-anak siap sekolah setelah usia di atas 4 tahun. Di mana kemampuan kognitifnya sudah mulai bisa diasah. Sebelum 4 tahun sebaiknya lebih ke pembentukan karakter oleh orangtuanya di rumah. Hal hal yang kami lakukan untuk membuat Dimas dan Femi siap sekolah saya bahas di tulisan selanjutnya ya.

  • Kualitas sekolah
    Kalau ini saya lebih ke arah mencari testimoni dari para orangtua yang anaknya sudah sekolah lebih dahulu dan juga membaca-baca blog dan artikel di internet. Kemudian saya juga ke sekolahnya langsung melihat dan survey metode belajar mereka, suasana dalam kelas, jumlah murid dibandingkan guru, dan kegiatan belajar mengajarnya seperti apa.

  • Budget
    Apakah sekolah yang bagus sudah pasti mahal? Tidak tentu tapi mayoritas seperti itu. Namun murah dan mahal tentunya relatif kembali ke orangtua masing-masing. Dana pendidikan anak-anak sudah kami persiapkan sejak mereka bayi, jadi memang sudah ada alokasi dana tersendiri yang bisa digunakan saat mereka harus masuk sekolah. Jadi jika kamu sebagai orangtua dan memutuskan memasukkan anak-anak ke sekolah yang budgetnya mungkin di atas rata-rata beberapa orang, dan ada yang mengatakan sekolah kok mahal-mahal amat, ya nggak masalah toh memang sudah kita persiapkan posnya masing-masing. Nggak mahal jika dipersiapkan, menjadi mahal jika mendadak harus menyediakan sekian rupiah.
    Dan satu lagi, pertimbangan setiap rumah tangga berbeda-beda, ada yang mengalokasikan lebih banyak budget ke pendidikan anak, dan ada juga yang mengalokasikan lebih ke renovasi rumah, jalan-jalan atau hal lainnya. Itu mutlak keputusan rumah tangga yang tidak perlu orang lain ikut campur, toh mereka nggak ikut cari duit ini, ya nggak sih.

  • Jarak tempuh
    Ini juga penting karena jangan sampai energi anak habis di jalan untuk pulang pergi sekolah. Jika sudah tingkat kuliah nggak masalah karena mereka bisa kos atau tinggal di asrama, namun jika masih TK – SMA sih sebaiknya yang masih dapat dijangkau. Sekali lagi ini juga kembali ke pertimbangan masing-masing ya.

  • Lingkungan
    Lebih baik memang survei dulu untuk mengetahui kondisi lingkungan sekitar sekolah, kita nggak ingin kan sekolah anak-anak kita berada di area yang rawan dengan tindak kriminal atau hal-hal buruk lainnya.

Nah setelah semua hal di atas dipertimbangkan, maka kami mulai me-list beberapa sekolah yang akan Dimas masuki. Anyway lokasi kami di sekitaran Tambun, Bekasi. Dan kami mencari sekolah TK B untuk Dimas yang Juli 2019 nanti usianya sudah 5.5 tahun.

Inilah beberapa list yang sudah kami pangkas menjadi top five

  1. TK Nabila
    Jarak: 5 menit jalan kaki
    Uang pangkal: sekitar 1 juta
    Uang SPP: Sekitar 100 ribu
    Jumlah murid dalam kelas: sekitar 30 orang
    Jumlah guru dalam kelas: 2 orang

  2. BIMBA
    Cuma survei sebentar saja dan itu pun dari luar karena Dimas nggak tertarik dengan belajar sepi cuma beberapa murid saja. Terlebih nggak ada perosotan besarnya. Namun yang saya browsing dari internet.
    Biaya pendaftaran: sekitar 300 ribu
    SPP perbulan: berkisar antara 250-500 ribu tergantung dalam seminggu mengambil kelas yang berapa hari.

  3. TK Al Muslim Tambun
    Jarak: jalan kaki 15 menit, motor 5 menit
    Uang pangkal: sekitar 10 juta
    Uang SPP: Sekitar 1 juta
    Belajar: dari jam 08.00-15.00 ada makan siang dan tidur siang

  4. Putra Darma Global School (PDGS)
    Jarak: 5 menit naik motor
    Uang pangkal: sekitar 5 juta
    SPP: sekitar 500 ribu
    Jumlah murid dalam kelas: sekitar 20 orang
    Jumlah guru dalam kelas: 2 orang

  5. Putra Darma Islamic School (PDIS)
    Jarak: 15 menit naik motor
    Uang pangkal: sekitar 4 juta
    SPP: sekitar 400 ribu
    Jumlah murid dalam kelas: sekitar 20 orang
    Jumlah guru dalam kelas: 2 orang

Dari semua itu maka kami sortir lagi dan coret-coret menjadi 3 besar yaitu Al Muslim, PDIS, atau PDGS. Dan karena tiga sekolah ini sudah bagus akreditasinya maka kami (berdasarkan budget) memilih PDIS.

Langkah selanjutnya adalah mengajak Dimas datang langsung untuk melihat calon sekolahnya. Awalnya dia nggak mau masuk dan hanya menunggu di gerbang sekolah sementara ayah dan mamanya masuk mencari informasi pendaftaran. Jangan khawatir, ada satpam yang mendampingi kok.

Lalu, lama-lama dia mau masuk setelah diajak bicara sama ayahnya. Kami diperbolehkan masuk dan melihat suasana belajar mengajar dalam TK. Menariknya, di PDIS ini ruang belajarnya adalah bisa yang disulap menjadi kelas yang bisa menambah daya tarik untuk anak-anak. Saat Dimas masuk kelas, murid-murid dalam kelas menyambut dengan antusias sehingga Dimas merasa “nyaman” dan punya teman baru. Sesudah itu ia mencoba mainan yang ada di sana, lalu kami pulang.

Sampai di rumah, kami membahas tentang calon sekolah Dimas tersebut, dia asik bercerita dan akhirnya saat ditanya, “Kakak mau sekolah di sana nggak?” dan dia menjawab “Mau”.

Kelihatannya sepele ya mau masuk sekolah TK aja kok pakai persetujuan anak. Tapi kami berusaha selalu melibatkan anak-anak dengan apa yang akan dia hadapi nantinya. Kami berusaha menghormati pendapat anak kami sejak dini. Awalnya dia mau sekolah di TK dekat rumah namun setelah datang ke PDIS dia mau sekolah di sana.

Nah untuk bagaimana sih mempersiapkan mental anak-anak kita untuk masuk sekolah, kenapa sih saya akhirnya gak homeschooling dan bagaimana sih mempersiapkan budget untuk pendidikan anak? Saya akan tulis dalam artikel lainnya ya.

Simak terus tulisan saya di blog saya prasetiawatiwahyu.wordpress.com juga ya Moms. Semoga bisa memberi manfaat bagi para orangtua yang sedang mencari sekolah untuk anak.

Semoga bermanfaat.

By: Wahyu Prasetiawati via Babyologist

755 Wahyu Prasetiawati

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Gendong Takkan Membuatnya Menjadi Manja

Mom, ada yang pernah denger orang-orang bilang “Jangan gendong terus, nanti bau tangan”? Benarkah hal tersebut?

Long Trip Holiday Baby Gian (Part 1)

Apakah Moms ingin mengajak si Kecil pergi dengan perjalanan yang jauh? Apa saja yang harus disiapkan?

Pengalaman Menggunakan KB IUD pasca Plasenta

Sejak saya hamil, saya sudah mulai merancanakan KB apa yang akan saya gunakan nanti setelah melahirkan.

Persiapan Dini Agar Postpartum Nyaman Tanpa Baby Blues

Hai bumil-bumil cantik.. sedang hamil anak pertama? Saya pernah merasakan bagaimana excited-nya hamil pertama kali.

Pengalamanku Mengalami Babyblues

Adakah yang merasakan babyblues diawal jadi new mom? Banyak yang mengalaminya, cara mengatasinya bagaimana?

Kids Toilet di Pusat Perbelanjaan

Apakah si Kecil sedang belajar toilet training Moms? Mungkin bisa dicoba mampir ke tempat yang terdapat kids toilet!

Menghadapi Long Distance Marriage (LDM) Dengan Batita dan Kehamilan

Apakah Moms akan atau sedang menghadapi long distance marriage? Tidak prelu khawatir, yuk simak pengalaman mom Melissa!

Pillow Talk saat LDM, Gimana Caranya?

Aku Mama Nadine yang sedang menjalani LDM nih. Pasti ada yang mengalami sama juga ya sepeti mama Nadine.

Say No to Mom Shaming

Sesama ibu, harusnya kita lebih bijak dalam berkata pada ibu lain bukannya saling menghujat

Tips Anti-stress untuk Full Time Mommy

Menjadi full time mommy tentunya bukanlah hal yang mudah. Sejak berhenti kerja, saya merasa kesibukan justru makin bertambah.

Tips Berhemat di Bulan Ramadhan untuk Pasutri!

Bulan Ramadhan memang identik dengan beragam minuman dan makanan khas untuk berbuka puasa.

Tidak Perlu Perlengkapan Baby Ini, Sewa aja Moms!

Hai hai hai Moms and Dads. Siapa disini yang kalap beli perlengkapan baby? Sayaa!

Serunya Bergabung di Babyologist!

Halo Moms, saya mulai bergabung di Babyologist sejak awal bulan Februari 2019.

Pentingnya Peranan Ayah Pasca sang Ibu Melahirkan

Tahukah Dads, bahwa Moms butuh support dari Dads bukan hanya pada saat Moms masih hamil.

Persiapan Photoshoots Newborn Baby

Photoshoot Newborn lagi trend di zaman sekarang, kira-kira apa yang harus disiapkan sebelum melakukan photoshoot?

Seberapa Penting Me Time bagi Seorang Ibu?

Kalo buat aku yang FTM (full time moms) itu sangat sangat penting moms.

Tips Membuat Anak Tidur Nyaman Di Stroller

Bagaimana cara membuat si Kecil nyaman bahkan sampai tertidur di stroller?

Barang yang Wajib Ada Di Diaper Bag Versi Saya

Apa saja barang-barang yang wajib masuk di dalam diaper bag ala Mom Hermawati?

KB Suntik atau IUD (Spiral)?

Moms sedang ingin melakukan KB? Yuk cari tahu positif dan negatif dari KB suntik dan IUD

Kapan Bayi Boleh Diajak Berenang di Kolam Umum?

Mengajarkan bayi untuk berenang banyak manfaatnya, nah berikut ini tips mengajak bayi berenang di kolam umum