Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Mempersiapkan si Kakak untuk Mulai Mengalah pada Adiknya

MY STORY  |  PARENTING  |  TODDLER  |  06 Jun '19


Saat ini, saya duduk ingin berbagi kisah saya sambil menyetel lullaby favorit si kembar dan saat bersamaan berpikir tentang menu si kakak untuk esok dan lusa. Satu badan, Satu jiwa dan satu raga tapi beribu pikiran. Siapakah yang seperti saya?

Kadang, menjadi Ibu sungguh melelahkan. Dalam artian, sungguh tanpa kiasan. Ketika dulu masih hanya mempunyai satu orang anak dan baru memasuki usia 19 tahun, rasanya dunia kurang bersahabat pada saya. Seolah menjadi ibu paling bodoh di dunia yang tidak tahu apapun tentang merawat anak, karena memang kenyataannya begitu.

Memasuki usianya yang ke 3 tahun, rasa lelah itu perlahan mulai menghilang, karena si kakak sudah bisa diajak berkompromi untuk mulai menunggu atau membantu. Memasuki usia yang ke empat tahun, rasa rindu untuk merawat bayi lagi pun kembali muncul, apalagi melihat si kakak yang mulai membutuhkan teman bermain di rumah.

Di tengah kondisi pekerjaan yang naik daun dan memasuki "zona nyaman" dalam merawat anak, memantapkan hati untuk "isi" kembali dan hengkang dari dunia nyaman rasanya lumayan berat. Tapi dari hari ke hari melihat si kakak membutuhkan teman, rasanya tidak tega. Akhirnya, di usia si kakak 4 tahun 3 bulan, si tanda positif itu datang.

Ketika di usia kehamilan 3 minggu dan mencoba untuk periksa ke dokter, si kakak lah yang paling excited. Syukur, setidaknya dia tidak jealous ya. Saat itu saya mulai melakukan afirmasi pada kakak, bahwa kelak dia akan memiliki adik dan menjadi panutan. Dia akan mempunyai fans terbesar dalam kesehariannya. Dan yang pasti dia akan mempunyai teman yang baik sepanjang hidupnya.

Di pemeriksaan kehamilan kedua yaitu usia 8 minggu, barulah diketahui adiknya kembar. Dan si kakak jauh lebih excited lagi dong, karena ternyata afirmasi saya berhasil! saat di USG dia bilang, "Ma, Lily bakal punya dua teman baik Ma!". Saya pun jadi jauh lebih bahagia, karena saya tau dia menerima bahkan menantikan adiknya.

Afirmasi saya berlanjut ke tahap selanjutnya, yaitu mengatakan padanya bahwa si adik adalah pribadi yang lebih kecil yang membutuhkan bimbingan, bantuan dan perhatian lebih.. Sehingga untuk beberapa waktu dia harus mengalah.

Pada awalnya dia bertanya, "Kenapa kok harus ngalah Ma? Kan Lily sama adik-adik sama sama anak mama". Jawaban yang tepat menurut saya adalah, "Karena kakak adalah orang yang dicontoh sama adik. Kalau kakaknya gak mau ngalah, nanti adiknya gitu juga lho. Bagaimana?". Dia sebetulnya belum terima, tapi saya alihkan pembicaraaan. Karena sebetulnya dalam pertanyaan ini hanya waktu yang bisa menjawab. Ketika nanti si kembar sudah lahir dan dia lihat masih belum bisa berbuat banyak, maka dia akan paham dengan sendirinya.

Hari Berlalu, setiap hari saya lakukan afirmasi ke si kakak. Ada beberapa hal yang saya ingin dia dalami di alam bawah sadarnya:

  • Dia disayang. Dia adalah yang pertama dan merasakan kasih sayang utuh dari mama dan papa.
  • Dia adalah seseorang yang mama butuhkan bantuannya kelak.
  • Dia adalah seorang kakak yang harus mandiri dalam merawat dirinya. Karena kelak adiknya akan memuji dia jika dia mandiri
  • Dia selalu ditunggu oleh adiknya dan dia diharapkan oleh adiknya.

Tapi ternyata afirmasi tidak semudah itu ya Moms. Hehehe. Banyak pertanyaan yang akan muncul dari si anak. Tapi rasa penasarannya perlahan-lahan akan terjawab ketika si adik sudah lahir. Selain dari afirmasi secara lisan, saya melakukan beberapa persiapan secara nyata, yaitu:

  • Mengajaknya melakkan pekerjaan rumah tangg yang biasa saya lakukan sendiri.
  • Mulai mengajarinya merawat tubuhnya.
  • Mengganti bahasa " TIDAK BOLEH" dengan "MUNGKIN KITA BISA..."
  • Mengajaknya memlih segala keperluan bayi
  • Selalu memberikan pujian yang berhubungan dengan adiknya, misalnya " Lily pintar sekali bisa pakai baju sendiri, nanti kalau adik lihat pasti terkejut".

Dan ternyata proses persiapan saya untuk si kakak belum selesai. Ketika tau saat persalinan, yang ternyata tepat sehari sebelum ulang tahun si kakak, si kakak pun harus kembali mengalah pada adik-adiknya walau mereka belum lahir. Tapi kembali lagi bersyukur bahwa si kakak paham tentang ini semua. Afirmasi yang saya lakukan untuk hal ini lebih menarik lagi, saya katakan.

"Mama punya hadiah yang besar buat Lily, yaitu dua princess yang bisa Lily ajak main setiap hari!"

Jadi, si kakak menganggap bahwa adik-adiknya adalah hadiah terbesar untuk dia. Dan nyatanya hal ini berhasil! Ketika si kembar lahir, dia bisa menerima dan justru langsung mengajak mereka bermain. Hihihi.

Nah Moms, jadi kesimpulannya. Untuk mempersiapkan kakak harus dimulai dari sedini mungkin dan sesering mungkin. Cara paling manjur adalah afirmasi atau penetapan positif lewat kata-kata.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1163 Jb Bing

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Terrible Two or Terrific Two, Yang Mana Yang Cocok untuk si Kecil?

Si Kecil sering tantrum? Tenang Moms, you're not alone. Yuk simak cerita berikut ini.

Tips & Tricks Potty Training Ala Mama Alby

Moms sedang mempersiapkan si Kecil untuk potty training? Simak tips dan trik berikut ini ya.

Proses Menyapih si Kecil Serta Berbagai Persiapannya Part 2

Yuk simak lanjutan cerita Mom Risya berikut ini tentang proses menyapih.

Kapan Sebaiknya Mengajak Si Kecil Gowes?

Mengajak anak gowes, sebaiknya dimulai sejak usia berapa? Kami pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin untuk memenuhi kualifikasi tersebut.

Yuk, Moms, Cegah Stunting Sejak Si Kecil dalam Kandungan!

Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang harus diatasi sejak dini. Simak penyebab, dampak, dan cara mengatasi stunting pada anak berikut ini.

Belajar Mengenal Angka dengan Tempelan Kulkas

Saya sedang mengajari Stacy untuk mengenal bentuk angka-angka. Namun, saya ingin mengajarinya sambil bermain sehingga Stacy senang dan [...]

Mari Menjalani Fase Teribble Two dengan Bahagia

Keputusan menjadi orang tua dibutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan bukan perkara yang mudah.

Bagaimana agar si Kakak Tidak Cemburu pada Adiknya

Pertanyaan ini sering muncul di hati saya sejak saya mengandung anak ke 2. Moms and Dads juga mengalami yang sama? Yuk simak berikut ini.

Role Model Terbaik Adalah Ayahku

Proses mengandung, melahirkan dan membesarkan buah hati tidak hanya menjadi tugas ibu lho Moms!

Menghadapi Tantrum Anak Usia 14 Bulan

Tantrum, sebuah momok yang sudah tidak asing di telinga orang tua.

Tips agar Anak Tidak Menjadi Pelaku Bullying

Beberapa saat yang lalu warganet dikejutkan dengan kabar meninggalnya artis K-Pop yang bunuh diri karena depresi

Tips Memilih Tontonan Anak

Peran kita sebagai orangtua dalam memberikan hiburan pada si Kecil sangat penting loh Moms

Meningkatkan Bonding antara Ayah dan si Kecil saat LDM

Long Distance Marriage adalah sebuah istilah yang dibuat untuk pasutri yang menjalani pernikahan jarak jauh.

Mengatasi Rasa Cemburu Kakak Terhadap Adik Barunya

Saya ingin sharing tentang pengalaman menjadi Mom of two, karena tanggal 2 November lalu saya melahirkan anak kedua.

Disiplin saat Masih Balita, Pentingkah?

Saat menjadi ibu, naluri & pemikiran saya berkembang, naluri melindungi, menyayangi dsb yang menyangkut anak saya.

Tips Mengajarkan Kakak Menyayangi Adiknya Sejak di Dalam Perut

Walau Daud masih kecil banget & belom ngerti apa itu adik, aku berusaha banget untuk kasih tau dia dari sekarang

Berbagai Aktivitas Agar si Kecil Betah di Dalam Pesawat

Aktivitas berikut ini bisa moms coba agar si Kecil betah di dalam pesawat lho

Punya Dua Balita, Moms Harus Siap Jadi 'Super Mom'

Saya memiliki 2 balita dengan jarak yang cukup dekat, saya jaga & besarkan sendiri tanpa bantuan nanny atau orang tua.

Saat si Kecil Bertanya: Kenapa Bunda Bisa Hamil?

Moms, pasti pernah ya berada dalam momen seperti itu. Atau si Kecil bertanya, aku lahir dari mana sih Bunda?

Orangtua Selalu Membandingkan Anak, Ini Dampak Negatifnya!

Pernahkah di antara kita sebagai orang tua membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau antar saudaranya?