Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Memahami Siklus Menstruasi

OTHERS  |  PILLAR POST 1  |  09 Jun '18

Menstruasi atau datang bulan merupakan salah satu hal yang umumnya di alami oleh para wanita, dan hal ini bersifat normal. Walaupun menstruasi sudah dialami para wanita sejak mereka pubertas, namun nyatanya masih banyak yang tidak memahami betul seperti apa siklus menstruasi.

Siklus menstruasi sendiri merpakan salah satu bentuk perubahan yang ada dalam tubuh para wanita, yang mana terjadi pada bagian organ reproduksi. Mesntruasi umumnya akan terjadi ketika kondisi lapisan dinding rahim atau endometrium yang semakin menebal luruh dikarenakan tidak adanya proses pembuahan sel telur di dalamnya. Setiap wanita juga memiliki siklus menstruasi yang berbeda-beda.

Hormon yang Memengaruhi Fase-fase dalam Siklus Menstruasi

  • Estrogen: Hormon ini diproduksi melalui ovarium yang mana memiliki peranan penting dalam tubuh, terutama pada tahapan ovulasi yang terdapat pada siklus reproduksi wanita.
  • Progesteron: Hormon progesteron umumnya bekerjasama dengan hormon estrogen, yang mana berperan penting untuk menjaga siklus reproduksi serta mampu menjaga kehamilan.
  • Hormon pelepas gonadotropin: Biasanya jenis hormon ini diproduksi oleh sistem otak.
  • Hormon Pelutein (Luteinizing hormone-LH): Hormon ini bertugas untuk merangsan sejumlah sel telur serta proses ovulasi yang mana dihasilkan oleh ovarium.
  • Hormon perangsang folikel: Hormon ini memiliki fungsi untuk membantu sejumlah sel telur yang berada di dalam ovarium yang sudah matang dan kemudian sudah siap untuk dilepaskan.

Fase-fase dalam Siklus Menstruasi

1. Fase Pertama: Menstruasi

Fase pertama menstruasi umumnya akan terjadi selama 3-7 hari. Di fase pertama ini, umumnya bagian dinding rahim akan luruh menjadi darah, yang disebut dengan darah menstruasi. Jumlah darah yang keluar selama masa menstruasi biasanya sebanyak 30-40 ml di setiap siklusnya.

Biasanya, di fase pertama menstruasi ini para wanita akan mengalami beberapa gejala, di antaranya seperti nyeri di bagian payudara, bagian panggul, kaki atau bagian punggung. Bukan hanya itu, rasa nyeri atau bahkan kram di bagian perut juga umumnya dialami di fase pertama menstruasi ini, yang mana kondisi ini diakibatkan oleh adanya bentuk kontraksi yang terdapat di dalam rahim.

2. Fase Kedua: Pra ovulasi dan Ovulasi

Fase menstruasi kedua atau disebut juga dengan fase pra ovulasi merupakan salah satu bentuk fase di mana bagian dinding rahim yang awalnya sempit akan menjadi luruh, dan kemudian mulai menebal kembali. Lapisan dinding rahim tentunya sangatlah tipis, dengan begitu ketika sperma yang masuk mampu melewati lapisan tersebut dengan mudah, dan proses penebalan rahim ini dipicu juga oleh adanya peningkatan hormon dalam tubuh Anda.

3. Fase Ketiga: Pra Menstruasi

Ketika memasuki fase ketiga menstruasi, maka lapisan dinding rahim Anda semakin menebal. Hal ini umumnya dikarenakan adanya folikel yang sudah pecah dan kemudian mengeluarkan sejumlah sel telur, dan hal ini mampu membentuk korpus luteum. Setelah itu, bagian korpus lutetium ini akan memproduksi progesterone yang mana mampu membuat lapisan dinding rahim kembali menebal seperti semula.

Seperti Apa Gejala Menstruasi?

Dalam siklus menstruasi, umumnya para wanita akan mengalami perubahan kadar hormon, terutama pada masa sebelum menstruasi. Adanya perubahan jumlah hormon ini pastinya akan mempengaruhi emosi juga fisik Anda dalam beberapa hari, dan gejala ini disebut sebagai sindrom prahaid atau PMS.

Perubahan-perubahan fisik dan emosi yang umumnya terjadi sebelum masa menstruasi di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Lelah.
  • Sakit kepala.
  • Perut kembung.
  • Payudara yang sensitif.
  • Kenaikan berat badan.
  • Nyeri pada otot dan sendi.
  • Kenaikan berat badan karena penumpukan cairan.
  • Diare atau konstipasi.
  • Muncul jerawat.

Sementara itu, perubahan emosi yang biasanya di alami banyak wanita ketika masa PMS adalah sebagai berikut:

  • Depresi.
  • Sering uring-uringan.
  • Suasana hati yang tidak stabil.
  • Sulit konsentrasi.
  • Mudah menangis.
  • Insomnia.
  • Perubahan nafsu makan.
  • Kecemasan berlebihan.
  • Turunnya rasa percaya diri.
  • Gairah seks yang menurun.

Sakit Perut Ketika Menstruasi

Nyeri atau sakit perut ketika masa menstruasi merupakan hal yang normal, hal ini dikarenakan adanya proses kontraksi yang terjadi di dalam rahim atau kandungan. Kontraksi ini umumnya dipicu oleh sejumlah hormon prostaglandin, yang mana kadarnya akan meningkat sebelum masa menstruasi terjadi.

Akan tetapi, tidak semua nyeri atau sakit perut selama menstruasi merupakan hal yang normal. Karena nyatanya ada beberapa hal yang bisa mendasari nyeri di bagian perut selama masa menstruasi, dan hal tersebut sebaiknya Anda waspadai, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sindrom pramenstruasi (PMS). Kondisi ini merupakan hal yang normal.
  • Endometriosis.
  • Fibroid rahim.
  • Penyakit radang panggul (PID)
  • Adenomiosis.
  • Penyempitan serviks.

Bagaimana cara mencegah dan mengatasi nyeri perut saat haid?

Agar Anda bisa mengurangi sakit perut karena haid, Anda hanya perlu memiliki waktu istirahat yang cukup. Selain itu, Anda juga harus bisa menghindari konsumsi kafein dan alkohol, serta menghindari makanan yang memiliki kandungan garam dalam jumlah yang banyak. Cara lain yang bisa Anda lakukan guna mengurangi rasa sakit perut yaitu dengan menjalankan olahraga secara teratur, atau juga dengan memijat bagian bawah punggung serta perut.

Jika memang diperlukan, Anda juga bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit, seperti ibuprofen dan beberapa jenis obat lainnya. Namun jika rasa sakit tetap Anda rasakan, apalagi semakin hari semakin kuat, maka sebaiknya Anda segera menghubungi dokter guna mengetahui kondisi Anda yang sebenarnya dan segera mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor.

BACA JUGA: Pentingnya Mempersiapkan Dana untuk Bayi Tabung

82 Babyologist Editor Send Message to Writer

Related Stories