Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Melahirkan Bayi dengan BB di Atas Rata-Rata secara Normal

MY STORY  |  PREGNANCY  |  13 Jul '19


Ya, saya pun terkadang masih takjub sampai sekarang bisa melalui proses persalinan secara normal untuk kedua anak saya. Bukan karena saya yang hebat tapi semua tak lain kuasa dari Allah SWT semata. Saya pun hanya berikhtiar dengan apa yang bisa saya lakukan. Bersyukur sekali dari awal kehamilan anak pertama sudah menemukan klinik yang nyaman untuk saya berkonsultasi, kontrol hingga persalinan. Salah satu klinik persalinan di kota saya yang menerapkan gentlebirth atau persalinan nyaman minim trauma. Karena memang sejak awal sebelum hamil saya menginginkan persalinan saya nanti secara normal.

Jujur saya takut dengan namanya operasi, takut tindakannya dan biayanya. Tapi bukan berarti saya anti SC. Prinsip saya adalah selama kondisi saya dan bayi saya oke maka saya akan berusaha untuk melahirkan secara normal. Pilihan SC diambil jika benar-benar dalam kondisi darurat. Bidan pun menyampaikan kepada saya kalau untuk bisa melahirkan normal tidak hanya sekedar keinginan, tapi harus dibarengi dengan ikhtiar, pemberdayaan diri dan afirmasi positif. Plus tetap harus menyiapkan plan B jika terpaksa harus dilakukan tindakan SC dengan mempersiapkan RS rujukan. Jadi lahiran normal tidak segampang bim salabim begitu saja.

Saat kehamilan anak pertama waktu itu, alhamdulillah semua berjalan normal. Perkembangan janin bagus, saya mengalami morning sickness seperti ibu hamil pada umumnya. Tidak ada kendala berarti. Hingga akhirnya memasuki trimester ketiga ketika nafsu makan saya kembali normal, saya yang seharusnya sudah mulai melatih untuk mengontrol asupan makanan agar BB bayi saya tidak terlalu besar, kesulitan untuk mengontrol hasrat ingin memakan segala macam makanan. Hasil USG saat itu juga BB bayi saya belum 2 kg, jadi saya pikir tidak apa-apa. Sampai akhirnya memasuki bulan ke 8 dan ke 9 BB anak saya naik dengan cepat. Usia 36 minggu sudah 3kg, saya pun disarankan untuk diet karbo dan makanan manis. Cukup berat tapi apa boleh buat. Puncaknya saat usia 37 minggu hasil USG menunjukkan prediksi BB anak saya sudah 3.5 kg hanya jeda 1 minggu. Sayapun disuruh stop karbo. Cukup stress saat itu. Takut jika saya tidak bisa melahirkan secara normal dengan BB sebesar itu. Bahkan saat USG di klinik lain si bidan mengatakan bahwa bayi saya harus segera dikeluarkan karena BB nya besar alias harus SC, WHAT?? Tapi saya cuekin sambil menunggu USG di klinik langganan saya buka kembali. Ketika di cek perkiraan BB nya sekitar 3.3 kg. Saya agak sedikit lega. Kemudian diberilah saya banyak PR untuk dilakukan setiap hari dengan tujuan untuk mempersiapkan menjelang persalinan diantaranya dengan jalan kaki selama 2 jam / hari, squat 300x / hari, makan kurma 7 butir / hari, konsumsi jus buah bit, mendengarkan murrotal, - naik turun tangga, dan lain sebagainya.

Seminggu setelah kontrol terakhir akhirnya saya melahirkan anak pertama saya yang ditandai dengan pecah ketuban pukul 2.20 pagi kemudian gelombang cinta alias kontraksi datang semakin intens, dan bukaan 1 hingga lengkap selama kurang lebih selama 9 jam. Selama menunggu bukaan lengkap saya diarahkan bidan untuk banyak jalan kaki disekitar kompleks klinik dan juga duduk di birthing ball. Akhirnya tepat setelah maghrib, setelah merasakan kontraksi, anak pertama lahir dengan BB 3.5 kg, secara normal, seperti yang saya harapkan. 

Berbeda dengan kehamilan anak pertama yang penuh dengan mood swing, kehamilan anak kedua saya merasa lebih enjoy dan santai (hanya berjarak 1.5 tahun dari anak pertama). Meskipun morning sickness nya lebih parah, tapi saya masih bisa bekerja hingga H-1 sebelum lahiran. Namun kehamilan anak kedua ada beberapa tantangan yang harus saya hadapi. Mulai dari HPHT (hari pertama haid terakhir) yang tidak jelas karena haid saya tidak teratur sehingga tidak jelas usia janin dan HPL saya.

Bayi saya juga sempat terlilit tali pusar, sayapun sounding "dek, kalungnya dilepas ya". Plasenta diposisi bawah, sempat panik tapi alhamdulillah tidak sampai menutup jalan lahir. Posisi bayi sempat sungsang, saya pun diajari teknik mengembalikan posisi bayi ke posisi seharusnya dengan cara menungging, perbanyak posisi sujud, dan tak lupa saya sounding sambil mengelus perut, "dek, ayo muter ke posisi yang benar ya". Alhamdulillah dicek lagi posisi nya sudah kembali normal. Dan.. tantangan terakhir, seperti anak pertama, menjelang HPL BB anak kedua saya juga drastis sekali kenaikannya. Sepertinya memang gen saya dan suami yang tinggi besar. Saat itu dicek BB 3.8 kg, saya dan bidanpun shock. Sekali lagi saya mengalami ini. Dan lagi lagi saya pun hanya bisa pasrah kepada Allah, bahwa saya (meskipun sebenarnya tidak yakin) bisa tetap melahirkan secara normal.

Sepulang kontrol, malamnya saya menangis karena stres. Saya takut saya harus berakhir di meja operasi. Suamipun menguatkan saya bahwa saya bisa. Kondisi saya dan bayi semua baik-baik saja. Saya berdoa dan tak lupa sounding ke dedek "nak, ayo kita berjihad bersama", antara pasrah dan menguatkan diri sendiri. Keajaiban pun datang, dini hari saya merasakan kontraksi palsu dan paginya ketuban saya pecah. Alhamdulillah.. Ayo nak kita berjuang bersama. Gelombang cinta datang langsung intens dan saya pun segera berangkat ke klinik hanya ditemani suami. Sampai di klinik, setengah jam kemudian bayi saya lahir bersamaan dengan siraman air ketuban. Prosesnya sangat cepat karena bukaannya juga cepat. Bidan saya pun terbengong-bengong "MasyaAllah besar banget kamu nak". Dan anak kedua sayapun ditimbang, menunjukkan angka 4.235 kg. MasyaAllah... Allah Maha Besar. Bahagia dan bersyukur masih bisa melahirkan secara normal, cepat, dan dengan 4 jahitan dalam, untuk my big baby boy. Tak ada yang tidak mungkin selama kita mau berusaha secara optimal. Setelah berikhtiar, serahkan semua kepada Nya.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

484 Ummu Syifa

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Positive Thinking, Modal Utamaku Atasi Bayi Sungsang Menjelang Persalinan

Trimester ketiga merupakan masa yang membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi ibu hamil.

Tips Memilih Klinik atau Rumah Sakit untuk Bersalin

Melahirkan menjadi momen yang ditunggu sekaligus momen yang bikin deg-degan bagi Moms.

5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Melakukan USG 4D

Seiring dengan perkembangan teknologi, alat kedokteran pun kian canggih. Termasuk juga alat untuk USG si Kecil

Bagaimana Rasanya Melahirkan Normal? (Part 1)

Dengan cara apa pun seorang Ibu melahirkan, semua Ibu hebat dan memiliki perjuangannya masing-masing.

Suamiku Mengambil Keputusan Operasi Caesar Ketika Melihatku Sangat Lemas

Setiap ibu hamil tentu menginginkan bayinya lahir dengan sehat, selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Cerita Kehamilanku

Masing-masing wanita mempunyai cerita kehamilan yang berbeda. Begitu pun dengan Saya.

Benarkah Mandi Kembang 7 Bulan dapat Melancarkan Proses Persalinan?

Di daerah saya tradisi mandi kembang di usia 7 bulan kehamilan masih sering dilakukan masyarakat sekitar.

Cerita Persalinan Pertamaku, Hampir Caesar di Menit Terakhir

Moms yang sudah mendekati HPL pasti sudah mulai resah, antara bahagia dan khawatir.

Pengalaman Saya Menggunakan BPJS Kesehatan selama Masa Kehamilan

Di awal pernikahan kami, saya dan suami memutuskan untuk menggunakan BPJS Kesehatan.

Birthball untuk Ibu Hamil!

Minggu lalu, suami saya menawarkan untuk membeli birthball. Mungkin karna ukuran perut sudah semakin besar

Pengalaman Melahirkan Anak Pertamaku

Kehamilan merupakan suatu hal yang ditunggu-tunggu bagi para pasangan suami istri. Ada yang cepat ada pula yang tidak.

Birthing Support: Hal yang Harus Dilakukan Para Birth Partner

Birth partner adalah seseorang yang akan menemani Moms selama proses persalinan nanti.

Berniat USG 4D? Perhatikan Tiga Hal Berikut!

Kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman tentang niat saya untuk USG 4D saat hamil.

Proses Lahiran yang Terbaik Buat Aku

Di sini aku akan berbagi cerita-cerita tentang proses lahirnya Caelan 3 bulan lalu. Simak yuk Moms!

Hospital Bag Checklist

Berhubung banyak temenku yang akan lahiran soon, jadi ingat zaman hamil Zo bingung banget mau packing apa.

Pengalamanku Alami Plasenta Previa di Kehamilan ke 3

Sore hari saat mau mandi sore, saya dibuat kaget karena mendapati air kencing saya berwarna merah segar.

Punya Baby Brain Tetap Bisa Lulus S2

Hai Moms, saya mau share tentang baby brain yang saya alami saat hamil si Kecil khususnya pada trimester ketiga.

LITMUS: Pendeteksi Cairan Ketuban

Di usia kehamilan trimester tiga kita harus lebih waspada terhadap penurunan volume air ketuban.

Arlin's Birth Story

Hi Moms! Kali ini saya ingin berbagi ceritaku nih selama proses melahirkan. Semoga bisa menambah wawasan.

Senam atau Yoga Hamil?

Di antara Moms mungkin ada yang memilih senam atau yoga. Banyak juga yang bingung mana yang lebih baik.