Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Mari Kita Pahami Kondisi Psikis Ibu yang Baru saja Melahirkan

MY STORY  |  OTHERS  |  08 Sep '19


Menjadi seorang Ibu merupakan suatu hal yang menurut saya ajaib. Bagaimana tidak, ketika sebelumnya calon Ibu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maka ketika dia telah "resmi" menjadi seorang Ibu dituntut untuk dapat merawat dan mendidik anak dengan baik. Sungguh perlu dukungan penuh dari lingkungan yang positif, baik dari sang Ayah, anggota keluarga lain, serta lingkungan sekitar tempat tinggal. Ungkapan, "It takes a village to raise a child."  sungguh benar adanya.

Tiga tahun yang lalu, tepat sehari setelah hari kemerdekaan Republik Indonesia, saya berjuang sendirian di kamar operasi untuk melahirkan anak saya. Menjadi "anak rantau" membuat saya harus ikhlas menerima kenyataan bahwa saya harus bisa merawat bayi dengan hanya ditemani oleh suami. Mertua dan orang tua sempat menengok selama kurang lebih dua minggu awal kelahiran anak saya untuk mengajari berbagai macam hal, seperti cara memandikan bayi, menyusui, membedong, menggendong, dan banyak lainnya. Meski disertai dengan mitos-mitos yang...yaah, cukup menguras emosi ketika kita menghadapinya. Puting yang lecet hingga luka dan berdarah menjadi awal mula permasalahan, belum lagi jam tidur yang sangat kurang merupakan penyebab emosi saya menjadi tidak stabil. 

Saat mertua dan orang tua kembali ke kampung halaman, bukan berarti persoalan emosional selesai. Saya harus berjuang merawat anak saya sendirian karena saya memang hanya tinggal berdua dengan suami tanpa pengasuh bayi dan PRT. Disamping harus rutin menyusui, memompa ASI, dan mencuci peralatan ASIP, saya juga harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Saya pun kekurangan waktu untuk diri sendiri. Jangankan istirahat cukup, untuk sekedar buang air ke toilet saja selalu diiringi dengan tangisan anak saya yang meraung-raung. Belum lagi saat itu, jasa layanan antar makanan belum seramai sekarang. Sehingga saya yang seharusnya sebagai ibu menyusui mendapatkan nutrisi yang cukup dari makanan, tidak ada waktu dan tenaga untuk memasak, harus "rela" menahan lapar dan baru bisa makan setelah suami pulang kerja saat petang hari. Kondisi tersebut diperparah dengan pertumbuhan berat badan bayi saya yang kurang karena ASI saya kurang nutrisi, ditambah saya juga saat itu sangat idealis dan berpandangan bahwa anak saya harus full ASI hingga usia dua tahun.

Sebagai Ibu saya merasa gagal merawat anak saya. Stress, tentu saja. Lelah dengan rutinitas merawat bayi saya. Belum lagi ditambah dengan omongan tetangga kanan kiri disertai dengan bermacam-macam isu yang tentu saja sebenarnya sangat menggelikan. Bahkan ketika saya mengeluh pada beberapa orang di lingkungan rumah tinggal dan merasa saya sudah tak sanggup lagi hidup seperti ini, banyak dari mereka yang justru menertawakan atau menyalahkan saya sebagai Ibu. Mereka menganggap bahwa wajar saja seorang Ibu baru kerepotan mengurus anaknya. Tetapi yang mereka tidak pahami adalah bagaimana kondisi batin saya. Beberapa kali terlintas dalam benak saya, lebih baik saya bunuh diri saja atau lebih baik saya pergi sendirian dari rumah ini. Namun terkadang pikiran buruk tersebut hilang ketika melihat bayi saya terlelap.

Dukungan penuh dari suami sangat penting didapatkan oleh Ibu. Suami selalu meyakinkan saya bahwa semua akan ada masanya, bahwa tidak selamanya hidup akan seperti ini. Suatu saat anak akan bertumbuh besar dan kami bisa melakukan banyak hal lain yang tertunda. Meski sebenarnya jika beberapa orang bertanya pada saya, "Sudah siapkah saya untuk hamil dan melahirkan kembali?", sudah tentu jawabannya adalah BELUM dan mungkin tidak akan siap. Saya merasa bahwa pengalaman merawat bayi saya kemarin adalah hal yang tidak menyenangkan dan penuh drama. Bahkan saya menduga, meski masa baby blues telah lewat, maka yang kini saya alami adalah post partum depletion/transition.

Pesan saya untuk para ibu: Ibu, kamu sudah sangat hebat melalui semua ini. Percayalah bahwa semua akan baik-baik saja. Jangan pedulikan komentar negatif orang lain tentang dirimu dan anakmu. Ibu tidak sendirian, di luar sana banyak sekali Ibu yang mengalami hal yang sama. Cari info yang valid sebanyak-banyaknya, tanamkan dalam diri bahwa saya adalah Ibu yang hebat, bergabung dengan komunitas ibu yang mengalami keluhan yang sama, dan konsultasikan dengan dokter bila kondisi psikis Ibu sampai pada tahap yang membahayakan. Tak lupa, saya berpesan pada tetangga di lingkungan Ibu yang baru saja melahirkan bayinya, Jangan sekali-kali melontarkan komentar negatif untuk Ibu tersebut karena anda tidak akan tahu apa yang anda akibatkan pada Ibu dan anaknya dari komentar yang anda lontarkan atas dasar basa-basi tersebut. Berikan dukungan yang positif dan pahami kebutuhannya.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

248 Endah Retnowati

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Manfaat Air Purifier untuk Pencegahan Virus

Partikel udara kotor ternyata dapat mempercepat penyebaran virus. Air purifier efektif untuk membantu menghilangkan partikel udara kotor.

Waspadai Banjir Bersama si Kecil Saat Musim Hujan

Salah satu masalah besar yang tidak bisa dihindari saat musim hujan adalah bencana banjir.

Tidak Hanya Melembabkan Udara, Berikut Manfaat Humidifier Lainnya

Humidifier tidak hanya berguna untuk melembapkan udara lho Moms, masih banyak manfaat yang bisa didapat dari humidifier

Pentingnya Mengatur Kelembapan Ruangan

Udara yang panas dan penggunaan AC yang sering menyebabkan kulit kering. Maka dari itu Moms perlu alat yang satu ini

Perlukah Air Humidifier untuk si Kecil?

Apa saja sih manfaat yang dapat dirasakan setelah menggunakan air humidifier bagi kesehatan si Kecil dan keluarga?

Ruangan Ber-AC Membuat Kulit Kering? Yuk Moms Pakai Humidifier!

Penggunaan AC setiap hari bisa membuat kulit kering, tapi tenang Moms ada solusinya untuk mengatasi kulit kering

Tidak Hanya Ibu, Ternyata Ayah Juga Rentan Mengalami Baby Blues

Baby blues yang biasa kita tau dapat menyerang seorang Ibu baru, tapi ternyata suami saya juga mengalaminya

Suami Jadi Tak Humoris? Jangan-Jangan Baby Blues

Baby blues selalu menjadi perbincangan hangat di dunia parenting dan ternyata suami juga berpotensi mengalaminya lho

Syndrome Baby Blues yang Dialami oleh Suamiku

Baby blues pada ayah berbeda dengan baby blues yang terjadi pada ibu akibat perubahan hormon pada wanita.

Baby Blues yang Terjadi pada Suamiku

Saat si Kecil lahir, tentu saya banyak sekali melihat perubahan yang terjadi dalam diri suami saya.

Ketika Suami Baby Blues, Ini Cara Saya Menanganinya

Aku ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana awal suamiku terkena baby blues dan bagaimana aku menyikapinya.

Cerita Syndrom Baby Blues yang Menimpa Suamiku

Lain anak, lain cerita. Saat anak kedua kami lahir, justru suami sayalah yang mengalami sindrom baby blues.

Baby Blues yang Dialami Ayah saat Kelahiran Anak Keduaku

Halo moms, sedikit cerita, saya ibu dari dua orang anak dimana umur saya dan suami berbeda 4 tahun.

Mengalami Baby Blues secara Bersamaan, Aku dan Suamiku Menjadi Semakin Mesra

Setelah menikah, saya memilih meninggalkan comfort zone saya di rumah orangtua, untuk ikut dengan suami

Waspada Pre-Baby Blues pada Suami!

Sepuluh tahun saya berpacaran dan akhirnya sampai di jenjang pernikahan.

Tipsku agar Daddy Blues Tidak Berujung Depresi

Memiliki anak adalah life changing moment bagi para pasangan. Mereka memiliki title baru, sebagai "orang tua".

Aku Tidak Baik-baik Saja

Ada perasaan takut ketika aku hanya sendirian di rumah bersama bayiku. Bayiku berusia dua minggu saat itu.

Pengalaman Baby Blues Dan Beberapa Faktor Penyebabnya

Baby blues pernah dirasakan sebagian besar ibu. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan baby blues

Cemburu Sama Anak Akibat Baby Blues

Sempurna: lahiran normal, pembukaan cepat, ASI lancar, keluarga besar siap membantu, tapi tetap alami baby blues?

Takut Mencari Informasi Karena Baby Blues

Saya pun tersadar mencari informasi itu penting, membantu saya menemukan solusi dan tidak panik dalam mengurus newborn