Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Manfaat dan Bahaya Makanan Ala Vegan untuk Tumbuh Kembang Anak

BRANDS  |  FEEDING  |  HEALTH TIPS  |  TODDLER  |  17 Jun '19


Kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita membuat banyak orang mulai berpikir untuk ikut membantu menyeimbangkan ekosistem kita. Salah satu cara mudahnya adalah dengan cara hanya mengonsumsi sumber makanan dari tumbuhan atau biasa disebut diet vegan. Sebab, pada dasarnya tumbuhan memiliki nutrisi yang hewan miliki. Contohnya, kita dapat mengonsumsi tempe atau tahu jika ingin memenuhi asupan protein kita.

Menurut beberapa penelitian, diet vegan disebut-sebut sebagai cara yang sehat karena banyak manfaatnya bagi kesehatan orang dewasa. Hal inilah yang membuat diet vegan kian populer bahkan hingga ke Indonesia. Diet vegan memang dikenal sangat menyehatkan, namun, bagaimana jika cara ini dilakukan kepada anak-anak terutama bagi balita?

Jika dilakukan dengan baik dan tetap memenuhi auspan nutrisi harian, diet vegan tentunya baik untuk si Kecil. Namun, jika dibandingkan dengan diet biasa (campuran sumber makanan hewani dan nabati), diet vegan bagi si Kecil juga memiliki kekurangan ya, Moms.

Manfaat Diet Vegan untuk Anak

Penelitian menunjukkan bahwa diet vegan mampu mencegah tubuh terserang penyakit degeneratif dan menperlancar pencernaan. Pada anak, diet vegan dapat mengurangi resiko obesitas saat ia dewasa nanti. Saat pola makan berubah menjadi vegan, frekuensi buang air besar (BAB) memang menjadi lebih teratur dan lebih sehat karena menghilangkan produk hewani.

Kekurangan diet vegan untuk si Kecil

Kekurangan diet vegan jika diterapkan pada si Kecil, terutama di Indonesia, ternyata bisa mempengaruhi kondisi fisik dan psikologisnya.

1. Si Kecil beresiko kekurangan vitamin pada masa pertumbuhannya

Secara umum, vegan beresiko kekurangan vitamin B12, zat besi, seng, dan kalsium karena kebanyakan berasal dari produk hewani. Sangat sulit bagi anak-anak untuk mendapatkan vitamin B12 yang cukup tanpa mengkonsumsi susu atau telur. Kekurangan vitamin ini, dapat menyebabkan beberapa masalah neurologis.

2. Si Kecil merasa terpisah karena berbeda dengan temannya

Ketika teman-teman lain makan daging, keju, atau telur, si Kecil mungkin merasa terpisah karena dilarang makan makanan tersebut. Selain itu, mengikuti diet ketat atau sangat terspesialisasi dapat menyebabkan perilaku makan terbatas di kemudian hari.

3. Anak yang menjalani diet vegan biasanya lebih kurus dari teman sebayanya

Kebetulan atau tidak, anak-anak yang mengadaptasi pola makan vegan cenderung 'lebih kurus' daripada yang dibiasakan makan daging. Banyak ahli yang mewanti-wanti jika pola makan semacam ini tidak menyehatkan bagi anak-anak.

4. Kekurangan nutrisi dari produk susu

Susu pengganti seperti susu almond atau susu kedelai pada dasarnya nilai nutrisinya berbeda dengan susu hewani. Kondisi ini dapat memicu penyakit tulang pada anak-anak yang dikaitkan dengan tingginya konsumsi susu kedelai yang juga rendah kalsium.

Apabila Moms tetap ingin menerapkan pola makan yang biasa Moms terapkan tersebut pada anak, maka Moms harus memastikan bahwa anak cukup mengonsumsi makanan sumber protein nabati sebagai pengganti protein hewani yang tidak dimakannya.

Mengajarkan si Kecil jadi Vegan Bukan Sekedar Mengajarkanya Makan Sayur

Seperti disebutkan di atas, salah satu alasan mengapa seseorang menjadi vegan bukan semata-mata karena tren atau ingin ikut-ikutan gaya hidup sehat saja. Ada misi yang yang lebih penting dari pada itu, yakni menyelamatkan bumi kita. Adapun langkah sederhana untuk mengajarkan si Kecil jika Mom menginginkan ia menjadi vegan adalah mengajarinya pentingnya buang sampah pada tempatnya, memberinya alat makan biodegradable dan menjelaskan mengapa tempat makan tersebut baik untuk bumi kita. 

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1323 Mother's Corn

Comments

Related Stories