Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Manajemen Diri & Mempersiapkan Anak Pertama Menjadi Seorang Kakak

MY STORY  |  PARENTING  |  03 Dec '19


Sejak awal menikah, suami dan saya tidak pernah menunda untuk memiliki momongan. Tiga bulan pasca menikah saya hamil anak pertama. Lalu untuk punya momongan lagi, kami pun tidak juga menunda dan oleh karena itu saya dan suami sepakat untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kemudian, saat si Kakak berumur 1 tahun 2 bulan, kami diberikan kepercayaan lagi untuk memiliki momongan sehingga saat si Adik lahir usianya terpaut 22 bulan dengan Kakaknya.

Mungkin bagi sebagian orang usia anak pertama saya dan anak kedua sangat dekat sekali sehingga tidak jarang orang-orang beranggapan kami akan sangat repot ketika mengurus anak-anak kami. Tapi kami tidak pernah khawatir dengan anggapan orang-orang tersebut, yang terpenting adalah dukungan keluarga dekat yang sudah sangat maksimal menjadi kekuatan kami untuk menjalani lembaran kehidupan sebagai orang tua dengan dua anak.

Saya ingin cerita sekilas tentang riwayat kehamilan pertama saya yang kemudian berdampak pada kehamilan kedua. Awal kehamilan, suami dan saya sudah memilih dokter obgyn yang benar-benar kami kenal dan kami merasa nyaman dengan beliau. Saya di awal sudah mengatakan kepada dokter mengenai keinginan melahirkan secara normal, dan syukurnya beliau sangat mendukung hal itu.

Pada saat kontrol yang terakhir, berat bayi saya sudah mencapai 3,7 kg yang dimana ukurannya ‘wow’ bagi saya. Akhirnya tiba saatnya saya merasakan kontraksi di tanggal 29 Juli 2017, dan saat subuh kami menuju rumah sakit karena saya sebenarnya tidak sabar mengetahui saya sudah bukaan berapa. Di rumah sakit ternyata baru bukaan satu dan saya diminta menunggu sembari berjalan-jalan. Untuk mencapai bukaan akhir saya tidak memerlukan waktu yang lama.

Sekitar pukul 15.00 Wita, ‘gelombang cinta’ itu makin kuat. Dokter obgyn kemudian mengobservasi dan menyatakan bahwa saya sudah bukaan lengkap, namun entah mengapa kepala bayi tidak dalam posisi siap untuk keluar. Jadilah dokter meminta saya menunggu hingga 30 menit lagi. 30 menit lagi dokter datang namun tidak ada perkembangan. Akhirnya, diputuskan jika bayi kami harus lahir dengan operasi caesar. Setelah lahir ternyata bayi saya beratnya 4090 gram, yakni hampir 4,1 kg. Mungkin itu penyebab saya tidak bisa melahirkan dengan normal.

Lalu, kehamilan kedua ini saya tidak berkeinginan mengganti dokter obgyn karena sudah merasa cocok. Dokter kami sudah dari awal mengingatkan karena jarak anak pertama dan kedua saya lumayan dekat, dokter tidak berani mengambil risiko untuk saya melahirkan secara normal, jika si Kakak sudah 2 tahun lebih barulah dokter mengijinkan saya untuk melahirkan secara normal. Tapi, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi saya dan suami, tinggal kami yang saat itu harus mulai mempersiapkan segala sesuatunya.

Hamil anak kedua ini, saya merasakan hal yang sama dengan hamil anak pertama, yakni sama-sama mual jika mencium bau dapur apalagi masakan. Terbersit dalam hati, apakah saya akan punya anak laki-laki lagi ya? Ternyata benar, anak kedua saya positif adalah laki-laki. Dalam hal menjalankan kegiatan tentunya akan lebih berbeda. Saya tetap bekerja seperti biasa sambil mengurus anak yang pertama. Naluri seorang anak yang tahu akan memiliki adik memang lebih ingin dekat dekat ibunya.

Anak saya sering meminta saya menggendongnya, dan saya tidak bisa menolak di awal-awal kehamilan, hanya saja saya memberikan waktu tidak terlalu lama untuk menggendongnya, lama-lama anak pertama saya bisa sedikit memahami. Kondisi fisik menjadi hal yang paling saya perhatikan saat hamil kedua ini, karena ketika saya terlalu banyak berkegiatan tubuh menjadi mudah lelah. Oleh karena itu, saya tidak pernah absen meminum obat-obatan dari dokter dan makan makanan yang bergizi, serta minum suplemen tambahan agar tidak eneg minum air putih terus.

Secara mental, kehamilan kedua ini memang lebih banyak tantangannya. Menghadapi si Kakak yang tidak bisa diam, lari kesana kemari, tekanan pekerjaan, kebutuhan yang mulai bertambah sehingga harus benar-benar baik mengelola pemasukan dan pengeluaran, hingga komentar-komentar orang mengenai bentuk tubuh yang sangat mengembang. Jika saya pikirkan itu terlalu ruwet mungkin saya stres sendiri dan berdampak tidak baik bagi janin yang saya kandung. Untuk itu, untuk mengantisipasinya saya sering mendengarkan lagu-lagu yang saya suka saat bekerja, kemudian berjalan-jalan atau nonton dengan suami serta membagi keruwetan pikiran saya dengan dia atau sahabat dekat saya.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana agar kakak tidak cemburu pada adiknya. Saya sangat concern terhadap hal ini karena sebelumnya ketika saya kecil saya sangat cemburu dengan adik sampai menggigit pipinya. Agar tidak terulang kembali pada anak saya, sebisa mungkin suami dan saya benar-benar memperhatikannya apapun tingkahnya. Serta, setiap malam saya selalu berbisik pada anak saya dalam tidurnya, bahwa “adik sayang kakak dan kakak sayang adik.” Saya pun kemudian merasakan saat masih adiknya di dalam kandungan, kakaknya selalu menghampiri dan memegang perut saya sembari berkata “adiikkk.” Suami dan saya bahagia sekali ketika tahu si Kakak se-exited itu menunggu adiknya. Bahkan, sampai sekarang si Kakak sangat perhatian dengan adik, misalnya mencium atau mengelus-elus adiknya yang sedang tertidur.

Ini beberapa hal yang saya lakukan untuk mempersiapkan anak pertama saya menjadi seorang kakak:

1. Perhatikan setiap kata-kata yang ia ucapkan dengan berkomentar atau bertanya balik, agar ia selalu merasa kita sebagai orangtuanya tidak pernah memperhatikannya.

2. Berikan pengertian dengan penjelasan menyenangkan bahwa akan ada anggota baru datang. Misalnya, “Nanti kakak kalau main bola ada temannya lho kan jadi seru main bolanya” atau “Kalau adik sudah bisa lari, ajarkan adik main bola ya Kak”

3. Memberikan afirmasi positif pada anak dengan berbicara sebelum tidur atau membisikan di telinganya bahwa “Adik sayang kakak” atau sebaliknya.

4. Ketika adiknya lahir, seringkali ia merengek pada kita untuk diperhatikan. Setelah menyusui si adik saya menidurkan adik atau menitipkan pada suami atau orang tua untuk digendong, lalu saya bermain bersama kakak. Atau ketika saya sedang menenangkan adik yang menangis dan kakak minta main bersama saya, saya selalu memberinya jumlah waktu untuk saya dapat menyelesaikan tugas saya. Misalnya “Kakak pengen main sama Ibu ya? Tunggu 10 menit lagi ya”

Memang, tidak mudah moms, tapi dengan cinta dan kasih sayang yang kuat kita bisa menjalani peran kita sebagai Ibu, mengingat kita diberikan kepercayaan untuk memiliki keturunan sebagai penerus generasi kita harus sangat bersyukur kepada Nya dan bertekad akan menjaga sebaik-baiknya titipan-Nya. Bagi ibu-ibu di luar sana yang membaca cerita saya ini, saya yakin pasti bisa dan semoga cerita ini menginspirasi ya.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

900 Nanda Munidewi

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Tips Ajarkan Empati pada Anak Sejak Dini

Supaya si Kecil memiliki empati dalam hidupnya, orang tua perlu mengajarkan dan mengasah kepekaannya.

4 Tips Melatih Balita Bicara

Gimana caranya supaya si Kecil bisa mahir berbicara dengan cepat?

Helicopter Parenting Itu Apa? Ini Ciri-cirinya!

Rasa cinta dan kasih sayang orang tua ternyata bisa menjadi sesuatu yang tidak menyehatkan. Sebenarnya, kapan sepasang orang tua melanggar [...]

Kapan Waktu yang Tepat Sekolahkan Si Kecil?

Sebagai orang tua, Moms & Dads pun pasti telah berpikir untuk menyekolahkan si Kecil di sekolah yang paling baik dan tepat.

Mendidik Anak dengan Pamali, Perlukah?

Pamali artinya apa sih? Istilah ini mungkin lebih dikenal oleh orang-orang zaman old ketimbang anak-anak Millenial atau Gen Z.

Belajar dari Tragedi Kanjuruhan, Ini 10 Tips Ajarkan Si Kecil Terima Kekalahan

Belajar menerima kekalahan sejatinya merupakan bagian yang sangat penting dalam perkembangan kesehatan anak.

Didik Anak di Era Digital, Bagaimana Caranya?

Moms & Dads mungkin bingung yah bagaimana cara supaya si Kecil screentime-nya tidak berlebihan padahal di sisi lain sudah tidak mungkin [...]

Kerja dan Jaga Anak Tetap Fit? 🤯

Moms sering kewalahan ga sih kalau harus kerja sambil jaga Si Kecil? Yuk Intip tips tetap fit dari

Uang Sekolah Makin Mahal, Gimana Cara Mempersiapkannya?

Memberikan pendidikan terbaik bagi si Kecil merupakan salah satu kewajiban utama Moms & Dads.

It’s Okay to Not Be Okay

Dalam mengasuh anak, tentu Moms mengharapkan si Kecil tumbuh menjadi pribadi dengan kondisi fisik

Tips Praktis Memompa ASI di Kantor

Hai Moms, Meskipun pandemi virus corona belum berakhir, tapi banyak dari kita yang sudah

Tips Menghindari Toxic Parenting

Hai Moms, Siapa disini yang minggu lalu nonton Babyo Channel Ngobrol Bareng Babyo dengan topik

Ketika Dads Sibuk dengan Hobinya

Setiap hari Jumat, sekarang Babyo Connect memiliki "Apa Kata Moms?" yang akan membahas topik yang terasa tabu Moms bahas, atau uneg-uneg yang [...]

Anak Umur 2 Tahun Belum Bisa Ngomong, Wajarkah?

“Anaknya 2 tahun? Sudah bisa ngomong belum? Oh, speech delay? Sama donk seperti anak saya. Gpp nanti usia 3 tahun juga bisa sendiri.”

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebagai Working Mom

Menjadi seorang working Mom tentunya memiliki tantangan tersendiri. Yuk simak tips dari Mom Inayah berikut ini.

Hal yg Bisa Dilakukan untuk Mengisi Kegiatan si Kecil di Rumah Selama Pandemi

Moms, yuk simak aktvitas yang bisa dilakukan di rumah bersama si Kecil berikut ini.

Fiersa is Turning One

Merayakan ulang tahun pertama pastinya adalah moment yang tidak bisa dilewatkan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Caraku Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Rumah tangga yang harmonis pasti sudah menjadi dambaan pasutri. Simak tips berikut ini yuk Moms and Dads!

Caraku Mengatur Keuangan Keluarga di Kondisi Pandemi

Di tengah-tengah pandemi ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak keluarga yang terdampak secara ekonomi. Simak tips berhemat berikut ini yuk!

Punya Anak Perempuan Lebih Boros?

Hayo siapa yang punya anak perempuan dan merasa boros karena beli barang-barang lucu atau baju untuk Si Kecil? Sebenarnya boros tidaknya [...]