Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Kehamilan dengan Anti Phospolipid Syndrome (APS)

HEALTH TIPS  |  PREGNANCY  |  30 Dec '18


3 bulan dari saya menikah, tiba-tiba ada flek berwarna cokelat muncul 1 minggu sebelum jadwal haid saya. Karena haid saya selalu teratur, saya hanya berpikir mungkin saya terlalu lelah bekerja sehingga haid datang lebih awal. Namun, setelah beberapa hari, flek tersebut terus muncul dan saya mulai curiga ada masalah.

Saya melakukan testpack dan hasilnya negatif. Akhirnya, setelah 1 minggu flek tersebut keluar, saya ke dokter kandungan dan setelah di-USG, ada penebalan rahim dan dokter menyuruh saya tes hormon HCG di laboratorium dan hasilnya adalah 21. Di mana hasil di atas 5 dinyatakan hamil.

Pada saat itu, seharusnya sudah terlihat kantung janin, namun belum terlihat. Oleh karena itu, dokter pun memberikan obat penguat kandungan dan menyuruh saya bedrest selama 1 minggu. Sayangnya, pada hari ke-4 bedrest, flek tersebut semakin banyak dan akhirnya haid saya datang. Saya kembali ke dokter kandungan dan diberikan obat untuk membersihkan rahim dan saya dinyatakan keguguran. 

Beberapa kemungkinan penyebab keguguran yang saya alami

  • Terlalu lelah
  • Embrio yang terbentuk memang tidak sempurna
  • Anti Phospolipid Syndrome (APS) atau secara awam sering disebut kekentalan darah.

Oleh karena itu, dokter kandungan saya menyuruh saya untuk melakukan tes Agregasi Trombosit untuk mengetahui apakah ada pengentalan darah. 

Apakah APS itu? 

Ini adalah sebuah kondisi di mana badan kita membentuk zat antibodi yang bernama antibodi antiphospolipid. Antibodi ini akan menghambat asupan darah dan makanan ke janin, sehingga dapat menyebabkan keguguran. Ciri-ciri yang paling sering terjadi adalah keguguran berulang dengan usia janin di bawah 2 bulan tanpa diketahui penyebab yang jelas. 

Setelah hasil tes darah saya keluar, memang betul ternyata darah saya cenderung mengental. Oleh karena itu, dokter kandungan memberikan saya aspirin dengan dosis rendah, yaitu Aspilet. 

Saya juga pergi menemui dokter spesialis darah untuk memastikan hal ini, sehingga saya diminta untuk melakukan 2 tes darah.

  • Tes Anticardiolipin Antibody (ACA)
  • Tes Lupus Anticoagulant (LA)

Biasanya, ibu hamil yang mengidap APS akan memiliki hasil yang positif untuk tes ACA dan tes LA. Namun, hasil yang saya dapatkan negatif. Tidak puas dengan penjelasan yang saya dapatkan, saya juga pergi berkonsultasi dengan dokter spesialis autoimun, dan dokter meminta saya untuk melakukan tes Anti Nuclear Antibody (ANA) dan hasilnya juga negatif. Pada saat itu, saya berkesimpulan bahwa saya tidak mengidap APS dan keguguran yang saya alami adalah kebetulan.

3 bulan setelah saya keguguran, saya terlambat haid 1 minggu, dan saya langsung melakukan testpack dan hasilnya positif. Saya langsung berkonsultasi dengan dokter kandungan yang sebelumnya saya datangi. Beliau meminta saya untuk kembali mengonsumsi Aspilet dengan dosis 1 tablet sehari dan melakukan tes agregasi trombosit dalam waktu 2 minggu. Karena tidak mau mengambil risiko, saya mengonsumsi obat tersebut dan melakukan tes agregasi trombosit 2 minggu setelahnya.

Hasilnya adalah tidak ada pengentalan darah. Hal ini menarik karena, apabila tidak ada pengentalan darah, maka darah saya seharusnya menjadi terlalu encer. Hal ini mengindikasikan bahwa memang mulai ada pengentalan darah. Maka, saya mengetes agregasi trombosit ini setiap bulannya untuk memastikan dosis aspirin yang saya konsumsi cukup untuk “melawan” APS ini.

Masuk bulan ke-4 kehamilan, hasil tes agregasi trombosit saya kembali meningkat, sehingga dosis Aspilet pun ditambah, dan demikian sampai bulan ke-7 kehamilan. Dokter kemudian mengganti aspirin saya menjadi CPG57 dan pada bulan ini juga, berat janin saya di bawah kurva batas bawah. Janin dengan berat rendah memang sangat sering terjadi pada ibu yang memiliki APS. Hal ini dikarenakan aliran darah dan nutrisi ke bayi yang kurang lancar.

Akhirnya, saya diopname selama 3 hari 2 malam di rumah sakit untuk diinfus cairan amino fluid untuk menambah berat janin dan obat penguat paru untuk berjaga-jaga apabila bayi saya harus dilahirkan lebih cepat.

Selama di rumah sakit, berat janin dipantau setiap harinya karena apabila tidak ada kenaikan, maka bayi harus dilahirkan segera karena artinya bayi sudah tidak mendapatkan aliran nutrisi lagi dan dapat menyebabkan bayi meninggal dalam kandungan. Ternyata, dalam 3 hari tersebut, berat janin saya naik 400 gram, sehingga saya diperbolehkan pulang, dengan syarat harus kontrol setiap 2 minggu untuk memantau kondisi bayi. Bayi saya lahir di minggu ke-38 dengan berat 2.95kg

Kesimpulan

  • Tes ACA, tes LA, dan tes ANA bisa saja negatif tidak menjamin bahwa APS ini tidak ada
  • APS ini bukan didapat dari keturunan atau genetik, dan penyebabnya juga masih belum diketahui
  • Banyak makan protein selama kehamilan agar berat janin bertambah dengan baik 
  • Banyak istirahat dan berdoa 

Semoga bermanfaat.

By: Adelia Nataadmadja

Copyright by Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

962 Adelia Nataadmadja

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Lebih Baik Menunda Perawatan Kecantikan untuk Kebaikan Janin

Apakah treatment seperti botox dan filler aman dilakukan saat hamil? Yuk simak pendapat Mom Noviana ini!

Pentingnya Memilih Skincare yang Aman dan Alami Selama Masa Kehamilan

Mengapa penting memilih skincare yang dipakai saat masa kehamilan? Yuk simak penjelasannya berikut

Pentingnya Suami Berolahraga agar Istri Cepat Hamil

Tidak hanya usaha istri saja, meningkatkan peluang hamil juga butuh effort dari suami, dengan berolahraga.

Haruskah Cek Darah di Awal Kehamilan?

Walaupun keadaan fisik Moms sehat saat hamil, tapi sebaiknya tetap cek darah. Apa saja tes yang harus dilalui?

Benarkah Urut Perut Bisa Membuat Cepat Hamil?

Banyak orang yang mempercayai bahwa mengurut perut bisa membuat cepat hamil. Benarkah demikian?