Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Keguguran Berulang? Waspada Darah Kental!

HEALTH TIPS  |  MY STORY  |  PREGNANCY  |  16 Aug '19


Saya menikah di bulan Maret 2017. Beberapa bulan kemudian, saya hamil. Namun, kehamilan pertama saya tidak bertahan lama. Saya mengalami keguguran di usia kandungan 7 minggu. Rasanya sakit luar biasa, keluar keringat jagung, berguling-guling memegang perut menahan sakit. Semua rasa sakit itu baru hilang ketika janin sudah keluar.

Saat ke klinik, dokter menganjurkan agar saya menjalani proses kuretase untuk membersihkan rahim. Dengan polosnya saya turuti saran dokter. Apalagi saat itu saya hanya didampingi oleh orang tua (suami sedang di luar kota). Saya pun tidak terpikir untuk memeriksakan ke dokter lain mencari second opinion. Saat itu dokter tidak menganjurkan saya melakukan pemeriksaan khusus. Mungkin karena saya masih tergolong pengantin baru.

Selang 2 tahun setelah proses kuretase tersebut, saya hamil lagi. Senang rasanya. Namun tetap waswas, apakah hal yang sama akan terulang kembali? Qadarullah. Benar saja, saya kembali keguguran di usia kandungan yang hampir sama, sekitar 7 mingguan. Bedanya, saya tidak merasakan sakit seperti keguguran sebelumnya. Saya langsung bedrest, hanya berbaring di kasur menunggu suami datang (lagi-lagi suami sedang berada di luar kota). Janin pun keluar begitu saja saat saya masih bedrest di rumah, tanpa rasa sakit yang berarti. Saat itu saya sempat meminum ramuan herbal anjuran tukang urut langganan saya. Mungkin itulah yang menyebabkan saya tidak mengalami sakit saat keguguran kali ini.

Saya dan suami pun kembali ke klinik yang sama. Lagi-lagi dokter menyarankan kuretase. Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, kami memutuskan untuk mencoba periksa ke klinik lain, mencari second opinion. Alhamdulillah dokter mengatakan bahwa saya tidak perlu menjalani proses kuretase kembali, toh janinnya sudah keluar. Cukup diberikan obat untuk membersihkan rahim dan akan kembali dilakukan USG seminggu kemudian. Dokter tersebut justru heran dengan tindakan yang saya dapatkan saat keguguran pertama. 

Seminggu kemudian, saya kembali ke klinik. Alhamdulillah kondisi rahim saya sudah dinyatakan bersih. Dokter menyarankan agar saya menjalani pemeriksaan ana-if di laboratorium terdekat. Saya sempat menanyakan mengapa bukan TORCH (Toksoplasmosis, infeksi lain/Other infection, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes simplex virus) yang biasa harus diperiksakan oleh wanita yang ingin hamil? Namun dokter tersebut mengatakan saya tidak perlu menjalani pemeriksaan TORCH, cukup ana-if.

Pemeriksaan ana-if bertujuan untuk mengukur kadar dan pola aktivitas antibodi pada darah yang melawan tubuh (reaksi autoimun). Autoimun menjadi salah satu penyebab kekentalan darah yang juga menjadi penyebab keguguran berulang. Hasil pemeriksaan ana-if saya saat itu adalah positif.

Saya pun kembali berkonsultasi pada dokter. Dokter tersebut menjelaskan bahwa kekentalan darah menyebabkan nutrisi yang dibutuhkan oleh janin tidak tersalurkan secara baik, sehingga berakibat janin tidak berkembang. Namun dokter tidak meresepkan obat khusus untuk menangani kondisi saya tersebut. Dokter hanya berpesan jika suatu saat saya hamil, saya harus segera mendapatkan tindakan yang sesuai untuk mengatasi kekentalan darah tersebut.

Selang 6 bulan setelah keguguran kedua, saya kembali hamil. Kali ini saya yakin insyaAllah janin saya akan selamat hingga lahiran. Saat itu saya sudah pindah ke kota lain, dekat dengan suami. Saya dan suami sadar bahwa kehamilan kali ini harus diperjuangkan. Akhirnya kami berkonsultasi ke beberapa dokter di sana. Kami pun menceritakan kondisi saya yang positif mengalami kekentalan darah. Dua orang dokter yang kami temui menyarankan untuk melakukan tes kembali. Namun kami enggan, karena untuk melakukan tes tersebut cukup menghabiskan banyak dana. Akhirnya kami memutuskan mengunjungi salah satu dokter yang terkenal di kota Pekanbaru, dr. Suryo Bawono. Alhamdulillah dokter Suryo langsung memberikan tindakan kepada saya tanpa harus menyarankan untuk kembali melakukan tes darah. Saya diberi suntik pengencer darah. Saya dan suami pun lega akhirnya menemukan dokter yang sesuai dengan harapan kami.

Pada kehamilan ketiga, saya mengalami reaksi yang dialami ibu hamil pada umumnya, lemas, pusing, mual, muntah, dan lain sebagainya. Jauh berbeda dengan hamil sebelumnya di mana saya tidak merasakan apa-apa sama sekali. Saya juga harus mengonsumsi aspilet (pengencer darah) selama trimester awal. Alhamdulillah kehamilan ketiga saya selamat hingga lahiran.

Jika Moms mengalami keguguran berulang, bisa jadi kekentalan darah menjadi penyebabnya. Tetap semangat ya Moms.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

270 Zurrahmi ulya

Comments

Related Stories