Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Hati-Hati dalam Memilih Teether Bayi!

GROWTH & DEVELOPMENT  |  HEALTH TIPS  |  11 Dec '18


Ketika gigi si Kecil mulai tumbuh, ia akan cenderung memasukkan macam-macam benda ke dalam mulutnya. Bayi melakukan hal tersebut untuk meredakan rasa gatal selama proses tumbuh gigi sedang berlangsung. Untuk mencegah si Kecil memasukkan benda berbahaya ke dalam mulutnya, orang tua umumnya akan memberikan teether pada sang anak. Namun, Mom juga harus berhati-hati dalam memilih teether, karena ternyata tidak semua teether aman bagi bayi.

Sebagian orang tua mungkin beranggapan bahwa teether yang berlabel “BPA-free” atau “non-toxic” sudah terjamin kualitasnya, namun nyatanya tidak. Kurunthachalam Kannan, ilmuwan peneliti di New York State Department of Health and the School of Public, membuktikan bahwa dari 90% teether berlabel “BPA-free” yang mereka teliti masih memiliki kandungan senyawa BPA (Bisphenol-A).

Mom harus berhati-hati dalam memilih teether, karena ternyata tidak semua teether aman bagi bayi.

Kurunthachalam Kannan melaksanakan penelitian terhadap 59 teethers (termasuk jenis yang padat, berisi gel, serta air), dan ia berhasil menemukan 26 zat yang mampu merusak sistem kerja endokrin. Kandungan tersebut juga nantinya mampu mengganggu keseimbangan hormonal serta berujung pada masalah pertumbuhan, reproduksi, neurologis/sistem saraf, sistem imun, bahkan meningkatnya risiko kanker.

Penelitian oleh Kannan dilakukan dengan cara meletakkan teether pada air, kemudian setelah beberapa jam ia menemukan adanya zat kimia yang luluh dari teether, seperti BPA, ragam parabens dan antimicrobials, termasuk triclosan dan triclocarban. Penelitian ini kemudian dipublikasikan oleh the American Chemical Society’s journal Environmental Science and Technology, dan mereka menyebutkan bahwa zat berbahaya tersebut juga ditemukan pada teether yang berlabel BPA-free/non-toxic.

Badan hukum di Amerika Serikat telah melarang penggunaan BPA, Parabens, dan antimicrobials pada produk bayi dan anak, karena mengonsumsi zat ini dalam takaran tertentu bisa mengakibatkan gangguan hormon dan masalah kesehatan lainnya. Sayangnya, peraturan serupa belum diterapkan sepenuhnya pada teether.

Perlu Mom ingat bahwa berbeda dari mainan biasa yang bersentuhan dengan kulit, teether akan bersentuhan langsung dengan rongga mulut bayi, sehingga zat kimia pada teether lebih mudah menyerang tubuh si Kecil.

Selain BPA, Mom juga harus mewaspadai kandungan seperti polyvinyl chloride (PVC) dan phthalates, kedua zat ini sering digunakan pada produk plastik termasuk teether, dan keduanya juga memiliki sifat karsinogen (dapat memicu kanker).

Mungkin Mom mulai berpendapat untuk segera mengganti teether yang memiliki bahan dasar lain, seperti karet. Teether karet memang lebih aman, namun teether karet ternyata bisa menyebabkan alergi latex karena adanya kandungan protein latex yang dimilikinya. Untuk itu, jika Mom ingin memberikan si Kecil teether karet, pilihlah yang berbahan dasar silikon. Bahan silikon tidak akan memicu reaksi alergi, bahkan yang medical-grade dikategorikan sebagai hypoallergenic/mencegah terjadinya alergi.

Teether akan bersentuhan langsung dengan rongga mulut bayi, sehingga zat kimia pada teether lebih mudah menyerang tubuh si Kecil.

Mom juga sebaiknya menghindarkan si Kecil dari teether yang berisi gel/cairan. Gigitan bayi mampu merobek teether dan mengakibatkan dirinya menelan cairan dari teether, sehingga berpotensi membuatnya tersedak atau bahkan menelan cairan yang telah terkontaminasi. Teether yang berisi gel/cairan memiliki pengawet seperti paraben, sehingga akan berbahaya jika tertelan.

Sangat penting bagi Mom untuk menghindarkan bayi dari paparan kandungan bahan kimia, termasuk dari teether pada awal-awal kehidupannya. Hal ini dikarenakan anak-anak yang terekspos bahan kimia berbahaya saat masih bayi bisa mendatangkan efek negatif di masa yang akan datang. Kontributor medis dari CBS News, Dr. Tara Narula menyebutkan adanya risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat paparan zat kimia saat usia muda, beberapa di antaranya ialah:

  • Asma
  • Diabetes
  • Gangguan perkembangan saraf
  • Obesitas
  • Kelainan reproduksi

Jika Mom belum mendapatkan teether yang sesuai untuk si Kecil, Dr. Tara Narula merekomendasikan untuk sementara menggunakan bagel, wortel, ataupun washcloth yang dibekukan. Namun, salah satu dampak negatif dari makanan yang dibekukan ialah tidak dapat digunakan kembali, sehingga Mom harus rutin mempersiapkan teether sebelum digunakan.

 

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor

Copyright by Babyologist

 

Referensi: CBS NewsBabycenterQParentMedlinePlus.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

904 Dr. Brown's Indonesia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Sindrom Tourette Bagaikan Cegukan di Sistem Saraf

Sindrom Tourette adalah kondisi yang memengaruhi sistem saraf pusat seseorang dan menyebabkan tics.

Penyebab dan Akibat Kekurangan Gizi pada Anak

Apa saja penyebab dan akibat kekurangan gizi pada anak? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Tanda-Tanda Kemunculan Gigi si Kecil

Saat waktunya gigi si Kecil tumbuh, perhatikan hal-hal berikut ini Moms sebagai tandanya

Perhatikan Tanda-tanda Gigi si Kecil akan Tumbuh

Memasuki usia tumbuh gigi, Moms harus memahami apa saja tanda-tanda gigi yang sudah mau tumbuh.

Gigi Bayi Keropos, Padahal Hanya Minum ASI?

Apakah Moms bingung mengapa gigi si Kecil keropos meski hanya minum ASI saja? Yuk simak penjelasan berikut.

1000 Hari Pertama Kehidupan

Jika 1000 hari pertama kehidupan si Kecil tidak optimal, dapat menyebabkan stunting lho Moms.

Apakah Memar-memar di Tubuh si Kecil Tanda Kekurangan Vitamin?

Memasuki masa-masa aktif, munculnya memar di beberapa bagian tubuh si Kecil adalah hal yang normal.

Bohn Nodules pada Gusi Bayi

Jika Moms melihat bintil putih pada gusi bayi yang menyerupai gigi, bisa jadi itu bohn nodules. Berbahayakah?

Dukung Tumbuh Kembang Anak dengan Probiotik

Probiotik dapat membantu bakteri baik guna mengoptimalkan kerja usus. Tapi perlukah dikonsumsi secara rutin?

Pentingnya Skrining Bayi Prematur

Karena lahir sebelum waktunya, skrining bayi prematur penting dilakukan. Apa saja jenis skrining tersebut?

Berbahayakah W Sitting Position Pada Anak?

Si Kecil sering melakukan W Sitting Position? Yuk simak cara mengatasinya Moms

Indikator Anak Sehat Selain Berat Badan

Pertumbuhan dan perkembangan setiap anak berbeda. Indikator anak sehat tidak hanya berat badan loh Moms.

Posisi Menggendong Menentukan Kesehatan Anak

Menggendong tak sesederhana yang biasa dilakukan lho Moms. Perhatikan posisi menggendong yang tepat untuk kesehatan si Kecil.