Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Darurat Suplementasi Besi: Rekomendasi IDAI

BABY  |  FEEDING  |  HEALTH TIPS  |  MY STORY  |  05 Dec '19


Sebanyak kurang lebih 40% anak Indonesia mengalami anemia defisiensi besi dan yang paling sering adalah anak di usia 6-12 bulan. Anemia defisiensi besi yaitu keadaan di mana anak mengalami kekurangan zat besi. Menurut IDAI, persentase defisiensi besi lebih tinggi pada usia bayi, terutama pada bayi prematur (sekitar 25-85%) dan bayi yang mengonsumsi ASI secara eksklusif tanpa adanya suplementasi besi. Hal apa yang paling bisa dilihat dari indikator anak kurang zat besi? Biasanya gejala awal adalah BB susah naik. Mengapa? Kandungan zat besi dalam tubuh diperlukan untuk membawa oksigen ke otak. Dan jika seorang anak kekurangan zat besi, maka tubuh akan sulit membawa oksigen ke otak sehingga penyerapan nutrisi juga berkurang dan akhirnya berat badan anak sulit naik.

Rerata anak mengalami BB susah naik pada usia mulai 6 bahkan 4 bulan. Mengapa? Karena di Indonesia ini belum ada sosialisasi yang meluas tentang pentingnya suplementasi zat besi sejak ASI eksklusif, padahal hal ini sudah ada dalam buku terbitan IDAI. Ikatan Dokter Anak Indonesia membuat sebuah buku tentang pentingnya pemberian suplemen besi pada anak. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa anak sebaiknya mendapat suplemen besi sejak usia 0-2th dan lebih baik dilanjutkan hingga 5th. Lalu bagaimana dengan bayi yang ASI eksklusif? Apakah tetap dianggap ASI eksklusif jika mendapat suplemen besi? Ya, bayi tetap disebut ASI eksklusif meski diberi suplemen besi (bisa cek di web AIMI ya Moms). Jika Moms mengalami BB anak seret antara usia 4 bulan hingga 12 bulan atau lebih, saatnya Moms mulai mengenalkan si Kecil pada suplemen besi. Pemberian ini merupakan anjuran dari IDAI ya Moms dan Moms tidak perlu takut karena suplemen bukan obat, jadi tidak perlu dengan resep dokter. Apakah tidak apa-apa tanpa resep dokter? Tidak masalah Moms karena di kemasan suplemen sudah ada petunjuk dosisnya.

IDAI (2011: 2) mengungkapkan untuk mencegah terjadinya defisiensi besi pada tahun pertama kehidupan, pada bayi yang mendapatkan ASI perlu diberikan suplementasi besi sejak usia 4 atau 6 bulan. The American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian suplementasi besi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif mulai usia 4 bulan dengan dosis 1 mg/kg/hari dilanjutkan sampai bayi mendapat makanan tambahan yang mengandung cukup besi.

Bagaimana kalo bayi saya kelebihan zat besi? Berdasarkan konsultasi saya dengan ahli gizi dr. Endy, beliau menegaskan bahwa kita sebagai orang tua harusnya lebih takut anak kekurangan zat besi, kalau kelebihan itu "tidak mungkin" terjadi karena tubuh kita mampu menyaring hal-hal yang tidak diperlukan tubuh lewat urin.

Djajadiman mengatakan, kelebihan zat besi hampir tidak akan terjadi selama tak ada penyakit lain yang menyertai, misalnya talasemia. Mengonsumsi makanan mengandung zat besi ditambah suplemen pun tidak akan memicu kelebihan zat besi dalam tubuh. "Tidak semua zat besi yang dimakan dapat diserap oleh tubuh. Tubuh manusia memiliki mekanisme menolak dan menerima. Mungkin dari banyak zat besi yang dimakan, hanya 1-2 mg saja yang diserap," (sumber: kompas.com).

Mengapa kita perlu takut anak kekurangan zat besi? Karena kekurangan zat besi ini adalah awal dari masalah baru seperti stunting yang dewasa ini digembor-gemborkan di Indonesia. IDAI (2011: 1) menyatakan kekurangan zat besi dapat mengganggu tumbuh kembang anak, antara lain menimbulkan efek pada mekanisme pertahanan tubuh dan gangguan pada perkembangan otak yang berdampak negatif terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.

Nah Moms betapa pentingnya pemberian suplemen besi pada anak ya. Sekali lagi tulisan saya ini berdasarkan apa yang saya baca pada buku IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan juga hasil konsultasi saya dengan dokter anak subspesialis gizi. Perlu diketahui juga bahwa selama ini anak saya sulit makan dan sempat BB stagnan. Akhirnya saya konsul dengan dokter subspesialis gizi di Jogja, dr. Endy. Ternyata penjelasan beliau persis dengan buku IDAI. Alhamdulillah anak saya tidak ADB (karena untuk mengetahui ADB atau tidak harus di-skrining) hanya saja pemberian suplemen besi ini memang perlu (tanpa harus di-skrining dan meski tidak ada indikasi ADB). Karena benar adanya bahwa anak bisa saja mengalami kondisi "defisiensi besi tanpa anemia". Nah, sebelum sampai pada tahap anemia inilah perlunya kita segera memberi suplemen besi agar terhindar dari yang namanya "anemia". Benar, setelah mencoba rutin mengenalkan suplemen besi, alhamdulillah perlahan anak saya doyan makan dan BB pun naik melebihi KBM. Saya tidak menyesal baru mengetahui "pentingnya suplemen besi" setelah anak saya berumur 8 bulan. Padahal harusnya dia sudah konsumsi sejak 4 bulan. Tapi tak apa Moms, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Referensi: IDAI. 2011. Suplemen Besi Untuk Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

262 Meidisya Isnaini

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Bayi Sembelit Setelah Mulai MPASI

Ketika anakku mulai MPASI, aku sangat bersemangat untuk mencari resep-resep MPASI.

Kenali Komponen Tepat MPASI, Jauhkan Stunting!

Yuk kenali komponen MPASI yang tepat untuk si Kecil agar bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizinya.

Buah Pir Ampuh Atasi Sembelit si Kecil saat Masa MPASI

Seminggu awal MPASI, Shanum sempat mengalami sembelit, dia gak BAB sampai 5 hari.