Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Dampak Buruk Membentak Anak

MY STORY  |  PARENTING  |  24 Apr '18

Suatu hari ketika kami bersiap akan pergi, tanpa disadari laci lemari terbuka, isinya peralatan kosmetik saya. Saya pun bersiap sambil berganti pakaian dilanjut memoles sederhana make up sambil bercermin. Seketika menyadari, Zikri sedang apa? Tak disangka, ketika saya berbalik, ia tengah asyik mencorat-coret pensil alis saya pada bajunya, lantai, kaki serta tangannya. Padahal ia sudah siap pergi dengan pakaian rapi.

Bagaimana Moms melihat kondisi seperti itu?

Jika menuruti keegoisan saya untuk meracau, melabeli serta berteriak kemudian menumpahkan keluh kesah dengan bentakan padanya mungkin hal itu bisa saja dilakukan. Namun, saya ingat bahwa hal itu menjadi sia-sia karena tak akan memberi hal yang baik bagi saya maupun anak. Bahkan malah berdampak buruk padanya.

Tindakan yang saya ambil adalah, menghela napas. Mencoba berpikir jernih, memahami apa yang sedang ia lakukan. Kemudian keluarlah kalimat "Zikri sedang menggambar ya Nak, gambar apa Zikri? Wah gambarnya bagus, horeeee Zikri sudah bisa gambar."

Tak disangka senyum bayi mungil itu merekah. Ah, hati ini tiba-tiba menghangat. Tentu, saya akhiri dengan pesan: "Lain kali, jika ingin menggambar di buku saja ya, nanti amam siapkan."

Bagaimana jika tadi saya salah mengambil langkah?

Mungkin akan mendengar tangisan Zikri, mood saya berubah buruk belum harus membersihkan tangan, kaki serta mengganti bajunya Zikri kembali. Melelahkan bukan?

Tak gampang memang melakukan hal seperti itu. Sebagai ibu baru, saya pun masih banyak belajar untuk tidak memberikan respon negatif terhadap apa yang dilakukan anak. Asalkan, ia tidak melakukan hal yang berbahaya.

Sebisa mungkin saya hindari mengomel, membentak. Terlebih ditambah menyakiti fisik anak. Selain akan membuat kita hanya akan merasa kelelahan secara fisik, juga tidak ada faedahnya. Apalagi bagi anak, malah akan banyak memberikan dampak negatif baginya.

Tahukah Moms, dampak buruk apabila kita sering membentak anak? Simak yuk ulasan berikut ini:

  1. Musnahnya Sel Otak   
    Bentakan, perkataan kasar apalagi disertai tindakan kekerasan fisik akan merontokan sel otak anak. Bukan hanya satu, namun bisa sampai berjuta-juta sel. Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering dibentak ketika kecil, umumnya mereka akan lebih banyak melamun, dan juga lambat dalam memahami sesuatu.   
    Kemudian anak biasanya akan mudah untuk meluapkan rasa marah, panik dan sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stres hingga depresi dalam hidup. Akan tetapi sebaliknya, dengan 1 pujian, pelukan, dan kasih sayang, maka akan tercipta dampak positif terhadap perkembangan otaknya.

  2. Anak Akan Meniru   
    Orangtua adalah role model bagi anaknya. Bagaimana jika kita yang sering berperilaku buruk seperti membentak, berteriak dan lainnya? Apa yang ia lihat terekam dalam ingatannya, dan dapat membentuk pola tindakan serupa seperti apa yang sering ia alami.

  3. Jantung Anak Kelelahan   
    Dari sisi kesehatan lainnya, jika mendapatkan bentakan dengan suara yang tinggi otomatis anak akan kaget lalu jantung anak dapat berdebar cepat dan membuatnya menjadi kelelahan.

  4. Cenderung Memiliki Kepribadian Mudah Marah   
    Apa yang sering ia terima sebagai bentuk kemarahan orang tuanya sedikit banyak akan menempel pada perilakunya. Ia akan tumbuh menjadi anak yang pemarah, emosional, agresif dan sensitif.

  5. Cenderung Tumbuh Menjadi Minder   
    Setiap yang ia lakukan di masa lalu seringkali mendapat bentakan dari orang tua. Padahal itu salah satu bentuk kreatifitasnya, namun dikarenakan seringnya mendapatkan tanggapan negatif dari orang tua, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

  6. Tidak Bisa Menghargai Orang Lain   
    Kemudian anak secara tidak langsung yang sudah biasa dibentak juga cenderung bersikap dingin. Ia sama sekali tidak peka dengan dirinya, apalagi dengan lingkungannya. Sama sekali tidak menunjukkan perilaku menghargai antar teman dan orang lain. Tentu saja ia bersikap seperti ini karena sejak kecil kehadirannya tidak dihargai oleh orang tuanya.

  7. Kehilangan Kreatifitas 
    Berhubungan dengan rasa percaya dirinya yang menurun maka ia sulit melakukan sesuatu yang inisiatif. Ada perasaan selalu takut dimarahi, sebab keterbatasan untuk melakukan hal baru sangat dikekang. Rasa penasaran dan keingintahuan juga turun. Minatnya juga ikut turun, akhirnya otak akan membuat pola baru. Yakni kreatifitasnya mulai menurun dari sebelumnya. Tentu saja bukan berdampak saat kecil saja. Namun nantinya saat besar, anak cenderung tidak akan menampilkan kreatifitasnya lagi.

  8. Depresi 
    Dampak negatif lainnya, untuk anak yang beranjak remaja, hal ini akan mengakibatkan ia merasa tertekan. Alih-alih orang tua “berniat baik” untuk memperbaiki perilaku sang remaja, tetapi dengan cara diteriaki, dihina dan dibentak oleh orang tua, maka hal ini justru membuat perilaku sang remaja malah tambah buruk.

Orang tua seharusnya mampu memberi contoh baik pada anaknya, termasuk menahan emosi ketika sang anak berperilaku tidak baik atau membuat kesalahan.

Marah atau emosi memang manusiawi tapi kita perlu mengontrolnya. Tujuan baik orang tua memarahi anaknya pasti sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab selaku orangtua. Akan tetapi jika memarahi dengan nada yang tinggi bahkan sampai membentak, tujuan kita menjadi tidak tercapai malah akan timbul masalah baru.

Untuk itu, hendaknya kita perlu menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Berikanlah pengertian ketika ia melakukan kesalahannya dalam bentuk lain yang mudah dipahami anak, supaya energi kita tidak terbuang sia-sia, tujuan kita tercapai, dan anak paham apa yang kita maksudkan.

Mari belajar bersama mengontrol emosi untuk kebaikan Si Kecil ya Moms, kita pasti bisa.

 

Semoga bermanfaat.

By: Chriesty Anggraeni.

BACA JUGA: Lidah Putih Pada Bayi Akibat Infeksi Jamur

1548 Chriesty Anggraeni Send Message to Writer

Related Stories