Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Cerita Syndrom Baby Blues yang Menimpa Suamiku

MY STORY  |  OTHERS  |  24 Sep '19


Lain anak, lain cerita. Kapan hari saya pernah share bahwa saya mengalami baby blues di saat kelahiran anak pertama, dan suami saya jadi orang super siaga yang membantu saya dalam menjaga bayi kami, sampai akhirnya saya benar-benar terlepas dari sindrom baby blues tersebut. Nah, beda lagi ceritanya saat anak kedua kami lahir, justru suami sayalah yang terkena sindrom baby blues ini.

Anak kedua saya, Dave, lahir saat anak pertama kami baru berusia 23 bulan. Jarak usia mereka yang cukup berdekatan menjadikan saya cukup kerepotan dalam mengurus mereka berdua. Memang ada mbak yang membantu, tapi si mbak ini hanya ada saat pagi-siang hari, lalu pulang, dan baru kembali datang sekitar jam 4 sore sampai jam 6 malam saja. Jadi saat tidur malam, anak-anak sudah pasti dengan saya dan papanya.

Topher, anak pertama kami, sangat lengket dengan saya. Apalagi ia juga masih ASI, jadilah saya menyusui tandem kedua anak kami. Tetapi yang paling bikin pusing itu apabila malam tiba karena keduanya harus bersama saya. Terlebih saat itu Dave hampir setiap malam selalu menangis terus menerus tanpa henti. Digendong, disusui, dinyanyikan bagaimanapun ia tetap menangis. Otomatis saya kebingungan dan panik, karena kami tidur sekamar, takutnya Topher akan terbangun dari tidurnya, dan pasti akan sangat merepotkan apabila dua anak bangun dan menangis malam-malam. Hal ini terjadi selama berminggu-minggu, Dave sering kali menangis tiada henti mulai tengah malam, sampai sekitar jam 3 pagi. Ini tentu saja menghabiskan energi kami berdua, terutama suami. Karena saat siang hari, kami juga masih harus bekerja full time. Suami saya sangat-sangat kelelahan dan akhirnya menjadi mudah emosi.

Puncaknya pada suatu malam, Dave seperti biasa menangis tidak karuan. Topher otomatis terbangun, sehingga saya menyusuinya agar tertidur kembali. Sementara saya menyusui Topher, suami menggendong dan berusaha menenangkan Dave, tapi tak kunjung berhasil. Emosi suami pun meledak. Sumpah serapah pun keluar semua, ia lalu berteriak dan hampir saja ia membanting anak kami ke ranjang. Melihat itu saya langsung berteriak, berlari untuk menghentikannya dan mengambil Dave segera. Saya cuma bilang "Sabar… sabar… sini sama aku aja." lalu segera menggendong Dave pergi keluar kamar dengan ketakutan.

Dari situ saya tau, bahwa suami saya mengalami baby blues yang sudah cukup memuncak. Jadilah saya besoknya berusaha berbicara dari hati ke hati dengan suami mengenai ini. Suami meminta maaf, dan mengatakan bahwa ia melakukan itu di luar sadar, karena ia sudah terlalu capek dan emosi belakangan ini. Saya berusaha memahami kondisi yang ia hadapi dan memaafkannya. Akhirnya saya berusaha mengatur waktu sebisa mungkin agar semua urusan anak-anak saya yang menangani, jadi setelah jam kerja, suami tetap punya waktu bersantai, me time dengan bermain game kesukaannya. Pada siang hari saat ada mbak di rumah, saya memaksimalkan waktu untuk beristirahat dan mengurangi porsi kerja saya sementara waktu, agar pada malam hari saat anak-anak rewel, saya sudah siap dengan energi ekstra guna menghadapi mereka. Dan bila Dave kumat rewelnya, sebisa mungkin saya gendong keluar kamar, agar tidak mengganggu Topher dan suami. Satu lagi, kami tak pernah berhenti berdoa bersama-sama agar semua ini segera berlalu. Agar Dave bisa mulai tidur dengan enak di malam hari, Topher tidak mudah terbangun dan agar suami diberi kesabaran ekstra. Karena jujur, bayangan saat suami hampir membanting bayi kami saat itu benar-benar menakutkan dan terus terbayang-bayang di benak saya.

Untunglah kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Setelah sekitar 1 bulan, Dave mulai lebih teratur waktu tidurnya, dan tidak pernah rewel lagi di malam hari.

Untuk para orang tua yang akan memiliki anak, saran saya, jangan pernah remehkan yang namanya sindrom baby blues. Karena sindrom ini cukup berbahaya, dan bisa berujung pada depresi apabila tidak ditangani dengan tepat. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan dari orang sekitar apabila Moms dan suami merasa kerepotan saat mengurus bayi, atau Moms / suami bisa mengurangi porsi kerja sementara waktu untuk memaksimalkan istirahat dan memulihkan tenaga. Banyak-banyak me time, berdoa, dan apabila baby blues yang Moms atau suami alami lebih parah, jangan ragu untuk konsultasi ke ahlinya (psikolog) ya Moms!

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

146 Feny Yuvita

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Manfaat Air Purifier untuk Pencegahan Virus

Partikel udara kotor ternyata dapat mempercepat penyebaran virus. Air purifier efektif untuk membantu menghilangkan partikel udara kotor.

Waspadai Banjir Bersama si Kecil Saat Musim Hujan

Salah satu masalah besar yang tidak bisa dihindari saat musim hujan adalah bencana banjir.

Tidak Hanya Melembabkan Udara, Berikut Manfaat Humidifier Lainnya

Humidifier tidak hanya berguna untuk melembapkan udara lho Moms, masih banyak manfaat yang bisa didapat dari humidifier

Pentingnya Mengatur Kelembapan Ruangan

Udara yang panas dan penggunaan AC yang sering menyebabkan kulit kering. Maka dari itu Moms perlu alat yang satu ini

Perlukah Air Humidifier untuk si Kecil?

Apa saja sih manfaat yang dapat dirasakan setelah menggunakan air humidifier bagi kesehatan si Kecil dan keluarga?

Ruangan Ber-AC Membuat Kulit Kering? Yuk Moms Pakai Humidifier!

Penggunaan AC setiap hari bisa membuat kulit kering, tapi tenang Moms ada solusinya untuk mengatasi kulit kering

Tidak Hanya Ibu, Ternyata Ayah Juga Rentan Mengalami Baby Blues

Baby blues yang biasa kita tau dapat menyerang seorang Ibu baru, tapi ternyata suami saya juga mengalaminya

Suami Jadi Tak Humoris? Jangan-Jangan Baby Blues

Baby blues selalu menjadi perbincangan hangat di dunia parenting dan ternyata suami juga berpotensi mengalaminya lho

Syndrome Baby Blues yang Dialami oleh Suamiku

Baby blues pada ayah berbeda dengan baby blues yang terjadi pada ibu akibat perubahan hormon pada wanita.

Baby Blues yang Terjadi pada Suamiku

Saat si Kecil lahir, tentu saya banyak sekali melihat perubahan yang terjadi dalam diri suami saya.

Ketika Suami Baby Blues, Ini Cara Saya Menanganinya

Aku ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana awal suamiku terkena baby blues dan bagaimana aku menyikapinya.

Baby Blues yang Dialami Ayah saat Kelahiran Anak Keduaku

Halo moms, sedikit cerita, saya ibu dari dua orang anak dimana umur saya dan suami berbeda 4 tahun.

Mengalami Baby Blues secara Bersamaan, Aku dan Suamiku Menjadi Semakin Mesra

Setelah menikah, saya memilih meninggalkan comfort zone saya di rumah orangtua, untuk ikut dengan suami

Waspada Pre-Baby Blues pada Suami!

Sepuluh tahun saya berpacaran dan akhirnya sampai di jenjang pernikahan.

Tipsku agar Daddy Blues Tidak Berujung Depresi

Memiliki anak adalah life changing moment bagi para pasangan. Mereka memiliki title baru, sebagai "orang tua".

Aku Tidak Baik-baik Saja

Ada perasaan takut ketika aku hanya sendirian di rumah bersama bayiku. Bayiku berusia dua minggu saat itu.

Mari Kita Pahami Kondisi Psikis Ibu yang Baru saja Melahirkan

Menjadi seorang Ibu merupakan suatu hal yang menurut saya ajaib

Pengalaman Baby Blues Dan Beberapa Faktor Penyebabnya

Baby blues pernah dirasakan sebagian besar ibu. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan baby blues

Cemburu Sama Anak Akibat Baby Blues

Sempurna: lahiran normal, pembukaan cepat, ASI lancar, keluarga besar siap membantu, tapi tetap alami baby blues?

Takut Mencari Informasi Karena Baby Blues

Saya pun tersadar mencari informasi itu penting, membantu saya menemukan solusi dan tidak panik dalam mengurus newborn