Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Cerita Persalinan Pertamaku, Hampir Caesar di Menit Terakhir

MY STORY  |  PREGNANCY  |  10 Jan '20


Moms yang sudah mendekati HPL pasti sudah mulai resah, antara bahagia dan khawatir.

Bahagia karena akhirnya waktu untuk berjumpa dengan sang buah hati segera tiba, khawatir karena merasa sedikit takut kalau-kalau proses persalinannya menemui kendala.

Sebenarnya semua itu adalah hal yang wajar dan pasti dialami setiap mama yang akan melahirkan sang buah hati.

Sedikit cerita tentang pengalaman melahirkan anak pertama saya, semoga memberi gambaran dan menambah wawasan ya Moms, bahwa sesulit apa pun proses yang akan kita hadapi nanti, kita pasti bisa melewatinya!

Ceritanya saat kelahiran putri pertama saya, saat itu saya berniat melahirkan di kampung halaman, rumah orang tua saya tepatnya, karena saya pikir di sana akan banyak orang yang membantu saya mengurus bayi saya nantinya.

Di tempat orang tua saya proses melahirkan biasanya hanya dibantu oleh bidan setempat, kalau kondisinya parah karena bidan menemui kejanggalan, baru akan dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Saya yang pede sekali bisa melahirkan di bidan terdekat akhirnya dengan tenang menunggu HPL yang masih 9 hari lagi, karena memang selama kehamilan saya tidak menemui masalah apa pun, hasil pemeriksaan pun semua normal.

Saat itu jam 5 pagi saya bangun tidur dan buang air kecil, lalu menemui cairan mengalir deras sekali tanpa berhenti, saya kaget, saya pikir saya akan melahirkan, tapi anehnya saya tidak menemui tanda-tanda melahirkan, seperti mules atau kontraksi dsb.

Karena cairan putih keruh itu mengalir tanpa berhenti hampir tidak terasa keluar malah, saya pun segera pergi menemui bidan, bidan memeriksa pembukaan, tapi ternyata belum ada pembukaan satu pun, saya pun masih tidak merasa apa-apa, semua seperti normal hanya air yang mengalir deras tidak berhenti sampai setengah baju saya basah kuyup saat itu.

Melihat hal ini, bidan segera merujuk saya ke rumah sakit untuk melakukan USG guna mengetahui cairan apa yang keluar dan tidak berhenti-henti.

Setibanya saya di dokter USG ternyata hasilnya adalah positif cairan yang keluar adalah cairan ketuban, kata dokter cairan ketuban saya sudah habis bahaya kalau dibiarkan terus, mendengar hal itu rasa panik saya memuncak, sedikit syok tapi mencoba tetap tenang.

Karena saya ingat, kunci keberhasilan proses persalinan adalah tenang. Meski tidak bisa dipungkiri pemikiran demi pemikiran negatif sangat sulit dikendalikan.

Dokter segera membawa saya ke ruang khusus untuk mengecek detak jantung dan kondisi bayi saya saat itu apakah masih kuat atau tidak. Bersyukur dan terharu beberapa kali melakukan cek detak jantung melalui alat rekam ternyata bayi saya masih sehat, detak jantungnya normal dan semuanya baik-baik saja meski air ketuban saya sudah habis.

Kata dokter saat itu, alat-alat medis akan tetap dipasang di tubuh saya guna memantau keadaan bayi saya sampai ada tanda-tanda melahirkan seperti mulas kontraksi.

5 jam dalam ruang itu saya tidak juga menemukan tanda-tanda melahirkan, sementara cairan ketuban sudah habis dan akhirnya saya dimasukkan paksa ke ruang bersalin karena terakhir dicek detak jantung bayi saya sudah lemah, mungkin karena kehabisan air ketuban.

Saya pasrah, apa pun yang akan terjadi rasanya sudah tidak peduli, saya hanya memohon bayi saya selamat dengan sehat.

Karena saya tidak juga mengalami tanda-tanda melahirkan, akhirnya dokter menyuntikkan obat perangsang kalau kata awamnya, benar saja tidak menunggu berapa lama saya mulai merasakan kontraksi yang semakin lama semakin hebat.

Proses persalinan tidak sampai sana, karena ini adalah pengalaman pertama saya, saya menemukan banyak kesulitan seperti mengejan, mengatur nafas dll, hingga proses persalinan terjadi sangat lama.

Melihat kondisi saya yang sudah kelelahan karena tidak menguasai teknik dalam melahirkan, dokter pun memutuskan untuk melakukan caesar saja.

Saya menangis merasa menjadi ibu yang gagal karena tidak bisa melahirkan bayi saya dengan proses normal, tetapi akhirnya saya menyetujui tindakan operasi caesar karena bagi saya yang penting bayi saya selamat.

Entah keajaiban apa, setelah saya meng-Iya-kan tindakan operasi caesar, lalu bicara dengan bayi saya yang ada dalam perut "Nak Mama mau cepet ketemu kamu, tolong bantu Mama melewati proses ini dengan mudah." Akhirnya saya kembali mengejan dan keluarlah bayi saya tanpa terasa apa-apa, semua keluarga yang menunggu saya menangis, memberi ciuman dan selamat.

Saya ikut menangis, seketika rasa sakit hilang saat mendengar tangisan bayi saya.

Semoga Moms yang akan menghadapi proses persalinan diberi kelancaran ya, ingat jangan takut, apa pun yang akan terjadi, Moms tidak sendirian.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

933 Risny Saputra

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Positive Thinking, Modal Utamaku Atasi Bayi Sungsang Menjelang Persalinan

Trimester ketiga merupakan masa yang membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi ibu hamil.

Tips Memilih Klinik atau Rumah Sakit untuk Bersalin

Melahirkan menjadi momen yang ditunggu sekaligus momen yang bikin deg-degan bagi Moms.

5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Melakukan USG 4D

Seiring dengan perkembangan teknologi, alat kedokteran pun kian canggih. Termasuk juga alat untuk USG si Kecil

Bagaimana Rasanya Melahirkan Normal? (Part 1)

Dengan cara apa pun seorang Ibu melahirkan, semua Ibu hebat dan memiliki perjuangannya masing-masing.

Suamiku Mengambil Keputusan Operasi Caesar Ketika Melihatku Sangat Lemas

Setiap ibu hamil tentu menginginkan bayinya lahir dengan sehat, selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

Cerita Kehamilanku

Masing-masing wanita mempunyai cerita kehamilan yang berbeda. Begitu pun dengan Saya.

Benarkah Mandi Kembang 7 Bulan dapat Melancarkan Proses Persalinan?

Di daerah saya tradisi mandi kembang di usia 7 bulan kehamilan masih sering dilakukan masyarakat sekitar.

Pengalaman Saya Menggunakan BPJS Kesehatan selama Masa Kehamilan

Di awal pernikahan kami, saya dan suami memutuskan untuk menggunakan BPJS Kesehatan.

Birthball untuk Ibu Hamil!

Minggu lalu, suami saya menawarkan untuk membeli birthball. Mungkin karna ukuran perut sudah semakin besar

Pengalaman Melahirkan Anak Pertamaku

Kehamilan merupakan suatu hal yang ditunggu-tunggu bagi para pasangan suami istri. Ada yang cepat ada pula yang tidak.

Birthing Support: Hal yang Harus Dilakukan Para Birth Partner

Birth partner adalah seseorang yang akan menemani Moms selama proses persalinan nanti.

Berniat USG 4D? Perhatikan Tiga Hal Berikut!

Kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman tentang niat saya untuk USG 4D saat hamil.

Proses Lahiran yang Terbaik Buat Aku

Di sini aku akan berbagi cerita-cerita tentang proses lahirnya Caelan 3 bulan lalu. Simak yuk Moms!

Hospital Bag Checklist

Berhubung banyak temenku yang akan lahiran soon, jadi ingat zaman hamil Zo bingung banget mau packing apa.

Pengalamanku Alami Plasenta Previa di Kehamilan ke 3

Sore hari saat mau mandi sore, saya dibuat kaget karena mendapati air kencing saya berwarna merah segar.

Punya Baby Brain Tetap Bisa Lulus S2

Hai Moms, saya mau share tentang baby brain yang saya alami saat hamil si Kecil khususnya pada trimester ketiga.

LITMUS: Pendeteksi Cairan Ketuban

Di usia kehamilan trimester tiga kita harus lebih waspada terhadap penurunan volume air ketuban.

Arlin's Birth Story

Hi Moms! Kali ini saya ingin berbagi ceritaku nih selama proses melahirkan. Semoga bisa menambah wawasan.

Senam atau Yoga Hamil?

Di antara Moms mungkin ada yang memilih senam atau yoga. Banyak juga yang bingung mana yang lebih baik.

Preggo Story: Trimester 3, Sebentar Lagi Kita Bertemu

Masuk trimester ketiga saya buat birthplan dan konsultasikan sama dokter kandungan. Kalau Moms bagaimana?