Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Berat Badan Janin Sulit Naik, Berbahayakah?

MY STORY  |  PREGNANCY  |  04 Jan '19

Ibu siapa yang tidak khawatir jika berat badan anak yang dikandungnya tidak kunjung naik? Dan inilah yang aku alami di trimester akhir kehamilanku. 

Di awal kehamilan, aku memang sempat mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan akibat hiperemesis gravidarum, namun syukurnya hiperemesis ini hanya berlangsung di trimester pertama kehamilanku.

Memasuki trimester kedua, berat badanku pun naik diiringi dengan kenaikan berat badan janin yang juga baik dan sesuai dengan kurvanya. Saat melakukan USG 4 dimensi pun, SpOG ku mengatakan bahwa keadaan janinku sehat. Tetapi disaat memasuki trimester akhir kehamilan, berat badan janinku naik namun hanya slightly. Bahkan saat satu bulan terakhir kehamilan menuju due date, dokter SpOGku mengatakan bahwa berat badan janinku cenderung stagnan, padahal bulan-bulan inilah seharusnya berat badan janin naik dengan bobot yang cukup besar.

Mendengar penjelasan tersebut hatiku saat itu benar-benar hancur. Aku takut apabila anakku lahir dengan berat badan kurang karena bayi yang lahir dengan berat badan kurang cenderung memiliki sistem imun yang lemah sehingga mudah sakit.

Berat badan janin yang sulit naik ini nyatanya disebabkan oleh aktivitasku yang cukup padat dan beban kerja yang cukup membuatku stres, sehingga aku menjadi lebih sering muntah-muntah di trimester terakhir ini. Saat itu aku memang masih bekerja, mengingat kontrak kerjaku yang bisa membuatku prolong membuatku memutuskan untuk mengambil cuti H-1 lahiran karena memang aku akan melahirkan melalui proses sectio (sesar) agar aku bisa menyelesaikan kontrak kerja tepat waktu.

Dokter mengatakan bahwa aku seharusnya bed rest di bulan terakhir kehamilanku ini. Namun karena tuntutan pekerjaan, tampaknya akan sulit hingga akhirnya dokter pun menyarankanku dirawat inap agar berat badan janinku naik.

Mengingat bahwa berat badan janin ini merupakan hal yang sangat penting, maka aku mencari second opinion dari SpOG spesialis feto-maternal (pemeriksaan gangguan kehamilan/janin). Ternyata menurut spesialis feto-maternal, berat badan janinku masih dalam batas normal sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mendengar hal tersebut, perasaanku benar-benar lega. Tetapi untuk berjaga-jaga, akhirnya aku tetap menjalani rawat inap sehingga bisa mendapatkan nutrisi melalui jalur intravena agar anakku bisa langsung menyerap nutrisi tersebut.

Hingga akhirnya hari lahiran pun tiba, aku benar-benar bersyukur anakku lahir dalam keadaan sehat dan selamat dengan berat badan 2.900 gram. Kiloannya memang tidak terlalu besar, tapi setidaknya masih dalam batas normal dan tidak kurang. This is my thumping pounding moments, dan jika Moms mengalami hal yang sama, Moms mungkin bisa mengikuti caraku untuk memastikannya apakah memang benar janin memiliki berat badan yang kurang dengan mencari second opinion. Semoga Moms dan janin yang sehat selalu!

Semoga bermanfaat.

By: Editha Aldillasari

Copyright by Babyologist

2649 Editha Aldillasari

Comments

Related Stories