THE DAILY

Categories

Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Bagaimana Mengatasi Anak yang Sering Berbicara Kasar?

PARENTING  |  20 Oct '18

Si Kecil baru saja memasuki tahap-tahap sangat ingin tahu segala hal. Dia pun memperoleh keterampilan baru yang berbeda dan menarik. Namun, keterampilan baru ini kurang menyenangkan bagi Moms dan keluarga. Ternyata, si Kecil sekarang sudah bisa mengumpat dan berbicara kotor.

Sering kali, sumpah serapah yang keluar dari mulut kecilnya adalah hasil dari menirukan langsung apa yang dia dengar. Misalnya, kata-kata umpatan yang mungkin tak sengaja orang tua katakan saat terjebak macet. Parahnya, dia kini mengulang-ulang kata-kata tak terpuji itu saat bersantai di rumah.

Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah mengabaikannya sampai si Kecil kehilangan minat. Jika dia terus melakukannya, akui bahwa tidak seharusnya Moms mengucapkan kata tersebut, dan alihkan perhatiannya dengan mendengarkan lagu atau membaca cerita.

Namun, bisa jadi si Kecil sering mengeluarkan kata-kata kotor karena mendengar ungkapan tersebut ketika berada di tengah masyarakat. Mungkin, sahabatnya di sekolah sedang “memperluas” kosakatanya dan menganggap membagikannya dengan si Kecil adalah hal yang menyenangkan. Atau, mungkin saja si Kecil secara tidak sengaja melihat beberapa episode serial televisi yang menggunakan kata-kata kasar.

Apa yang Harus Moms Lakukan?

  1. Tetap bersikap tenang dan jangan tunjukkan emosi. Saat pertama kali si Kecil mengucapkan sumpah serapah, tahanlah diri Moms agar tidak tertawa keras karena si Kecil akan menganggap hal ini menyenangkan dan akan melakukannya lagi. Anak kecil menganggap kemampuan untuk membuat orang dewasa tertawa, marah, atau kesal adalah hal besar yang bisa dibanggakan. Maka dari itu, ingatlah jika si Kecil bereksperimen dengan berkata kasar, no response is the best response.

  2. Tetapkan batas. Jika si Kecil yang berusia 2 tahun tampaknya selalu mengucapkan satu atau dua kata tak senonoh yang serius, Moms harus menegakkan beberapa peraturan. Sangat krusial untuk memberitahukan peraturan-peraturan ini dengan tenang, jangan gelisah atau marah. Jika Moms terlihat emosi, si Kecil akan menganggap kelakuannya sebagai cara mendapatkan perhatian yang cepat. Moms tidak perlu menjelaskan apa arti kata-kata umpatan itu dan mengapa kata-kata tersebut tidak diterima. Jelaskan dengan nada yang tidak peduli dan tidak tertarik, “Itu bukan kata yang bisa kamu gunakan di rumah ini atau di sekitar orang lain.”

  3. Ganti umpatan dan kata-kata kotor dengan alternatif lain yang lebih menyenangkan dan “bersih”. Kenalkan si Kecil pada kata-kata yang menarik seperti sajak anak-anak. Bantu dia mengungkapkan kemarahan atau emosi lainnya dengan kata-kata yang sesuai (“Saya sedang marah,” atau “Aku frustrasi saat ini”.) Jika dia masih saja memaki-maki setelah satu dua kali peringatan, tanggapi dengan cepat dan konsisten. Bila perlu, berikan time-out singkat agar dia menyadari kesalahannya.

  4. Jangan biarkan sumpah serapah membuat si Kecil mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia bisa jadi akan terus menggunakan metode ini untuk memperoleh yang dia mau.

  5. Ajarkan rasa hormat. Jangan biarkan dia melemparkan julukan kepada teman-temannya. Sumpah serapah dan omongan kotor akan membuatnya kesulitan di sekolah, di taman bermain, di rumah teman-temannya, di pertemuan keluarga, dan di masyarakat secara umum. Jelaskan bahwa kata-kata itu menyakiti perasaan orang lain. Si Kecil mungkin masih belajar bagaimana caranya berempati dan mungkin tidak selalu ingat untuk memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu, tetapi, dia masih perlu tahu kapan dia sedang menyakiti orang lain bahkan jika dia tidak melakukannya dengan sengaja.

  6. Jagalah omongan Moms. Tentu saja, aturan tentang berbicara untuk orang dewasa dan anak-anak berbeda. Tetapi, jika dia mendengar Moms mengucapkan kata-kata itu dalam percakapan sehari-hari, dia akan bertanya-tanya mengapa dirinya dilarang tetapi Moms tetap bebas mengatakannya. Dia akan menyerap apa yang dilihat dan didengarnya dan ingin membagikan apa yang dia pelajari kepada orang lain entah itu baik atau buruk.

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor

675 Babyologist Editor Send Message to Writer

Related Stories