Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Bagaimana Jika Bayi Menangis saat Naik Pesawat?

MY STORY  |  PARENTING  |  01 Mar '19


Bulan lalu saya mengajak anak saya yang baru berusia 3 bulan naik pesawat dari Surabaya ke Balikpapan.

Bisa dibilang ini pengalaman yang membuat saya trauma. Mengapa trauma? Ya, pada saat naik pesawat kejadian yang tak terduga terjadi. Anak saya menangis hampir sepanjang perjalanan.

Awalnya saya sudah percaya diri membawa bayi naik pesawat. Karena anak saya ini termasuk anteng jika diajak bepergian. Saya sering membawanya pergi naik mobil dan dia selalu tertidur sepanjang perjalanan. Maka saya berpikir saat di pesawat nanti pasti dia akan tidur juga.

Sebelum ke Bandara Surabaya pun, kami sudah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam dari Bojonegoro dengan mobil. Dan anak saya anteng, sesekali dia bangun lalu saya beri dia minum ASIP dari botol dot dan tertidur lagi. Dia pun tidak menangis sama sekali.

Sesampainya di Bandara saya taruh anak saya di stroller dan mengganti popoknya sambil menunggu check-in. Waktu check-in saya pun menggendong anak saya, namun tiba-tiba dia gumoh banyak sekali sampai baju saya dan baju anak saya basah semua. Saya sedikit panik lalu menyuruh suami bergantian menggendong sambil saya membersihkan baju dengan tisu.

Setelah check-in selesai, kami pun menunggu di boarding room. Sialnya pesawat delay sekitar setengah jam. Dan anak saya mulai rewel. Drama pun dimulai. Saya susui dia menolak, saya gendong pun tetap menangis, diam sebentar menangis lagi. Lalu saya suruh suami bergantian menggendong dan mengajaknya keliling. Dia tetap menangis, orang-orang di sekitar kami pun mulai memerhatikan. Akhirnya saya coba tidurkan dia di kursi tunggu sambil saya susui sambil saya ajak main-main dan memancing agar dia tertawa. Alhamdulillah dia kembali tenang dan mau tertawa.

Waktu boarding pun tiba. Saya langsung masuk ke dalam pesawat. Suami saya menyerahkan surat keterangan membawa bayi kepada pramugari. Pramugari pun memastikan bahwa kondisi anak saya sehat, saya pun mengiyakan karena sebelumnya anak saya memang sehat-sehat saja. Pramugari memberi seat belt dan pelampung tambahan.

Lalu saya mencari tempat duduk sesuai nomor di boarding pass. Namun, ternyata kami dapat tempat duduk di dekat sayap pesawat, dan di tempat itu suaranya sangat berisik.

Sebelum pesawat take off, anak saya masih tenang dan akhirnya dia tertidur. Saat take off saya langsung menyodorkan susu agar dia minum, tujuannya agar dia menelan sesuatu dan telinganya tidak sakit akibat perubahan tekanan udara. Kita yang orang tua saja saat take off telinga rasanya berdengung. Sebelumnya saya sudah mewanti-wanti untuk tidak memberinya minum dulu, agar waktu take off dia tidak kekenyangan dan mau minum. Tapi ternyata dia tidak mau minum hanya diempeng saja dotnya. Saya terus tempelkan dotnya dan hanya diminum sedikit-sedikit.

Di tengah perjalanan, anak saya yang tadinya tidur tenang tiba-tiba saja gumoh lagi dan yang ini semakin parah. Sampai keluar cairan berwarna kuning. Jelas ini sudah terkuras habis susu yang tadi ditelan. Saya mencoba tenang dan membersihkan bajunya. Tapi anak saya malah menangis. Saya langsung menggendong dia dengan posisi tegak di bahu saya seperti saat menyendawakan. Bukannya tenang, tangisannya malah semakin kencang. Saya gendong terus, saya goyang-goyang tubuhnya tetap tidak mau diam. Saya suruh suami ganti menggendong tapi hasilnya nihil. Anak saya tetap menangis dan malah semakin menjadi-jadi. Penumpang yang ada di dekat kami pun mulai terganggu. Ada yang bilang mungkin anak saya masuk angin. Salah saya memang, karena tidak memakaikan baju panjang untuk anak saya. Hanya menyelimutinya dengan gendongan kain.

Saya terus dekap anak saya sambil menggoyang tubuhnya, tapi tangisnya tidak berhenti sama sekali. Berhenti sebentar tapi kembali menangis. Saya pun hampir frustrasi. Sampai akhirnya ada pramugari yang menghampiri kami, dan ada penumpang lain yang menyarankan agar kami pindah tempat duduk di depan karena di sana tidak terlalu berisik. Akhirnya kami pun disuruh pindah. Namun anak saya tetap menangis. Saya dekap lagi sampai akhirnya mungkin dia capek lalu berhenti menangis dan tertidur. Tak terasa sepertinya hampir setengah jam perjalanan, anak saya menangis tanpa henti. Sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana frustrasinya saya saat itu, sampai saya pun ingin ikut menangis.

Itulah pengalaman saya naik pesawat bersama bayi. Tips dari saya buat Moms, sebaiknya membawa bayi naik pesawat saat sudah berusia di atas 3 bulan. Anak saya saat itu mungkin kolik karena pencernaannya belum sempurna. Perhatikan juga agar bayi tidak terlalu kenyang saat perjalanan. Pakaikan pakaian yang hangat untuk bayi. Bawa diaper bag kecil berisi baju ganti, diaper, tisu basah, tisu kering, minyak telon, dan lain-lain untuk dibawa saat duduk di kursi penumpang agar mudah mengambilnya jika sewaktu-waktu butuh ya Moms. Jika bayi menangis, Moms harus tetap tenang dan jangan panik.

 

Semoga bermanfaat.

By: Usi Nurha

Copyright by Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1979 Usi Nurha

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebagai Working Mom

Menjadi seorang working Mom tentunya memiliki tantangan tersendiri. Yuk simak tips dari Mom Inayah berikut ini.

Hal yg Bisa Dilakukan untuk Mengisi Kegiatan si Kecil di Rumah Selama Pandemi

Moms, yuk simak aktvitas yang bisa dilakukan di rumah bersama si Kecil berikut ini.

Fiersa is Turning One

Merayakan ulang tahun pertama pastinya adalah moment yang tidak bisa dilewatkan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Caraku Mempertahankan Keutuhan Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Rumah tangga yang harmonis pasti sudah menjadi dambaan pasutri. Simak tips berikut ini yuk Moms and Dads!

Caraku Mengatur Keuangan Keluarga di Kondisi Pandemi

Di tengah-tengah pandemi ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak keluarga yang terdampak secara ekonomi. Simak tips berhemat berikut ini yuk!

Punya Anak Perempuan Lebih Boros?

Hayo siapa yang punya anak perempuan dan merasa boros karena beli barang-barang lucu atau baju untuk Si Kecil? Sebenarnya boros tidaknya [...]

Cerita Sibling Goals di Usia Berdekatan

Bagaimana ya caranya agar kakak adik rukun? Yuk, simak cerita berikut ini.

Mengajarkan Kemandirian Sejak Dini Penting Gak Sih Moms?

Mengajarkan si Kecil untuk mandiri sedari dini memiliki banyak manfaat loh Moms. Yuk, simak berikut ini.

Ide Kreatif Bermain Saat Mati Lampu

Mati lampu memang menjadi kondisi yang kurang nyaman. Namun, Moms bisa memanfaatkan kondisi ini untuk barmain dengan si Kecil.

Suamiku Ayah ASI! Yuk Tanamkan Positif Mind!

Hai para istri, yuk belajar cara merayu suami agar mau untuk menjadi ayah ASI berikut ini!

Pengalaman Lebaran Pertama Tanpa Keluarga

Meskipun jauh dari sanak saudara, Lebaran sudah seharusnya menjadi momen yang dirayakan. Yuk, simak cerita berikut ini.

Setahun Bersama Babyologist

Moms, yuk simak pengalaman Mom Dinar setahun bersama Babyo berikut ini.

Menjadi Istri dan Teman Bagi Suami di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 ini sangat berdampak pada ekonomi keluarga. Yuk belajar jadi Istri yang baik dan teman bagi suami kita.

Semakin Harmonis Di Masa Pandemi

Moms and Dads, yuk simak tips untuk semakin harmonis selama masa pandemi ini.

Mengenal Tedak Siten

Apa itu Tedak Siten? Mari simak bersama berikut ini!

Keseruan Memiliki 2 Balita Dengan Jarak Dekat

Anak di usia balita adalah fase dimana anak mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, cenderung lebih egois, dan lebih senang berekplorasi. Usia [...]

Biasakanlah Mengucapkan Kata-kata Positif pada Anak

Seperti apa sih kata-kata positif yang baik untuk kita ucapkan pada anak? Simak berikut ini.

Tips Mengenakan Masker Pada si Kecil

Bagaimana cara merayu si Kecil agar mau mengenakan masker? Simak cerita berikut ini.

Tetap Harmonis Bersama Pasangan Di Masa Pandemi

Moms and Dads yuk usahakan sebisa mungkin untuk tetap rukun di masa pandemi ini. Simak cerita dan tips berikut ini ya.

Mengatasi Kakak Adik yang Sering Berantem

Kakak dan adik sering berantem? Simak tips ini yuk Moms and Dads.