Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Baby Blues Nyaris Merusak Rumah Tanggaku

MY STORY  |  OTHERS  |  05 Sep '19


Pertama kali mendengar istilah baby blues, saya tidak langsung mempercayainya. Saat itu tanpa sengaja saya membaca sebuah artikel tentang seorang istri yang nyaris dianggap ‘gila’ oleh suaminya setelah kelahiran anak pertama mereka. Sang suami hampir memilih jalan untuk berpisah. Syukurnya sang istri menemukan cara untuk menjelaskan kondisi yang dialaminya kepada suaminya sampai-sampai ia begitu mengharapkan pertolongan suaminya. Sang suamipun sadar akan apa yang sedang dialami istrinya. Akhirnya rumah tangga mereka terselamatkan.

Saat itu saya hanya mempercayai bahwa baby blues itu adalah masalah yang harus ditanggapi dengan serius. Hingga akhirnya saya melahirkan anak pertama saya. Entah mengapa saya justru memaklumi setiap berita tragis tentang seorang ibu yang membunuh anaknya. Ya, bukan rasa marah yang justru muncul mendengar berita itu. Justru saya merasakan simpati teramat dalam kepada si ibu. Saya sangat mengerti betapa beratnya menjadi seorang ibu. Betapa bayi mungil yang terlahir dari rahim kita bisa berubah menjadi momok yang menakutkan seketika. Bayi mungil yang tak berdaya, yang kehidupannya sangat bergantung pada kita, ibunya. Dan saya memaklumi mungkin saja si ibu mengalami baby blues hingga tega membunuh anaknya?

Saya tidak langsung mengalami baby blues ketika masa awal melahirkan. Saya bersyukur ada keluarga yang terus mendampingi saya walaupun harus berjauhan dengan suami. Ya, saya dan suami sama-sama bekerja di kota perantauan dan saya lebih memilih melahirkan di kampung halaman. Otomatis suami tidak bisa lama-lama mendampingi saya. Suami hanya pulang sekali sebulan hingga masa cuti melahirkan saya berakhir. 

Saat saya mulai kembali bekerja, saya masih merasa baik-baik saja karena ada pengasuh si kecil yang lumayan meringankan beban pekerjaan rumah saya. Namun, saat saya memilih untuk resign dan tinggal di mess kantor suami, seketika segalanya berubah. 

Aneh tapi nyata. Saya menjadi full time mommy, tinggal bersama suami membesarkan si kecil yang mulai menginjak usia 1 tahun. Tapi saya justru mulai merasa ‘gila’ saat itu. Kantor suami terletak di pedalaman dengan jarak 1 jam perjalanan dari kota terdekat. Tidak ada sinyal internet, untuk sekedar menelpon bahkan mengirim sms pun sulit. Tidak ada warung makan sehingga memasak menjadi rutinitas wajib saya. Hiburan televisipun sangat terbatas. Lalu apa yang menyebabkan saya mulai merasa ‘gila’? Suami.

Sejak awal saya sadar bahwa suami saya bukanlah tipe suami yang mau berbagi tugas mengurus si kecil. Terkadang saya iri degan pasangan lain yang dengan tegas dan jelas mengatur jadwal siapa yang mengganti popok si kecil saat malam, siapa yang memberikan susu untuk si kecil di tengah malam, dan lain sebagainya. Suami saya justru bisa tidur dengan lelap sepanjang malam. Sementara saya harus terbangun nyaris setiap jam untuk menyusui si kecil. Bahkan suami enggan ketika saya meminta tolong mengganti popok si kecil saat saya sedang masak. Kalaupun dilakukan, pasti disertai dengan sindiran. Hal lain yang membuat saya nyaris ‘gila’ adalah tidak ada komunikasi intens dengan suami. Kami sama-sama lupa bagaimana melayani dan memanjakan pasangan. Waktu saya terkuras untuk mengurus rumah dan si kecil. Sementara suami bisa sibuk memainkan hp atau menonton televisi hingga tertidur. Kami hanya berkomunikasi ala kadarnya.

Puncaknya saya melampiaskan emosi yang terpendam lama saat suami menanggapi ucapan saya dengan nada sepele. Saya lupa apa yang saya ungkapkan saat itu, yang pasti tentang masa depan si kecil. Saya marah dan saya menangis sejadi-jadinya. Saya menutup muka dengan bantal untuk meredam tangisan saya, agar tak terdengar oleh tetangga. Suamipun membawa si kecil keluar rumah sore itu, tak ingin si kecil kena imbas kemarahan saya. Seketika saya merasa benci teramat sangat kepada suami saya bahkan saya mengusir si kecil yang berusaha mendekati saya. Saya cemburu. Saya cemburu kepada si kecil yang dengan mudah mendapatkan kasih sayang suami. Sayapun merasa benci pada si kecil saat itu. Terdengar ‘gila’ bukan?

Hingga malam tiba, saya pun mencoba menenangkan diri untuk tetap bisa menidurkan si kecil berharap saya memiliki waktu menyelesaikan yang terjadi antara saya dan suami. Namun yang terjadi adalah suami justru asik menonton televisi. Seolah-olah tidak ada hal serius yang perlu ditanggapi. Saya kembali mengurung diri dan menangis. Bahkan saya meraih pisau di dapur hanya untuk mencuri perhatian suami. Tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan. Tidak mungkin saya kabur keluar rumah sementara kami tinggal di tengah hutan. Tidak ada tempat bercerita yang aman tanpa harus merusak nama baik suami. Tidak ada satu pengalihan pun yang bisa meredam emosi saya. Saat itu suami menggenggam erat tangan saya agar saya segera melepaskan pisau tersebut. Saya berteriak sakit. Lalu saya kembali mengurung diri menangis. Suami hanya memantau saya dari jauh. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan seolah-olah saya bukan lagi istri yang patut disayangi. 

Lagi-lagi saya mengambil pisau untuk menarik perhatiannya. Kali ini suami benar-benar berang. Tapi bukan justru menyelesaikan segalanya dengan saya, suami malah menelpon ibu saya. Entah bagaimana sinyal telepon tiba-tiba lancar. Seketika saya terhentak. Seolah-olah rumah tangga kami berada diujung tanduk. Saya sadar saya memang sudah kelewatan batas saat itu sekaligus saya bingung bagaimana ini? Mengapa begini? Saya hanya diam mendengarkan perbincangan antara suami dan ibu saya yang sengaja di-loud speaker. Suami secara halus mengatakan mungkin saya rindu rumah dan harus pulang. Namun insting seorang ibu tahu bahwa terjadi sesuatu diantara kami. Ibu justru menyarankan suami untuk diam saja menunggu saya tenang. Saya tersenyum kecut. Jelas itu adalah saran yang salah. 

Akhirnya saya berusaha menenangkan diri dan mencoba mengajak suami berbicara. Suamipun mulai mematikan televisi dan menyuruh saya masuk kamar terlebih dahulu. Kamipun berbicara dari hati ke hati berakhir dengan tertidur dalam pelukan. Malam itu rumah tangga kami nyaris runtuh.

Saya tidak pernah mengerti apakah yang saya alami benar-benar baby blues? Namun saya mendapatkan beberapa poin penting agar bisa menjaga kewarasan dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

  1. Sadari bahwa suami juga manusia. Suami juga perlu diperhatikan. Suami juga perlu didengar. Suami juga perlu dilayani walau sekedar membuatkan teh di pagi hari. Hal yang serta merta saya lupakan saat si kecil hadir.
  2. Jangan enggan meminta tolong pada suami. Saya termasuk tipe orang yang enggan meminta tolong walaupun sudah merasa sesak. Saya berharap suami punya inisiatif sendiri tanpa harus dimintai tolong terlebih dahulu apalagi mengingat setiap sindirannya yang terucap. Mungkin maksud suami hanya bercanda memecah kekakuan hidup kami.
  3. Membuat komitmen yang jelas dan menepatinya. Sejak awal kami tidak memiliki komitmen apapun. Hanya menjalani kehidupan mengalir begitu saja. Alangkah baiknya jika setiap pasangan memiliki komitmen tentang hidup dan tujuan mereka. Bukan sekedar komitmen bagaimana mengurus si kecil, tapi komitmen secara keseluruhan hingga akhir nanti.
  4. Tidak melupakan kebiasaan kecil nan romantis. Masih ingat bagaimana cara menyalami suami lalu suami membalas dengan kecupan di kening? Masih seringkah memeluk suami walau hanya 5 detik? Masih ingatkah kebiasaan sebelum tidur mengecup keningnya? Saat saya masih bekerja seringkali saya meminta suami untuk memeluk saya. Suamipun menanggapi walau merasa heran dengan permintaan sederhana saya. Tidak perlu lama-lama tapi sudah cukup melupakan segala kelelahan dan energi saya kembali penuh.
  5. Beribadah (shalat) bersama. Bukan sendiri-sendiri. Walaupun terkadang harus bergantian demi menjaga si kecil, cobalah sesekali beribadah berjamaah di saat si kecil tidur. Mendekatkan diri kepada sang pencipta tentunya akan mendekatkan hati suami-istri.
  6. Komunikasi dengan sepenuh hati. Bukan hanya sekedar berbincang ya moms tapi cobalah untuk berbicara dari hati ke hati. Tanggapi sepenuh hati. Dengarkan dengan hati. Jauhkan segala benci. Dan jangan coba-coba menyindir. Berbicaralah dengan terang-terangan di waktu yang tepat.

Semoga pengalaman saya membuka hati dan bermanfaat untuk kita semua.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

3624 Zurrahmi ulya

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Manfaat Air Purifier untuk Pencegahan Virus

Partikel udara kotor ternyata dapat mempercepat penyebaran virus. Air purifier efektif untuk membantu menghilangkan partikel udara kotor.

Waspadai Banjir Bersama si Kecil Saat Musim Hujan

Salah satu masalah besar yang tidak bisa dihindari saat musim hujan adalah bencana banjir.

Tidak Hanya Melembabkan Udara, Berikut Manfaat Humidifier Lainnya

Humidifier tidak hanya berguna untuk melembapkan udara lho Moms, masih banyak manfaat yang bisa didapat dari humidifier

Pentingnya Mengatur Kelembapan Ruangan

Udara yang panas dan penggunaan AC yang sering menyebabkan kulit kering. Maka dari itu Moms perlu alat yang satu ini

Perlukah Air Humidifier untuk si Kecil?

Apa saja sih manfaat yang dapat dirasakan setelah menggunakan air humidifier bagi kesehatan si Kecil dan keluarga?

Ruangan Ber-AC Membuat Kulit Kering? Yuk Moms Pakai Humidifier!

Penggunaan AC setiap hari bisa membuat kulit kering, tapi tenang Moms ada solusinya untuk mengatasi kulit kering

Tidak Hanya Ibu, Ternyata Ayah Juga Rentan Mengalami Baby Blues

Baby blues yang biasa kita tau dapat menyerang seorang Ibu baru, tapi ternyata suami saya juga mengalaminya

Suami Jadi Tak Humoris? Jangan-Jangan Baby Blues

Baby blues selalu menjadi perbincangan hangat di dunia parenting dan ternyata suami juga berpotensi mengalaminya lho

Syndrome Baby Blues yang Dialami oleh Suamiku

Baby blues pada ayah berbeda dengan baby blues yang terjadi pada ibu akibat perubahan hormon pada wanita.

Baby Blues yang Terjadi pada Suamiku

Saat si Kecil lahir, tentu saya banyak sekali melihat perubahan yang terjadi dalam diri suami saya.

Ketika Suami Baby Blues, Ini Cara Saya Menanganinya

Aku ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana awal suamiku terkena baby blues dan bagaimana aku menyikapinya.

Cerita Syndrom Baby Blues yang Menimpa Suamiku

Lain anak, lain cerita. Saat anak kedua kami lahir, justru suami sayalah yang mengalami sindrom baby blues.

Baby Blues yang Dialami Ayah saat Kelahiran Anak Keduaku

Halo moms, sedikit cerita, saya ibu dari dua orang anak dimana umur saya dan suami berbeda 4 tahun.

Mengalami Baby Blues secara Bersamaan, Aku dan Suamiku Menjadi Semakin Mesra

Setelah menikah, saya memilih meninggalkan comfort zone saya di rumah orangtua, untuk ikut dengan suami

Waspada Pre-Baby Blues pada Suami!

Sepuluh tahun saya berpacaran dan akhirnya sampai di jenjang pernikahan.

Tipsku agar Daddy Blues Tidak Berujung Depresi

Memiliki anak adalah life changing moment bagi para pasangan. Mereka memiliki title baru, sebagai "orang tua".

Aku Tidak Baik-baik Saja

Ada perasaan takut ketika aku hanya sendirian di rumah bersama bayiku. Bayiku berusia dua minggu saat itu.

Mari Kita Pahami Kondisi Psikis Ibu yang Baru saja Melahirkan

Menjadi seorang Ibu merupakan suatu hal yang menurut saya ajaib

Pengalaman Baby Blues Dan Beberapa Faktor Penyebabnya

Baby blues pernah dirasakan sebagian besar ibu. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan baby blues

Cemburu Sama Anak Akibat Baby Blues

Sempurna: lahiran normal, pembukaan cepat, ASI lancar, keluarga besar siap membantu, tapi tetap alami baby blues?