Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Anak Tantrum? Jangan Panik Dulu Moms!

MY STORY  |  PARENTING  |  TODDLER  |  09 Oct '19


Kali ini saya pengen cerita pengalaman pribadi saya menghadapi tantrumnya Nabilla. Sebelum kita ngomongin cara menghadapi tantrum, kita harus tau dulu penyebab anak tantrum.

Dari pengalaman saya, anak tantrum kalau:

1. Keinginannya tidak kita penuhi.
2. Kesenangannya dihentikan secara semena2 oleh kita. Anak lagi asyik main air, kita langsung angkat. Anak lagi nonton TV, kita langsung matiin.
3. Ngantuk dan lelah. Kalo ini penyebab tantrum, saya cuma bisa kasih satu solusi: ajak anak tidur/istirahat :)

Penyebab 1 dan 2 seharusnya bisa dihindari dengan komunikasi yang baik.

Beginilah saya menghadapi tantrum anak saya:

1. Saya bicara dengan nada tenang kepada anak saya
"Bicaranya baik2, diam dulu, lalu bicara sama mamah baik2" atau "Ngomong baik2, Kalau sambil nangis dan teriak2 mamah ga ngerti." Sambil ngomong begitu saya menghadap anak saya (saya tatap matanya dan kalau dia menghindar dari tatapan mata saya, biasanya saya minta dia untuk melihat saya), posisi sejajar (saya berlutut) dan kadang ada sentuhan. Bisa dengan memegang tangannya atau elus2 pipi/rambutnya. Kalau tantrumnya masih level rendah, cara pertama ini langsung ampuh. Ketika dia tenang, kami langsung berdiskusi tentang apa yang diinginkannya dan saya menjelaskan kenapa saya tidak membolehkannya. Intinya, negosiasi, win-win solution, anak senang, Moms juga senang.

2. Diam atau lakukan aktivitas yang ingin dilakukan / sudah Moms lakukan sebelum anak tantrum
Kalau level tantrum sudah menengah ke tinggi, anak saya akan menangis lebih keras jika disuruh bicara baik2. Kalau saya memaksa memberi penjelasan dalam keadaan dia menangis keras, percuma. Dia tidak mau dengar, padahal volume suara saya sudah makin tinggi. Dia juga akan meninggikan volume tangisan dan teriakannya. Saat itulah saya memutuskan untuk diam. Kalau saya lagi masak, saya tetap masak. Aksi diam ini bukannya sekedar diam, tapi saya berusaha mengirimkan pesan melalui bahasa kalbu saya bahwa mamah ingin bicara baik2 denganmu, nak. Sambil diam ini juga saya sambil berpikir apakah saya sudah benar untuk tidak memenuhi keinginannya? Apakah yang saya larang adalah sesuatu yang memang benar2 harus saya larang, atau sebenarnya bisa saya kasih izin dengan syarat2 tertentu. Saya juga berpikir akan kata2 baik yang harus dikeluarkan ketika kami akhirnya bicara. Sebelum/ketika sedang berlangsung aksi diam ini, saya juga memberitahu dia lagi bahwa saya baru akan bicara lagi dengannya kalau dia sudah mau diam, berhenti menangis teriak2 dan mau mendengarkan.

3. Time Out
Anak belum juga mau diam dan mereda. Dia malah semakin marah dengan aksi diam kita. Kita merem, dia teriak, "Jangan mereeemm, jangan tiduuur." Kita masak, makan, ke kamar mandi, dll, dia mengikuti dan meraung2 di sebelah kita. Kadang sambil narik2 baju atau ada juga anak yang suka pukul/tendang. Biasanya situasi seperti ini membuat ibu terpancing emosi, bawaannya pengen nyubit, pengen bentak. Nah, inilah waktunya time out. Time out versi saya adalah memisahkan kami berdua. Caranya time out, saya mendudukkan Nabilla di kursi khusus, menyuruhnya tetap duduk di situ sampai tenang, baru kami bicara sementara saya di ruangan lain. Apakah anak akan langsung diam dan tenang? Ooo, tentu tidak. Dia akan mengamuk, teriak2, mencoba berlari mengejar kita. Di saat itulah konsistensi kita sedang diuji. Apakah kita bertahan dengan time out itu atau kita luluh dengan teriakan dan tangisnya yang semakin memilukan dan menyayat hati. Jujur, gak tega. Tapi saya harus menunjukkan bahwa ketika saya mensyaratkan dia untuk tenang agar bisa bicara, itu adalah syarat serius, bukan ancaman, bukan gertakan yang segera luluh dengan tangisannya. Supaya anak juga bisa mengerti bahwa untuk mendapatkan keinginannya, bukanlah dengan menangis teriak2 melainkan dengan bicara baik2. Oh iya, time out ini juga ada waktunya ya. Pernah baca kalau sebaiknya time out adalah selama beberapa menit sesuai usia anak. Kalau waktu time out sudah habis dan dia belum juga reda, saya akan bertanya, "Sudah siap bicara sama mamah?"

4. Kembali bicara baik2
Saat anak sudah tenang, ibunya juga tenang, inilah saatnya bicara. Biasanya saya mulai dengan mengajak Nabilla berpelukan meski Nabilla sering menolaknya. Maklum meski sudah tenang, dia masih 'marah' dengan saya. Saya ambil posisi sejajar dengannya, menatap matanya, dan saya pegang tangannya. Saya memberi penjelasan, kami bernegosiasi dengan baik2. Jika penyebab tantrumnya saya sadari adalah kesalahan saya, saya minta maaf lalu mengajaknya berpelukan lagi dan kasih dia ciuman.

Begitulah pengalaman saya menghadapi tantrum. Alhamdulillah saya lihat Nabilla sudah mulai mengerti. Kalau dia mau marah/nangis, dia bisa langsung tenang jika saya memintanya bicara baik2. Kalau akhirnya tantrum dan sampai time out, Nabilla cepat menyadari bahwa dia harus bicara baik2 jika ingin time out berakhir. Saya percaya bahwa kami berdua sama2 belajar berkomunikasi dan kami sedang berproses menuju yang lebih baik.

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

2186 Rahayu Pratiwi

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Tips & Tricks Potty Training Ala Mama Alby

Moms sedang mempersiapkan si Kecil untuk potty training? Simak tips dan trik berikut ini ya.

Proses Menyapih si Kecil Serta Berbagai Persiapannya Part 2

Yuk simak lanjutan cerita Mom Risya berikut ini tentang proses menyapih.

Kapan Sebaiknya Mengajak Si Kecil Gowes?

Mengajak anak gowes, sebaiknya dimulai sejak usia berapa? Kami pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin untuk memenuhi kualifikasi tersebut.

Yuk, Moms, Cegah Stunting Sejak Si Kecil dalam Kandungan!

Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang harus diatasi sejak dini. Simak penyebab, dampak, dan cara mengatasi stunting pada anak berikut ini.

Belajar Mengenal Angka dengan Tempelan Kulkas

Saya sedang mengajari Stacy untuk mengenal bentuk angka-angka. Namun, saya ingin mengajarinya sambil bermain sehingga Stacy senang dan [...]

Mari Menjalani Fase Teribble Two dengan Bahagia

Keputusan menjadi orang tua dibutuhkan sebuah komitmen yang kuat dan bukan perkara yang mudah.

Bagaimana agar si Kakak Tidak Cemburu pada Adiknya

Pertanyaan ini sering muncul di hati saya sejak saya mengandung anak ke 2. Moms and Dads juga mengalami yang sama? Yuk simak berikut ini.

Role Model Terbaik Adalah Ayahku

Proses mengandung, melahirkan dan membesarkan buah hati tidak hanya menjadi tugas ibu lho Moms!

Menghadapi Tantrum Anak Usia 14 Bulan

Tantrum, sebuah momok yang sudah tidak asing di telinga orang tua.

Tips agar Anak Tidak Menjadi Pelaku Bullying

Beberapa saat yang lalu warganet dikejutkan dengan kabar meninggalnya artis K-Pop yang bunuh diri karena depresi

Tips Memilih Tontonan Anak

Peran kita sebagai orangtua dalam memberikan hiburan pada si Kecil sangat penting loh Moms

Meningkatkan Bonding antara Ayah dan si Kecil saat LDM

Long Distance Marriage adalah sebuah istilah yang dibuat untuk pasutri yang menjalani pernikahan jarak jauh.

Mengatasi Rasa Cemburu Kakak Terhadap Adik Barunya

Saya ingin sharing tentang pengalaman menjadi Mom of two, karena tanggal 2 November lalu saya melahirkan anak kedua.

Disiplin saat Masih Balita, Pentingkah?

Saat menjadi ibu, naluri & pemikiran saya berkembang, naluri melindungi, menyayangi dsb yang menyangkut anak saya.

Tips Mengajarkan Kakak Menyayangi Adiknya Sejak di Dalam Perut

Walau Daud masih kecil banget & belom ngerti apa itu adik, aku berusaha banget untuk kasih tau dia dari sekarang

Berbagai Aktivitas Agar si Kecil Betah di Dalam Pesawat

Aktivitas berikut ini bisa moms coba agar si Kecil betah di dalam pesawat lho

Punya Dua Balita, Moms Harus Siap Jadi 'Super Mom'

Saya memiliki 2 balita dengan jarak yang cukup dekat, saya jaga & besarkan sendiri tanpa bantuan nanny atau orang tua.

Saat si Kecil Bertanya: Kenapa Bunda Bisa Hamil?

Moms, pasti pernah ya berada dalam momen seperti itu. Atau si Kecil bertanya, aku lahir dari mana sih Bunda?

Orangtua Selalu Membandingkan Anak, Ini Dampak Negatifnya!

Pernahkah di antara kita sebagai orang tua membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain atau antar saudaranya?

Hentikan Kebiasaan Selalu Menjanjikan Sesuatu Hal kepada si Kecil

Hayo mom siapa yang biasa melakukan hal tersebut? Membujuk anak dengan menjanjikan sesuatu hal yang menarik.