Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

Alat Kontrasepsi, Solusi Atau Masalah Baru?

MY STORY  |  OTHERS  |  27 Aug '19


Bagi para pasangan yang telah menikah keputusan untuk langsung memiliki anak atau tidak sudah tentu dibicarakan sejak awal. Termasuk rentang perencanaan kehamilan anak pertama, kedua dan seterusnya. Sudah lama dikenal di Indonesia mengenai program KB (Keluarga Berencana) yaitu dengan mengatur kehamilan melalui alat kontrasepsi.

Ironisnya pilihan alat kontrasepsi sebagian besar dipakai oleh wanita atau sang Ibu, dibandingkan oleh pria. Padahal di satu sisi penggunaan alat asing yang mengatur hormonal atau mengganggu proses pembuahan agar tidak hamil sudah tentu menimbulkan efek samping.

Saya sudah aktif bereproduksi sejak usia muda. Hampir semua alat kontrasepsi non operasi dicoba kecuali implant karena konon bisa berpindah-pindah tempat di lengan. Dan dari semua alat kontrasepsi yang saya pilih,

Keluhan yang saya rasakan sebagai berikut :

1. Suntik

Masa nifas pasca kehamilan anak pertama yang normalnya 25-40 hari berubah menjadi sebuah drama horror selama hampir 2,5 bulan lamanya. Darah nifas saya terus keluar, badan makin kurus karena letih secara hormonal ditambah terganggunya proses menyusui dengan ASI, faktor baby blues dengan minimnya pengalaman anak pertama. Itupun sudah berganti 2 kali obat suntik ke bidan dan tetap tidak efektif. Akhirnya saya beralih ke pil.

2. Pil

Awalnya efektif selama 2 tahun pertama. Minum pil ini pun berat jika kita termasuk orang pelupa dan malas minum obat. Berbagai keluhan yang kebanyakan orang lain rasakan terhadap penambahan berat badan, jerawat dan flek hitam pada wajah, untungnya tidak saya alami. Namun yang terjadi saat saya lupa meminum karena aktivitas tinggi saya hamil anak kedua, disaat perencanaan yang kurang matang alias kebobolan.

3. IUD atau spiral

Pasca nifas anak kedua selesai saya belajar banyak bahwa ternyata KB hormonal mungkin tidak cocok bagi saya. Suntik berefek pada siklus menstruasi yang mengerikan, pil banyak alfanya. Akhirnya dengan perasaan harap-harap cemas saya memasang IUD. Dan ternyata IUD ini pun bukan lantas pasang langsung selesai urusan, justru harus rajin kontrol ke dokter kandungan dan melakukan perbaikan letak.

Dikarenakan kurangnya informasi atas pentingnya kontrol berkala tersebut dan segudang aktivitas saya mengabaikan si IUD ini bertahun-tahun hingga menstruasi semakin banyak, semakin sakit dan ketika saya kontrol ke bidan posisi IUD sudah melenceng jauh dari tempat yang seharusnya serta menimbulkan luka pada leher rahim saya. Efeknya pun cukup fatal beberapa tahun ke depan. Akhirnya saya lepas IUD dalam waktu 3 tahun pemakaian karena berbagai keluhan dan kerusakan yang saya rasakan di tubuh saya.

4. Kondom

Dulunya saya bukan orang yang nyaman dengan pemakaian alat kontrasepsi satu ini namun belajar dari pengalaman saya tetap butuhkan alat ini terutama jika ingin tetap mesra dengan suami di awal kehamilan. Untuk mencegah terjadinya kontraksi dini atau keguguran dan tetap ingin berhubungan maka disarankan dokter untuk menggunakan kondom ini. Berbagai pilihan kondom dengan tingkat elastisitas, ketipisan dan kenyamanan para pengguna telah tersebar luas di pasaran. Bisa menjadi sebuah alternatif pilihan namun bukan berarti bebas resiko. Tetap ada resiko kebocoran atau sobek saat penggunaan.

5. Kalender

Bagi wanita dengan siklus menstruasi teratur sudah tentu metode ini paling efektif. Namun bagi beberapa pasangan yang subur resiko kehamilan di masa-masa tertentu tetap ada. Sekarang juga sudah banyak beredar di pasaran alat mengetes kesuburan bisa menjadi alternatif lain selain penggunaan kondom tentunya.

6. Tissue

Kedengarannya lucu namun paling nyaman dan paling mudah digunakan. Apa itu Kontrasepsi atau KB Tissue. Sang pria harus memiliki hati besar dan kemauan tinggi untuk dapat menahan ejakulasi sehingga sperma dapat dikeluarkan di luar vagina. Dan resiko kehamilan yang tidak diinginkan bisa dihindari. Hal ini cukup efektif apabila kedua pasangan memiliki komitmen tinggi.

Untuk Implan, saya pribadi belum punya pengalaman pemakaian, namun belum lama ini saya berbincang dengan tetangga yang baru pulang dari kampung halaman. Setelah sekitar hampir sebulan ia mudik, ia bertutur alasannya mudik lama karena kondisi kesehatannya memburuk pasca memasang implant di lengannya. Saat habis memasang implant ia langsung jalan ke mall, mendorong stroller dan menggendong keponakannya. Tak ayal lengannya mengalami pendarahan hebat dan posisi implantnya harus diperbaiki kembali. Duh ngilu sekali mendengarnya. Dulu teman kuliah saya pun menuturkan bahwa setelah memasang implant biasanya kita jadi membatasi diri mengangkat benda-benda dengan berat tertentu. Mirip seperti habis operasi Caesar.

Jadi apakah kontrasepsi seburuk itu? Tidak juga. Walaupun dalam beberapa ajaran agama hal ini masih menjadi perdebatan apakah perlu menunda kehamilan, pada kenyataannya pasangan pun perlu perencanaan finansial lebih matang sebelum merencanakan kehamilan. Mahalnya biaya persalinan, kontrol dokter kandungan dan berbagai properti bayi lainnya belum lagi biaya pendidikan sudah tentu menjadi alasan dan pertimbangan bagi para pasangan untuk mengatur kehamilannya.

Kontrasepsi pun sifatnya cocok-cocokan, sangat subyektif. Sebelum memilih dan memutuskan pemakaian salah satunya ada baiknya berkonsultasi dengan pasangan dan dokter, mana yang kiranya paling pas sesuai dengan riwayat pasangan masing-masing.

Tulisan ini sebagai sarana berbagi atas pengalaman saya dengan kontrasepsi, sangat berharap jika ada pengembangan kontrasepsi pada pria, bukan sebagai alat feminis namun pria biasanya memiliki ketahanan fisik lebih prima dibandingkan wanita yang sudah melahirkan. Sehingga hal ini tentu bisa menjadi pilihan win-win solution agar proses menyusui dan mengasuh anak bisa berjalan lebih optimal. 

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

501 Dian Yulia Kartikasari

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Kontrak Pra-Nikah, Sudah Tau Moms?

Kontrak pra-nikah atau yang juga biasa disebut sebagai prenup, sebetulnya apa ya? Mari simak bersama berikut ini.

Masa Pandemi Jadi Sering Ribut Dengan Pasangan? Ini Penyebabnya

Kenapa ya selama masa karantina mandiri ini jadi sering ribut dengan suami? Coba simak yang satu ini.

Ratus Pasca Persalinan, Yes or No?

Moms pernah mendengar istilah ratus? Yuk simak cerita berikut ini.

Pandemic Membuatku Jadi Makin Mesra

Simak tips semakin mesra selama pandemi berikut ini yuk Moms and Dads!

Cerita Lebaran Tahun Kedua Fiersa

Meskipun Lebaran tahun ini berbeda, tapi tetap merupakan momen yang perlu dirayakan. Yuk simak cerita berikut ini.

Ini Cara Kami Mewujudkan Pernikahan Sehat Di Masa Pandemi

Yuk simak cara Mom Risny menjaga keharmonisan rumah tangga di saat pandemi ini.

Lakukan 4 Hal Ini Untuk Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Selama Pandemi

Moms and Dads, selama pandemi ini jaga keharmonisan rumah tangga yuk. Simak bersama yang berikut ini.

Inspirasi Nursery Room

Para bumil sedang mencari inspirasi untuk mendekor kamar si Kecil? Bisa lihat yang satu ini ya.

Menjaga Kesehatan Pernikahan Selama Di Rumah Aja

Selama di rumah aja, apa yang Moms and Dads lakukan untuk menjaga kesehatan rumah tangga? Baca cerita berikut ini ya.

Komunikasi Suami Istri Saat WFH

Apabila suami istri sedang tegang, apa yang sebaiknya dilakukan? Simak cerita berikut ini ya.

Daddies Cook on Vals Day with Nutribaby+

Babymoov menyelenggarakan acara Daddies cook on Valentines Day!

Tips Sederhana untuk Mengurangi Sampah Rumah Tangga

Mengurangi sampah bisa dilakukan dari hal-hal kecil yang sederhana ya Moms, apa sajakah itu?

Yang Perlu Dipersiapkan saat Jadi Mama Muda di Perantauan

Apa saja yang harus dipersiapkan saat memutuskan untuk tinggal sendiri alias jauh dari keluarga?

Membereskan Baju dengan Menggunakan Konmari Method

Gerah banget ga sih Moms, tiap buka lemari liat baju anak awut2an. Perlu ngumpulin niat yang banyak buat rapihin semua.

Habis Melahirkan, Tetapkan Aturan Berikut

Jangan sungkan untuk menerapkan aturan aturan ya, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan

Tips Menghempaskan Mom Shaming!

Yuk ikuti tips berikut ini untuk mengatasi mom shaming

Bahaya Baby Blues

Ternyata 80% Ibu yang baru melahirkan mengalami dan merasakan yang namanya Baby Blues

Tips Menghadapi Mom Shaming dan Baby Shaming

Moms pasti pernah mengalami Mom shaming ataupun Baby shaming, "Kok anaknya nangis mulu, ASI kamu pasti dikit tuh!"

Pentingnya Bahasa Cinta dalam Pernikahan

Pernikahan merupakan sebuah ikatan antara dua orang yang memerlukan kerja sama antara keduanya.

Hindari Kalimat Ini jika Bertemu Ibu Baru

Menjadi seorang ibu tentu tidaklah mudah. Terlebih bagi seorang ibu baru.