Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

5 Mitos tentang Mutisme Selektif

OTHERS  |  PARENTING  |  04 Nov '18


Ada banyak kesalahpahaman umum tentang mutisme selektif (selective mutism). Mutisme selektif sendiri merupakan gangguan serangan kecemasan yang berlebihan pada anak. Salah satu cirinya adalah anak tidak bisa berbicara dalam lingkungan sosial, padahal biasanya mampu berbicara dengan lancar. Ia memilih untuk tidak berbicara pada situasi atau orang tertentu.

Penting untuk menghilangkan mitos dan memahami fakta-fakta tentang mutisme selektif sehingga anak-anak yang menderita gangguan ini bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Mitos Terkait Mutisme Selektif menurut Anxiety Canada

  1. Anak-anak dengan mutisme selektif mengalami trauma atau memiliki rahasia yang gelap dan dalam.
    Umumnya, orang-orang berasumsi bahwa anak-anak dengan mutisme selektif tidak berbicara karena sesuatu yang sangat buruk terjadi pada mereka. Hal ini biasanya tidak benar. Bahkan, tingkat trauma pada anak-anak dengan mutisme selektif sama dengan populasi umum. Mitos ini dapat mencegah orang tua mencari bantuan karena takut dengan apa yang orang lain pikirkan dan katakan. Mitos ini juga dapat mencegah anak-anak menerima perawatan yang sangat dibutuhkan untuk gangguan kecemasan.

  2. Anak-anak dengan mutisme selektif adalah pemalu dan akan dengan sendirinya mengatasi kesulitan mereka untuk berbicara kepada orang lain.
    Mutisme selektif bukanlah hal yang sama seperti menjadi pemalu. Banyak anak-anak adalah pemalu. Anak-anak yang pemalu cenderung menghangat terhadap situasi baru seiring dengan berjalannya waktu. Rasa malu adalah karakteristik kepribadian yang cenderung tidak menghalangi kesuksesan anak-anak. Sementara itu, mutisme selektif adalah gangguan yang mencegah seorang anak untuk bisa sukses di banyak bidang penting dalam kehidupan mereka, seperti akademis dan sosial.

    Banyak orang berpikir bahwa anak-anak akan menghilangkan perilaku mutisme selektif seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, hal ini biasanya tidak benar. Jika tidak diobati, anak-anak dengan mutisme selektif dapat bertahan bertahun-tahun menderita dan kehilangan kesempatan berkegiatan yang sesuai dengan usianya.

  3. Anak-anak dengan mutisme selektif memiliki masalah kemampuan berbicara dan membutuhkan terapi wicara.
    Beberapa anak dengan mutisme selektif memiliki masalah dalam berbicara dan berbahasa. Namun, banyak yang tidak. Sulit untuk sepenuhnya memahami hubungan antara gangguan berbicara dan berbahasa dengan mutisme selektif karena sulit untuk menilai seorang anak yang tidak berbicara dengan orang dewasa yang tidak dikenal. Penting untuk mengetahui bahwa bagi sebagian besar anak-anak dengan mutisme selektif, terapi wicara mungkin bukan lini pertama perawatan yang paling membantu, tanpa bukti bahwa anak tersebut menderita gangguan berbicara dan berbahasa.

  4. Anak-anak dengan mutisme selektif hanya bersikap oposisi dan manipulatif.
    Selama beberapa dekade, anak-anak dengan mutisme selektif dianggap melawan dan menentang. Faktanya, mutisme selektif disebut sebagai mutisme elektif (elective mutism) untuk waktu yang sangat lama karena anak-anak dianggap sengaja menolak berbicara. Kita sekarang tahu bahwa mutisme selektif adalah gangguan kecemasan yang menyebabkan anak-anak merasa sangat takut dalam situasi sosial. Seorang anak dengan mutisme selektif mungkin terlihat marah atau menentang. Meskipun demikian, perilaku ini mewakili keinginan anak untuk menghindari situasi yang menyusahkan dan menakutkan.

  5. Mutisme selektif adalah bentuk autisme
    Beberapa orang menyamakan mutisme selektif dengan autisme, tetapi penting untuk mengetahui bahwa mereka bukan jenis gangguan yang sama. Autisme dan mutisme selektif mungkin tampak serupa. Ketika anak-anak dengan mutisme selektif merasa cemas, mereka sering bereaksi dengan kurangnya kontak mata, ekspresi kosong, dan kurangnya komunikasi verbal. Namun, anak-anak dengan perilaku mutisme selektif bertindak berbeda di berbagai situasi. Mereka sering berperilaku sangat sosial dan banyak bicara dalam situasi yang nyaman, tetapi pemalu dan pendiam dalam situasi sosial lain. Sebaliknya, anak-anak dengan autisme cenderung bertindak sama di semua jenis situasi.

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

2724 Babyologist Indonesia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Metode Kontrasepsi IUD, Gimana sih Cara Kerjanya?

Moms sudah pernah mendengar tentang metode kontrasepsi IUD atau spiral? Sudah tahu cara kerjanya? Simak berikut ini yuk.

Buat Paspor untuk si Kecil? Mudah dan Cepat, kok!

Siapa bilang membuat paspor itu ribet? Sekarang ini prosesnya mudah dan cepat kok Moms and Dads! Yuk, simak berikut ini.

Tips Mengatasi Mommy Shaming

Apa yang harus dilakukan jika Moms menjadi korban Mommy shaming? Yuk simak tips berikut ini!

Apa Itu Co-Parenting?

Moms pernah mendengar istilah co-parenting? Yuk simak penjelasannya lebih dalam berikut ini

Merayakan Ultah Anak dengan Minimal Budget dan Hasil Maksimal

Merayakan ulang tahun anak dengan maksimal juga bisa dilakukan dengan budget terbatas lho Moms!

Tips agar si Kecil Mau Sikat Gigi

Apakah si Kecil termasuk anak yang susah untuk diajak sikat gigi? Yuk coba ikuti tips dari Mom Rae berikut ini.

Hentikan Kebiasaan Membandingkan Perkembangan si Kecil

Mungkin banyak dari Moms yang melakukan kebiasaan ini, namun ternyata membandingkan anak itu tidak baik lho Moms.

Bagaimana Agar Tidak Merasa Bersalah Meninggalkan Anak Untuk Bekerja?

Untuk mengurangi rasa bersalah kepada anak ketika ditinggal bekerja ada tipsnya berikut ini

Lakukan Hal Ini Ketika si Kecil Tidak Ingin Ditinggal

Jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda memasuki masa separation anxiety, coba atasi dengan melakukan hal ini.

Tips Hadapi Separation Anxiety pada Bayi

Si Kecil rewel Moms? Mungkin karena separation anxiety? Begini nih Moms cara atasinya

Tips Rumah Aman untuk si Kecil

Waspadai benda-benda di rumah yang dapat membahayakan si Kecil. Berikut tips rumah aman bagi si Kecil.

Bagaimana Jika Anak Dilabeli Nakal?

Bagaimana mengatasi anak yang dicap nakal oleh orang lain? Berikut cara mengatasinya ala Mom Fara

Tips Aman Meninggalkan Anak dengan Pengasuh

Meninggalkan anak dengan pengasuh membuat hati tidak tenang ya Moms. Berikut tips aman meninggalkan anak dengan pengasuh ala Mom Intan

Pengaruh Perilaku Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai macam hal, terutama oleh perilaku kita sebagai orang tua Moms.

Efek Psikologis Perceraian pada Anak

Tak hanya dirasakan oleh pasangan suami istri, ternyata perceraian juga memiliki dampak yang kuat terhadap anak.

Trik Agar si Kecil Mau Menggosok Gigi

Bagaimana caranya agar Si Kecil mau dan suka menggosok gigi? Yuk simak tips dari Mom Sarah berikut ini.

Normalkah Kalau Anak Tidak Bisa Diam?

Apa si Kecil susah diam? Bisa jadi hal tersebut menandakan bahwa ia adalah seorang anak yang hiperaktif.

Manfaat Membacakan Buku Sejak Bayi

Membaca buku sangat penting diperkenalkan pada si Kecil sejak usia dini. Apa saja manfaat dari membacakan buku untuknya?

Pentingnya Membiarkan Bayi Menjalani Fase Oral

Apa yang harus Moms lakukan saat si Kecil suka memasukkan benda apapun ke dalam mulutnya? Mom Kristiani membagikan tipsnya berikut ini.

Aktivitas yang Membahayakan Kepala Balita

Di masa transisinya, si Kecil terlihat senang membenturkan kepalanya. Di masa transisinya, si Kecil terlihat senang membenturkan kepalanya. Apa [...]