Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

5 Mitos Membesarkan Bayi Bilingual

GROWTH & DEVELOPMENT  |  PARENTING  |  18 Oct '18


Bilingual (dwibahasa) didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dua bahasa dengan lancar, baik lisan maupun tulisan. Biasanya bilingual lahir dan dibesarkan dalam dua budaya yang memiliki dua bahasa berbeda. Seperti misalnya, keluarga imigran asal Spanyol yang tinggal di Amerika Serikat biasanya memiliki keturunan yang mampu berbahasa Spanyol dan Inggris.

Ada beberapa mitos yang berkembang terkait membesarkan seorang anak dengan lebih dari satu bahasa. Terkadang, orang tua enggan melakukannya. Masyarakat menganggap hal itu dapat menyebabkan kebingungan dan keterlambatan dalam berbicara. Beberapa mitos paling umum dalam membesarkan seorang anak menjadi bilingual adalah sebagai berikut:

  1. Anak yang dibesarkan dengan lebih dari satu bahasa akan kebingungan
    Sejauh ini, mitos ini adalah yang paling umum dipercaya orang tua. Beberapa orang tua berpikir bahwa jika seorang anak terpapar dua bahasa pada saat yang sama, dia mungkin menjadi bingung dan tidak dapat membedakannya.

    Akan tetapi, seorang anak ternyata dapat membedakan macam-macam bahasa dari sejak lahir. Pengarang buku Raising a Bilingual Child, Barbara Zurer Pearson, mengatakan bahwa bayi akan dapat membedakan bahasa apalagi jika sangat berbeda, seperti misalnya bahasa Perancis dan Arab.

    “Dalam usia sangat muda, seorang bayi secara umum masih kesulitan membedakan dua bahasa yang sangat mirip, seperti bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Namun saat usianya 6 bulan, dia dapat membedakan kedua bahasa tersebut,” kata Pearson.

  2. Membesarkan anak menjadi bilingual menyebabkan keterlambatan bicara
    Beberapa anak yang dibesarkan secara dwibahasa memang butuh waktu lebih lama untuk mulai berbicara jika dibandingkan dengan mereka yang dibesarkan dalam rumah tangga yang hanya menggunakan satu bahasa. Penundaan itu sementara dan menurut para ahli bukan menjadi aturan umum.

    Sayangnya, orang tua yang mengemukakan kekhawatiran tentang perkembangan bicara anak dwibahasa mereka sering diminta untuk menggunakan satu bahasa. Ini terjadi karena di masa lalu, bilingualisme dianggap sebagai pelaku dalam masalah perkembangan bahasa.

    "Penelitian menunjukkan bahwa bilingualisme tidak menyebabkan keterlambatan dalam berbicara atau akuisisi bahasa," kata Ellen Stubbe Kester, presiden Bilinguistics, yang menawarkan layanan bahasa bilingual di Austin, Texas.

    Bahkan jika anak Anda telah didiagnosis dengan suatu gangguan keterlambatan bicara, membesarkannya secara bilingual tidak akan membuat kemampuan berbicaranya lebih tertunda lagi.

    "Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak dengan keterlambatan bahasa yang berada di lingkungan bahasa ganda mendapatkan bahasa pada tingkat yang sama seperti di lingkungan monolingual," kata Kester.

  3. Anak-anak bilingual pada akhirnya akan mencampur dua bahasa
    Mencampur bahasa tidak dapat dihindari dan tidak berbahaya. Tetapi bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan bilingualisme, ini adalah bukti bahwa anak itu tidak dapat benar-benar membedakan kedua bahasa tersebut.

    Sebagian besar anak-anak yang dibesarkan dwibahasa berusaha mencampur ketika mereka memilah kedua bahasa. Selain itu, salah satu bahasa sering memiliki pengaruh yang lebih kuat pada anak daripada yang lain. Anak-anak yang memiliki kosakata yang lebih kecil dalam bahasa minoritas dapat menggunakan kata-kata dari bahasa mayoritas sesuai kebutuhan.

    Para ahli sepakat bahwa pencampuran bersifat sementara. Pada akhirnya, pencampuran dalam berbahasa itu akan hilang saat kosakata anak berkembang dalam kedua bahasa dan dia lebih terpapar pada masing-masing bahasa.

    Pada kenyataannya, dwibahasawan dari segala usia mencampur bahasa mereka juga (dikenal sebagai code switching). Contohnya adalah penggunaan Spanglish (pencampuran bahasa Inggris dan Spanyol) oleh Latinos di Amerika Serikat.

    "Kadang-kadang orang melakukannya karena mereka tidak tahu kata yang mereka butuhkan dalam bahasa yang mereka bicarakan," kata Pearson. "Beberapa orang mencampurkan bahasa dengan sengaja karena mereka lebih menyukai kata atau frasa dalam bahasa lain.”

    Anak-anak meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Jadi, jika si Kecil tinggal di lingkungan yang memiliki norma bahasa campuran, adalah tidak realistis mengharapkan si Kecil untuk tidak melakukannya juga.

  4. Sudah terlambat untuk membesarkan si Kecil dengan dua  bahasa
    Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu dini untuk memperkenalkan si Kecil ke bahasa kedua. "Mempelajari bahasa kedua lebih mudah untuk anak di bawah 10 tahun, dan bahkan lebih mudah bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun, dibandingkan dengan usaha yang jauh lebih besar yang dibutuhkan orang dewasa," kata Pearson.

    Waktu yang optimal, menurut para ahli, tampaknya sejak lahir hingga 3 tahun – tepat ketika seorang anak sedang mempelajari bahasa pertamanya, dan pikirannya masih terbuka dan fleksibel.
    Waktu terbaik berikutnya untuk mempelajari bahasa kedua tampaknya ketika anak-anak berusia antara 4 dan 7 tahun, karena mereka masih dapat memproses beberapa bahasa pada jalur paralel. Dengan kata lain, mereka membangun sistem bahasa kedua di samping yang pertama dan belajar untuk berbicara kedua bahasa seperti penduduk asli tempat bahasa tersebut berasal.

    Jika si Kecil lebih tua dari 7 tahun dan Moms berpikir untuk membesarkannya dengan dua bahasa, Moms masih belum terlambat. Waktu terbaik ketiga untuk mempelajari bahasa kedua adalah mulai dari usia 8 hingga pubertas. Setelah pubertas, penelitian menunjukkan bahwa bahasa baru disimpan di area otak yang terpisah, sehingga anak-anak harus menerjemahkan atau melalui bahasa asli mereka sebagai jalan menuju bahasa baru.

    "Kami mendengar begitu banyak tentang 'jendela kesempatan' khusus bagi anak-anak untuk belajar dua bahasa yang dapat membuat anak yang lebih tua kecewa," kata Pearson. "Memang benar bahwa lebih mudah untuk memulai lebih awal, tetapi orang-orang dapat belajar bahasa kedua bahkan setelah ‘jendela’ itu ditutup."

  5. Anak-anak bagaikan spons yang akan menjadi bilingual tanpa usaha dan dalam waktu singkat
    Meskipun lebih mudah bagi anak-anak untuk belajar bahasa baru sedini mungkin mereka terpapar bahasa tersebut, proses belajar itu tidak seperti “osmosis”. Adalah tidak realistis mengharapkan si Kecil untuk belajar bahasa Spanyol dengan menonton episode Dora the Explorer yang tak terhitung jumlahnya di televisi.

    Mempelajari bahasa tidak harus menjadi tugas. Akan tetapi, memperkenalkan bahasa kedua kepada si Kecil memang membutuhkan semacam struktur, dan yang paling penting konsistensi, apakah melalui percakapan sehari-hari atau instruksi formal. Pada intinya, si Kecil harus diekspos pembelajaran bahasa dengan cara yang berarti, menarik, dan terhubung dengan kehidupan nyata.

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

1023 Babyologist Indonesia

Comments

Related Stories

LATEST POSTS

Dampak Positif Tantrum pada si Kecil

Tantrum ada manfaatnya? Benarkah demikian? Yuk simak yang berikut ini.

Cara Stimulasi Agar Anak Cepat Berjalan

Bagaimana caranya untuk menstimulasi si Kecil agar cepat berjalan? Yuk simak cerita berikut ini!

Manfaat Berenang Untuk si Kecil

Moms, udah kangen ajak si Kecil berenang? Sabar ya, tunggu pandemi berakhir. Simak manfaat berenang berikut ini yuk!

Beberapa Ide Bermain Saat Social Distancing

Saat social distancing seperti sekarang ini, ajak si Kecil germain yuk Moms and Dads!

Tertarik Menyekolahkan Anak di Sekolah Alam? Ini Plus Minusnya!

Sekolah alam tentunya berbeda dengan sekolah formal, mulai dari kurikulum, suasana hingga metode pembelajarannya.

Plus Minus Menggunakan White Noise

Tingkah laku si Kecil memang unik-unik ya, Moms? Kadang mengundang gelak tawa, tapi terkadang juga membuat jengkel.

Apa sih Pengaruh Seorang Ayah terhadap Anak?

Bagi semua orang, merawat anak selalu menjadi tanggung jawab bagi para ibu, karena mereka semua berpikir bahwa laki-laki bekerja mencari nafkah [...]

Tips Mengenalkan Alphabet pada Anak

Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengenalkan anak pada alphabet dengan cara. Apa saja itu?

Mengajarkan Kedisiplinan Tidur pada Anak

Adakah cara bagaimana agar anak bisa tidur tenang semalaman dan mungkin bisa tidur dan bangun teratur di jam yang sama?

Bermain dengan Stiker Banyak Manfaatnya Lho

Stiker itu bisa jadi alat bermain dan belajar yang menyenangkan dengan anak-anak lho. Apa saja manfaatnya?

Amankah Batita Bermain Pasir?

Apa hal positif dan risiko membiarkan anak bermain pasir?

Kemandirian Anak Muncul Melalui Metode Montessori

Telah banyak yang mengetahui bahwa metode belajar montessori memiliki beragam banyak manfaat bagi anak.

Main di Rumah VS Main di Luar Rumah

Moms kelompok mana? Suka si Kecil main di dalam rumah atau di luar rumah? Yuk simak cerita Mom Fiko berikut ini

Tips agar Anak Bisa Anteng Saat Bermain atau Dibacakan Buku

Moms si Kecil susah sekali duduk anteng saat main dan membaca? Yuk simak tips ala Mom Wahyu untuk mengatasinya

Komunikasi dengan si Bayi Yuk!

Walau belum bisa bicara & mengerti apa yang kita bicarakan, tapi bayi sudah bisa diajak berkomunikasi lho.

Pentingnya Sosialisasi pada Tumbuh Kembang Anak

Penting bagi anak untuk belajar bersosialisasi agar ia mulai belajar memikirkan orang lain selain diri sendiri.

Simak dan Pelajari Cara agar Bayi Tidak Rewel Waktu Mau Tidur

Mengapa si Kecil menjadi rewel setiap kali waktunya tidur dan bagaimana cara mengatasinya?

Ciri Anak Sehat Tidak Dilihat dari Fisiknya Saja

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga sangat penting bagi pertumbuhan si Kecil loh Moms!

Montessori Play: DIY Membuat Playdough di Rumah

Metode Montessori bisa Moms terapkan di rumah lho, dengan membuat DIY Playdough untuk si Kecil.

Perlukah Memakai Pagar Bayi?

Baby fence lagi happening banget ya Moms. Tapi, sebenarnya seberapa perlu sih penggunaan pagar bayi ini?