Manufacturers

Suppliers

  • 120
  • 15
  • 160
  • 25
  • 400

3 Dasar Perlindungan & Tumbuh Kembang Anak, Dancow Iya Boleh

FEEDING  |  GROWTH & DEVELOPMENT  |  HEALTH TIPS  |  02 Apr '19


Setiap orang tua pasti mendambakan anak yang cerdas, sehat dan periang. Namun apakah kita sudah mengetahui langkah yangtepat untuk mencapai hal tersebut?

Pada hari Jumat (7/2), saya diajak oleh Dancow untuk belajar dan mencari tahu lebih dalam lagi soal peran orang tua terutama tugas dan kewajban seorang ibu untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil. Tak hanya soal perkembangan fisiknya saja namun juga perkembangan akal dan mental anak.

Dr. dr. Ray W. Basrowi, MKK sebagai Head of Medical and Nutrition Services PT Nestle Indonesia menyampaikan sebuah hasil penelitian tentang kondisi anak Indonesia yang mengalami kekurangan berat badan yang memprihatinkan. Hal ini juga menjadi warning bagi saya pribadi.

Sebanyak 17,7% atau 2 dari 10 balita di Indonesia ternyata mengalami kekurangan berat badan ideal. Moms penting untuk mengontrol berat badan anak setiap bulan lantaran masalah ini jika dibiarkan akan menggangu kemampuan metabolisme tubuh si Kecil di kemudian hari. Kunjungi Posyandu terdekat setiap bulan untuk mengetahui apakah berat badannya sudah ideal atau belum.

Fakta berikutnya, 28,1% atau 3 dari 10 anak balita mengalami anemia defisiensi besi. Anemia yaitu kekurangan sel darah dalam tubuh yang bertugas mengangkut oksigen di otak. Anemianya saja sudah mengerikan ya apalagi  anemia defisiensi besi artinya kekurangan zat besi, sementara zat besi tugasnya yaitu mengikat oksigen sebagai makanan utama otak. Jadi bisa dibayangkan bukan jika anak kekurangan zat besi dan sel darah? Jangankan riang, bergerak saja enggan. Lunglai dan tak bergairah.

28,1% atau 3 dari 10 anak balita mengalami anemia defisiensi besi.

Tak cukup sampai disitu, permasalahan lain yang belakangan terus disoroti yakni soal stunting pada anak. Data menunjukan, 0,8% atau 3 dari 10 anak di Indonesia mengalami permasalahan stunting. Moms, stunting atau kerdil tak hanya pendek tapi juga semua perkembangannya tidak sesuai dengan umur biologisnya. Anak stunting memiliki lingkar kepala yang lebih kecil daripada anak yang normal.  Dr. Ray memaparkan, khawatirnya anak-anak yang mengalami stunting pada 5 tahun pertama kehidupan, otaknya tidak berkembang dengan baik. Lebih lanjut, beliau menggambarkan bahwa anak dengan permasalahn stunting sulit berprestasi bahkan berpengaruh pada karirnya di masa depan. Sedih hati saya mendengarnya.

3 Dasar Perlindungan dan Tumbuh Kembang Anak

Ketiga masalah di atas memiliki korelasi yang erat dengan asupan gizi dan nutrisi yang diberikan pada anak. Tak hanya hari ini, dampaknya akan terus berkelanjutan. Apalagi anak-anak di Indonesia juga rentan terserang ISPA dan diare. Anak yang sering batuk dan mengalami gangguan saluran pernapasan akan terganggu perkembangannya. Sementara, anak yang terserang diare artinya mereka tidak memiliki cukup perlindungan pada saluran cernanya. Padahal 80% metabolisme manusia berada pada salura cerna.

Duh repot ya, kita menginginkan anak bergerak aktif dan menikmati proses eksplorasinya tapi ada banyak tantangan yang kalau dipikirin kok njlimet rasanya. Apalagi saat Dr. Ray mengatakan,  anak yang lebih banyak bermain di luar rumah ternyata memiliki risiko terkena penyakit 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya diam di rumah. Lalu apa yang harus dilakukan?

Tenang ya Moms, Dr. Ray kemudian memberikan tips yang dapat dilakukan bagi para orang tua untuk mendukung tumbuh kembang anak tanpa rasa khawatir, di antaranya:

  1. Nutrisi: Memberikan makanan dengan zat gizi dan nutrisi yang baik.
  2. Stimulasi: Memberikan stimulasi, biarkan anak bermain, karena bermain merupakan proses belajar anak.
  3. Cinta: Curahkan kasih sayang dan rasa cinta dari orang tua untuk melindungi tumbuh kembang si kecil.

Artinya bermain bagi anak-anak itu “harus” loh Moms. Belajar bagi anak-anak dan orang dewasa itu berbeda. Bermain dan bereksplorasi merupakan cara belajar alami bagi mereka. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan untuk memastikan perlindungan anak sebelum ia bermain. Sebelum bereksplorasi, kita lindungi terlebih dahulu status nutrisi si Kecil dengan memberikan asupan makanan yang bergizi dan kaya akan nutrisi. Salah satunya yaitu dengan menjaga bakteri baik yang ada pada saluran cerna, karena 80% metabolisme tubuh berada pada saluran cerna.

Selain dari makanan, bakteri baik juga dapat diperoleh dari susu pertumbuhan anak karena susu pertumbuhan dilengkapi dengan zat gizi yang penting untuk tumbuh kembang seperti kalsium yang yang berperan untuk membangun dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. Serta protein sebagai komponen esensial dalam tumbuh kembang anak. Moms, semua sel tubuh seperti jantung, komponen utamanya yaitu Protein, dan protein yang baik yaitu yang berasal dari protein hewani.

Berikutnya, susu pertumbuhan juga mengandung DHA, Omega 3 dan Omega 6 yang bagus untuk mendukung proses belajar anak. Disempurnakan juga dengan Vitamin C, B1, B3, B6, Biotin, B12, magnesium, zat besi dan zink untuk mendukung fungsi normal dari sistem saraf dalam tubuh.

Dukungan Cinta Orang Tua Mengoptimalkan Potensi si Kecil

Dra. Ratih Ibrahim, M.M., seorang Psikolog dan Boards Parenting Center secara paralel menjelaskan tentang stimulasi yang tepat untuk anak-anak. Kita ingat ya Moms, 3 dasar perlindungan dan tubuh kembang anak di antaranya adalah nutrisi, stimulasi dan cinta orang tua.

Contohnya, saat anak memasuki usia 1 tahun, si Kecil akan melebarkan ruang geraknya untuk berekplorasi. kita harus mendorong eksplorasinya karena ruang belajar anak akan semakin luas, manfaatnya anak mampu belajar lebih banyak, skill motorik meningkat dan anak menjadi lebih percaya diri.

Bagaimana caranya untuk mendukung tahap eskplorasi anak? Sangat sederhana yaitu dengan  keterlibatan orang tua untuk memberikan akses bagi anak-anaknya untuk berekplorasi dengan mengatakan “Iya Boleh”. Hal ini sejalan dengan program Dancow dalam Gerakan 1 Juta “Iya Boleh” bagi orang tua di Indonesia dalam rangka turut menyukseskan program Pemerintah untuk mencetak Anak Unggul Indonesia yang berani, cerdas, kreatif, peduli dan pemimpin.

Dra. Ratih kemudian memberikan contoh aktivitas untuk si kecil bereksplorasi sesuai dengan 5 potensi Anak Unggul di antaranya:

  1. Berani: Ajak anak bermain di alam terbuka sehingga ia berani untuk melakukan hal baru seperti feeding animal, memegang rumput dan lainnya.
  2. Cerdas: Memberikan permainan yang dapat menstimulasi kinerja otaknya seperti bermain balok susun.
  3. Kreatif: Berikan akses pada si Kecil untuk menuangkan ide kreatifitasnya melalui coretan pada kertas, bermain cap tangan, mewarnai, melukis dan lainnya.
  4. Peduli: Rasa peduli ini perlu sekali ditanamkan sejak dini. Peduli terhadap orang lain, memiliki rasa simpati dan empati serta ada keinginan untuk menolong sesama. Rasa peduli dapat dilatih dengan cara memelihara binatang peliharaan. Atau saya pribadi biasanya dengan mengajak Nafeesa mengunjungi teman-temannya di panti asuhan atau meminta bantuan Nafeesa untuk memberikan makanan kepada teman mainnya.
  5. Kepemimpinan: Membiasakan anak untuk merapikan mainan termasuk cara untuk melatih kepimpinannya.

Tips Mengatakan “Iya Boleh”

  • Pastikan si Kecil sudah siap bereksplorasi secara fisik dan mental.
  • Orang tua ikut terlibat, baik itu ikut bermain bersama atau mengamati dari kejauhan.
  • Memastikan semua aspek sudah aman, si Kecil dan lingkungan juga aman dan tidak membahayakan.

 

Semoga bermanfaat.

By: Cici Desri

Copyright by Babyologist

Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!

287 Cici Desri

Comments

Related Stories